Bukan Sekadar Seru-Seruan, Ini Sejarah dan Makna di Balik Lomba 17 Agustus

Oleh Switzy Sabandar pada 10 Agu 2022, 07:00 WIB
Diperbarui 10 Agu 2022, 07:00 WIB
Ceria Kecil Lomba 17-an di Tengah Pandemi
Perbesar
Seorang anak dengan masker mengikuti lomba memperingati HUT ke-75 RI di Kampung Nelayan, Cilincing, Jakarta, Senin (17/8/2020). Meski dilarang menggelar perlombaan akibat Covid-19, warga di Kampung Nelayan tetap mengadakan lomba 17-an walaupun hanya beberapa jenis. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Liputan6.com, Yogyakarta - Setiap 17 Agustus, berbagai perlombaan sederhana yang seru kerap kali mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Keseruan lomba yang mengundang gelak tawa tersebut biasanya disiapkan dengan matang oleh penduduk setempat, sehingga dapat mempererat hubungan antarwarga.

Sejarawan dan Budayawan, JJ Rizal mengatakan, tradisi ini muncul karena antusiasme masyarakat yang ingin memeriahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan. Saat itu, presiden pertama Indonesia, Sukarno, adalah salah satu orang yang paling bersemangat dengan lomba 17 Agustus ini.

Hal itulah yang membuat tradisi lomba 17 Agustus semakin menyebar luas ke seluruh Tanah Air. Lomba-lomba yang biasa diadakan bermacam-macam, di antaranya, balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, tarik tambang, dan sebagainya.

Namun, tak hanya sebagai ajang seru-seruan, ternyata ada makna yang terkandung di balik setiap lomba 17-an tersebut. Apa saja?

1. Lomba balap karung

Lomba balap karung adalah lomba yang menggunakan karung bekas, misalnya karung goni. Peserta harus memasukkan bagian kakinya atau setengah tubuhnya ke dalam karung, kemudian melompat-lompat kecil hingga melewati garis finish.

Makna lomba 17 Agustus ini menyimbolkan pakaian sederhana yang pada zaman dulu dikenakan masyarakat Indonesia. Namun, ternyata lomba ini juga sudah diadakan oleh misionaris Belanda untuk instansi-instansi bentukannya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:


Panjat Pinang

2. Panjat pinang

Lomba panjat pinang merupakan lomba berbentuk tim, bukan individual. Setiap tim harus bergotong royong memperebutkan hadiah dengan memanjat sebuah tiang dengan beragam hadiah di puncaknya.

Dulu, lomba ini diadakan sebagai hiburan dan bahan tertawaan kaum kolonial Belanda. Mereka ingin melihat masyarakat pribumi memperebutkan 'barang mewah' seperti keju, gula, dan pakaian.

Pada saat masyarakat pribumi berjuang untuk mendapatkan hadiah, mereka yang menonton pun menjadikan hal itu sebagai bahan tertawaan. Lomba ini menyimbolkan perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

3. Makan kerupuk

Dalam lomba ini, kerupuk digantung dengan seutas tali, kemudian peserta harus memakannya tanpa boleh menggunakan tangan. Peserta yang berhasil menghabiskan lebih dulu, dialah pemenangnya.

Lomba makan kerupuk menyimbolkan kesederhanaan karena kerupuk merupakan makanan yang murah dan mudah didapat.

4. Tarik tambang

Sama seperti panjat pinang, tarik tambang juga merupakan lomba berbentuk tim. Kedua tim akan saling tarik menarik tali tambang, lalu perlombaan akan selesai jika salah satu tim tumbang.

Makna dari lomba ini adalah memperlihatkan perjuangan pahlawan yang dipaksa bekerja. Selain itu, lomba ini juga memiliki makna gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas masyarakat Indonesia.

 

Penulis: Resla Aknaita Chak

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya