Kain Tenun Ulap Doyo Khas Kalimantan Timur yang Mendunia

Oleh Switzy Sabandar pada 23 Sep 2022, 06:00 WIB
Diperbarui 23 Sep 2022, 06:00 WIB
Ilustrasi Peta Kalimantan
Perbesar
Ilustrasi Peta Kalimantan Timur. Sumber foto: Shutterstock/Schwabenblitz.

Liputan6.com, Samarinda - Kalimantan Timur menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keunikan kain pada coraknya, yakni ulap doyo. Kain ulap doyo merupakan kain khas Kalimantan Timur buatan Suku Dayak Benuaq, Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai, Samarinda, Kalimantan Timur.

Tenun ulap doyo diperkirakan telah ada di Kalimantan Timur sebelum abad ke-17. Kain ini cukup populer sejak masa Kerajaan Hindu-Buddha pertama di Indonesia, yakni Kerajaan Kutai.

Kata 'ulap' dalam bahasa setempat berarti kain, sedangkan 'doyo' diambil dari nama tanaman yang menjadi bahan pembuatnya, yakni curliglia latifolia atau daun doyo. Tanaman ini memiliki ciri mirip pandan yang berserat kuat serta tumbuh liar di pedalaman Kalimantan, seperti di Tanjung Isuy, Jempang, dan Kutai Barat.

Mengutip dari situs Indonesia Kaya, tahapan pembuatan proses kain ulap doyo dimulai dari mengeringkan daun doyo yang akan digunakan sebagai bahan baku. Selanjutnya, daun tersebut disayat mengikuti arah serat hingga menjadi serat yang halus.

Kemudian, serat-serat tersebut dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar. Selanjutnya, proses dilanjutkan pada pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami.

Umumnya, ulap doyo dibuat dalam warna merah yang berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Namun, ada juga kain ulap doyo berwarna cokelat yang warnanya diperoleh dari kayu uwar.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:


Ragam Motif Kain Ulap Doyo

Kain yang sudah eksis sejak berabad-abad silam ini memiliki beragam motif dan corak. Motif kain khas Kalimantan Timur ini bisa berupa flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam.

Selain itu, juga terdapat motif yang menggambarkan peperangan antara manusia dengan makhluk mitologi, limar (perahu), timang (harimau), tangga tukar toray (tangga rebah), jautan nguku (awan berarak), waniq ngelukng (sarang lebah), dan lainnya. Selain memiliki motif yang beragam, kain yang satu ini juga bisa dikenakan dengan berbagai cara.

Tenun ulap doyo bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Umumnya, kain ini dikenakan dalam upacara adat, tari-tarian, ataupun dalam kehidupan sehari-hari Suku Dayak Benuaq.

Pada zaman kerajaan, motif kain tenun ulap doyo menandakan status sosial seseorang, mengingat masyarakat Dayak Benuaq dulu kental dengan budaya Hindu. Sebut saja motif jautan nguku (awan berarak) yang dikenakan kaum bangsawan dan motif waniq ngelukng (sarang lebah) yang dikenakan oleh rakyat biasa.

Warna pada kain tenun ini pun mempunyai peruntukannya masing-masing. Kain tenun berwarna dasar hitam biasanya digunakan untuk pakaian sehari-hari, sedangkan kain tenun dengan warna dan pola beragam digunakan untuk upacara adat dan acara penting lainnya. 

 


Kepopuleran Kain Tenun Ulap Doyo

Keunikan dan keindahan kain ini juga telah membuat sejumlah desainer ternama untuk mengkreasikannya. Kain tenun ulap doyo disulap menjadi tampak lebih modern, kekinian, dan bisa menjadi padu padan busana sehari-hari.

Sebut saja Billy Tjong yang merilis koleksi busana berbahan tenun doyo beberapa tahun lalu. Selanjutnya, perancang busana senior, Itang Yunasz, yang mengangkat keindahan kain tersebut untuk salah satu koleksinya pada 2015.

Disainer terkenal Indonesia lainnya, seperti Ian Adrian dan Defrico Audy, bekerjasama dengan Bupati Kutai Kartanegara memamerkan ragam motif tenun ulap doyo dalam balutan fesyen yang lebih modern di acara Jakarta Fashion Week 2012. Kemudian, di tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menobatkan kain tenun ulap doyo menjadi Warisan Budaya Tak Benda.

Tak hanya itu, keindahan tenun ikat khas Kalimantan Timur ini berhasil menarik perhatian desainer ternama rumah mode Dolce & Gabbana dan Biagio Belsito. Pada 2018, Istituto di Moda Burgo Jakarta kedatangan desainer Italia tersebut dan memperagakan teknik drapping menggunakan kain tenun ulap doyo di salah satu gaun rancangannya.

 

Penulis: Resla Aknaita Chak

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya