Asa Tukang Kebun dan Anak Tukang Jahit di Banten Meraih Pendidikan Tinggi

Oleh Yandhi Deslatama pada 18 Agu 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 18 Agu 2022, 18:00 WIB
Daud Tukang Kebun (Kiri) dan Fahad Miftahudin Anak Tukang Jahit (Kanan)., ditemui Di Kampusnya. (Rabu, 17/08/2022). (Liputan6.com/Yandhi Deslatama).
Perbesar
Daud Tukang Kebun (Kiri) dan Fahad Miftahudin Anak Tukang Jahit (Kanan)., ditemui Di Kampusnya. (Rabu, 17/08/2022). (Liputan6.com/Yandhi Deslatama).

Liputan6.com, Serang - Daud namanya, kini dia berusia 22 tahun. Dia merupakan warga Carenang, Kabupaten Serang, Banten. Tiga tahun lalu hanyalah seorang remaja yang kerap membantu orangtuanya di sawah dan menjadi tukang kebun harian.

Satu tahun lamanya atau usai lulus SMA, tak terpikir olehnya untuk berkuliah. Hal ini lantaran keterbatasan ekonomi. Dia memilih untuk membantu orangtuanya mencari penghasilan, agar dapurnya tetap mengebul. Karena rajin dan telaten, saat menjadi tukang kebun, dia ditawari seseorang untuk berkuliah dan mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus.

"Saya kan sering bantuin di rumahnya, ngebantuin kadang bersih-bersih rumputnya gitu, rumahnya di Carenang juga. Abis itu ditawarin, katanya ada beasiswa di kampusnya Bu Neneng, mau diambil apa enggak. Kata saya iya enggak apa-apa diambil saja kalau ada kesempatan, ya sudah diambil," ujar Daud, ditemui di kampusnya, di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten, Rabu (17/08/2022).

Dia pun memilih tinggal di kampus, ruangan BEM atau UKM menjadi tempatnya melepas lelah pada malam hari. Mahasiswa semester enam dengan jurusan Keuangan Perbankan ini mengaku untuk memenuhi kebutuhan hariannya, seperti makan, dia membantu karyawan di ITB Banten yang membutuhkan tenaganya.

Jika masih ada uang tersisa, dia gunakan untuk ongkos pulang ke rumahnya, jika tidak ada tebengan untuk pulang kampung. Lantaran bapaknya tinggal seorang diri.

"Pulang seminggu sekali, kadang sama teman pulangnya, nebeng naik motor. Kalau enggak ada tebengan enggak pulang dulu, karena enggak ada ongkos. Makanya Alhamdulillah ada saja, kalau membantu foto copy di depan, jadi ada uang," dia menjelaskan.

Daud bercerita, bapaknya kini sudah berusia 62 tahun. Dulu dia tinggal seorang diri, sudah beberapa bulan ini, kakaknya memilih menemani orangtuanya yang sudah tua itu. Ibunya sudah meninggal pada 2012 silam.

"Harapannya bisa kerja di bank, sesuai jurusan. Biar bisa bantu orangtua juga di rumah," tuturnya.

Senasib sepenanggungan, Fahad Miftahudin (20) juga harus berjuang lebih untuk merasakan bangku kuliah di Ibu Kota Banten. Junior dari Daud yang kini duduk di semester empat ini bercerita, orangtuanya dulu bekerja di sebuah perusahaan konveksi.

Namun, semenjak pandemi Covid-19 menerpa, orangtuanya tidak lagi bekerja dan hanya mengandalkan warga sekitar Pontang, Kabupaten Serang, Banten, yang membutuhkan jasa menjahit.

"Sejak awal pandemi sampai sekarang enggak kerja, ibu mah ibu rumah tangga, mengurus rumah. Alhamdulillah tiap ada orang yang mau ngejahit, Alhamdulillah ada saja gitu, sekarang ngejahitnya di rumah," ujar Fahad, juga ditemui di kampusnya, Rabu (16/08/2022).

Dia bercerita bisa berkuliah dan mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus usai ditawari pamannya yang melihat spanduk di pinggir jalan. Dengan biaya seadanya, dia mendaftar dan beruntung bisa diterima kuliah di ITB Banten, disertai berbagai sertifikat penghargaan yang dia punya.

Di sela-sela waktu senggangnya berkuliah, Fahad membantu ekonomi keluarganya. Lantaran sebagai anak pertama, dia ingin adiknya yang kini kelas 1 SMP tetap bisa bersekolah. Apa pun pekerjaan yang bisa menghasilkan cuan, akan dikerjakannya.

Saat berkuliah, Fahad harus menahan keinginannya untuk jajan. Dia memilih membawa bekal masakan ibunya dan menaruh air minum di tasnya untuk menghemat biaya.

"Pulang pergi tiap hari, kadang ada teman yang mengajak ya sama teman, sama saudara juga, terus naik angkot juga bolak balik. Paling ongkos sama minum saja. Itu dibawain bekel dari rumah," tuturnya.

Sama seperti Daud, usai lulus diploma tiga, dia ingin bekerja di perbankan untuk memperbaiki taraf perekonomian keluarga, agar kedua orangtuanya tidak lagi merasa susah pada saat tua nanti.

"Setelah lulus mau pengin (kerja) kaya di bank, sesuai jurusan di sini keuangan," ucapnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Kata Ketua Yayasan ITB Banten

Ketua Yayasan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Banten, Yayan Alfian bercerita, awalnya perguruan tinggi yang dia dirikan bernama Akademi Akutansi dan Perbankan Indonesia (AAKPI) di tahun 2009, lantaran dia prihatin minimnya tenaga akutansi dan keuangan di Banten.

Ditambah, belum meratanya pendidikan di Banten kala itu. Bangku kuliah dirasa masih mahal oleh sebagian orang kurang mampu untuk melanjutkan jenjang pendidikan.

"Jadi dasarnya saya bikin yayasan pendidikan itu, untuk turut serta membangun Banten dari sisi sumber daya manusianya lah," ujar Ketua Yayasan ITB Banten, Yayan Alfian, melalui selulernya, Selasa (16/8/2022).

Yayan berterus terang hanya memiliki 450 mahasiswa untuk program diploma 3 di kampusnya. Kemudian, ada ratusan mahasiswa yang telah diberikan beasiswa melalui berbagai program, baik dari pemerintah maupun berasal dari keuangan kampus.

Dia bercerita menyeleksi ketat mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Selain persyaratan administrasi, ada tim khusus yang datang langsung ke rumah mahasiswa calon penerima beasiswa.

"Jadi ada yang kita berikan beasiswa penuh, ada yang 75 persen, ada juga yang 50 persen. Jadi kita pilah dulu. Kalau jujur, kampus memiliki keterbatasan, tapi kita subsidi silang," dia menandaskan.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya