Ajakan Menjelajahi Purbalingga di Masa Lampau lewat Pertunjukan Kesenian Jawa Purba

Oleh Switzy Sabandar pada 17 Agu 2022, 15:30 WIB
Diperbarui 17 Agu 2022, 15:30 WIB
Kesenian Jawa Purba
Perbesar
Sejumlah penampil berlatih untuk persiapan acara Kesenian Jawa Purba yang digelar selama 21 jam atau dua hari satu malam di Desa Sidareja Purbalingga Jawa Tengah, Sabtu sampai Minggu (20-21/8/2022).

Liputan6.com, Purbalingga - Kesenian Jawa Purba akan digelar selama 21 jam atau dua hari satu malam di Desa Sidareja Purbalingga Jawa Tengah, Sabtu sampai Minggu (20-21/8/2022). Sebanyak 12 kelompok seni dengan 228 partisipan bakal memeriahkan perhelatan yang sarat nilai sejarah dan budaya ini.  

Kesenian Jawa Purba Desa Sidareja bakal menyajikan pengalaman unik untuk kembali ke kapsul waktu suasana Jawa tempo dulu. Para pengunjung diminta untuk berpakaian ala Banyumasan atau bergaya jarit lancingan yang diadaptasi dari orang nderes atau mengambil air nira yang banyak dilakoni warga desa Sidareja di masa lampau.

Perhelatan ini dibagi menjadi tiga tahap seni pertunjukan, yakni Napak Tilas Jawa Purba dengan memperkenalkan beberapa tempat yang dekat dengan legenda desa seperti Petilasan Batu Peninisan dan Petilasan Batu Jaran, lalu Malam Kesenian Jawa Purba, serta pertunjukan Kebhinnekaan Jawa Purbanya.

“Salah satu tujuan diadakannya Kesenian Jawa Purba adalah untuk mengingatkan kita bahwa manusia di masa kini tidak terlepas dari sejarah manusia terdahulu,” ujar Gita Thomdean penggagas acara yang juga merupakan pegiat Seni Kie Art di Sidareja.

Kesenian Jawa Purba juga ingin mengajak pengunjung dari luar kota untuk melihat budaya lokal yang diperlihatkan dari bahasa yang digunakan dengan bahasa ngapak atau panginyongan serta menunjukkan bahasa ini tetap dilestarikan di Sidareja.

Dalam perhelatan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat desa ini, ada pula Pameran Seni Rupa Anak Desa, Sajian Makanan Jawa Purba dengan mempertunjukkan beberapa makanan tradisional yang telah ada berabad lamanya dan tertuliskan dalam beberapa prasasti, relief candi, pararathon, dan serat-serat lainnya

Menruut Slamet Santosa ketua panitia dan juga pegiat seni Kie Art, Kesenian Jawa Purba memakai kata Purba yang diambil dari nama kota tercinta yaitu Purbalingga. Purba juga sebagai lambang penghormatan warga desa Sidareja terhadap leluhur terdahulu, pada zaman Kerajaan Galuh Purba yang merupakan kerajaan tertua di pulau Jawa.

Dalam sejarahnya wilayah Purbalingga termasuk dalam area kekuasaan Kerajaan Galuh Purba yaitu pada 1 - 6 Masehi. Di Purbalingga telah ditemukan dua prasasti dan yang membuktikan bahwa terdapat peradaban tua di sini.

Konsep event ini terlahir dari Gita Thomdean yang juga merupakan pegiat Seni Kie Art di Sidareja. Suminto selaku kepala desa berikut jajaran pemerintah Desa Sidareja menyambut hangat perhelatan ini dan berharap bisa memberikan efek domino bagi pelestarian budaya dan juga ekonomi masyarakat desa. Kesenian Jawa Purba juga didukung para sesepuh kelompok seni desa seperti Nurcholis Wijianto, Admin Budiarjo, Sukirno, Harto, Miarjo, Samsul Hidayat, Royo , Fauzan, dan Sukirman.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya