Mengenal 4 Pahlawan Perempuan dari Yogyakarta yang Tak Kalah Tangguh

Oleh Tifani pada 16 Agu 2022, 10:00 WIB
Diperbarui 16 Agu 2022, 10:00 WIB
Nyi Ageng Serang
Perbesar
Raden Ayu (Nyai Ageng) Serang, lukisan khayali Anyool Subroto. Diambil dari buku Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX hlm. 34.

Liputan6.com, Yogyakarta - Para pejuang bukan hanya dari kalangan kaum pria, para perempuan juga turut ambil bagian. Peran para pahlawan perempuan ini juga beragam, mulai dari menggunakan kepintarannya atau bahkan kemampuannya mengangkat senjata.

Ada empat pahlawan perempuan dari Yogyakarta yang kisah perjuangnnya cukup tersohor. Dikutip dari berbagai sumber, berikut sederet pahlawan perempuan Yogyakarta.

1. Nyai Ahmad Dahlan

Nyai Ahmad Dahlan bernama asli Siti Walidah. Ia lahir di Yogyakarta pada tahun 1872.

Nyai Ahmad Dahlan sering mengobarkan semangat kepada generasi muda untuk berjuang di Tanah Air. Ia adalah istri KH Ahmad Dahlan, seorang ulama sekaligus pelopor kebangkitan umat Islam.

Pasangan suami istri ini mendirikan organisasi Muhammadiyah. Nyai Ahmad Dahlan juga sering memberikan pengajaran kepada perempuan dengan menyelenggarakan sekolah-sekolah putri.

Nyai Ahmad Dahlan ikut andil berdiskusi tentang perang bersama Jenderal Soedirman dan Presiden Soekarno. Atas jasa-jasanya, Nyai Ahmad Dahlan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 22 September 1971.

2. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang, atau yang memiliki nama kecil Raden Ajeng Retno Kursiah Edi. Ia lahir di Serang pada tahun 1762.

Ayahnya merupakan Pangeran Ronggo Seda Jajar yang dijuluki Panembahan Senopati Notoprojo. Diketahui, Pangeran Notoprojo menguasai wilayah terpencil Kerajaan Mataram, lokasinya di wilayah Serang, perbatasan Grobogan-Sragen.

Nyi Ageng Serang juga merupakan keturunan Sunan Kalijaga. Meskipun Nyi Ageng Serang seorang perempuan, ia kerap mengikuti pelatihan militer bersama para prajurit pria.

Nyi Ageng Serang juga tak gentar untuk maju berperang melawan Belanda pada Perang Diponegoro tahun 1825 sampai 1830. Nyi Ageng pernah memimpin pasukan untuk melawan Belanda karena ayahnya sudah lanjut usia dan saudara laki-lakinya gugur.

Nyi Ageng Serang bahkan diangkat oleh Pangeran Diponegoro menjadi seorang penasihat saat berusia 73 tahun karena kehebatannya. Ia meninggal pada tahun 1828 karena kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.

Atas dasar jasa-jasanya itu, Nyi Ageng Serang diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada 13 Desember 1974.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:


Ahli Stenografi

3. Oemiyah dan Ngaisyah

Nama Oemiyah dan Ngaisyah mungkin masih asing di telinga, tapi perannya dalam merebut kemerdekaan tak perlu diragukan. Keduanya adalah ahli stenografi yang bekerja di Jawatan Pos Telepon Telegraf (PTT), lembaga telekomunikasi resmi semasa pendudukan Jepang.

Bekerja di PTT adalah bagian dari penyamaran mereka. Keduanya berperan bagi kemerdekaan Indonesia dengan cara menyadap pesan-pesan Jepang yang menggunakan kode rahasia.

Pesan-pesan ini kemudian disampaikan pada kelompok perlawanan bawah tanah Pemuda Pathuk (PP) sebagai taktik melawan Nippon. Mereka bahkan jarang pulang ke rumah demi bisa menyadap pesan tentara penjajah tersebut.

Puncaknya, Ngaisyah dan Oemiyah menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan bendera Indonesia di atap Gedung Agung Yogyakarta pada September 1945. Pada saat itu, suasana cukup genting karena ada demonstrasi besar menuntut penurunan bendera Jepang.

Aksi ini berjalan lancar berkat kedua srikandi tersebut walau banyak serdadu Jepang menunggu di luar.

4. Fatimah Siti Hartinah

Hj Fatimah Siti Hartinah lahir pada 23 Agustus 1923 di Desa Jaten, Surakarta. Ia merupakan istri Presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Ia lebih dikenal dengan nama Tien Soeharto. Selama menjadi ibu negara ia memiliki andil dalam membenahi Istana Negara dan Istana Merdeka di Jakarta dengan cara menambahkan unsur-unsur Nusantara.

Tak hanya itu, lukisan karya pelukis asing yang terpampang di istana pun ia ganti dengan lukisan-lukisan karya pelukis Indonesia. Ibu Tien memang memiliki tujuan untuk menghidupkan budaya Nusantara.

Hal itu ia wujudkan pula dengan membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ibu Tien diberikan gelar Pahlawan Nasional pada 30 Juli 1996.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya