Kisah Anak Muda Madura Bangun Museum Mata Uang dengan Ribuan Koleksi

Oleh Musthofa Aldo pada 04 Agu 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 04 Agu 2022, 08:00 WIB
Museum Perusnia
Perbesar
Museum Perusnia punya 2300 koleksi mata uang

Liputan6.com, Bangkalan Jika ingin termotivasi menggapai cita-cita, belajarlah dari kisah Salman Alrosyid, anak muda Madura yang telah membangun museum Perusnia pada usia 19 tahun.

Fokus dan konsisten menekuni satu minat sejak dini adalah kuncinya. Dengan begitu, Salman bisa mewujudkan cita-cita masa kecilnya tepat ketika ia tamat SMA.

Salman kelahiran Bangkalan 2001. Karena lahir prematur, dia menyandang disleksia sehingga tampak seperti anak berkebutuhan khusus. Alih-alih mendapat simpati, ia justru kerap di-bully teman-temannya di sekolah.

"Saya nyaris tak punya teman bermain," Kenang Salman yang kini berusia 20 tahun.

Karena perlakuan yang dia alami, Salman menjadi lebih sering menghabiskan waktu bermain sendiri di rumah kakek dan neneknya di Kelurahan Demangan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Di rumah itulah, perkenalan pertama Salman dengan uang kuno bermula.

Uang koin pertama yang dia lihat yaitu uang senilai 5 sen, berbahan nikel Natherland Hindice cetakan 1913, berbentuk bulat dengan lingkaran kecil di bagian tengah.

"Gara-gara uang logam itu, saya jadi penasaran seperti apa bentuk uang dari negara-negara lain," dia mengatakan.

Gayung bersambut, minat Salman pada uang kuno didukung kedua orangtuanya. Sebab, ternyata minatnya itu bisa menyembuhkan disleksia yang dialami Salman. Ayahnya kerap mengantar Salman berburu uang kuno.

Siapa sangka, ketika disleksianya berangsur sembuh, Salman justru dianugerahi daya ingat yang sangat kuat. Ketika misalnya sedang hunting uang kuno ke pasar antik di Kota Surabaya, ia tak perlu repot-repot menengok album koleksinya. Dari jenis dan bahannya, Salman sudah tahu mana uang kuno yang belum ia miliki.

"Saya juga enggak tahu kenapa, tapi saya hafal semua uang yang saya koleksi tanpa harus menengok album," dia menuturkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Sejarah Uang, Sejarah Sebuah Bangsa

Salman Alrosyid
Perbesar
Salman Alrosyid, pendiri Museum Perusnia, menunjukkan buku karyanya.

Menjadi kolektor semata tak cukup bagi Salman. Ia mendorong dirinya sendiri terus berkembang.

Ketika duduk di bangku SMA, ia mulai mendalami sejarah uang-uang kuno lewat buku-buku yang dibeli atau dipinjam dari perpustakaan sekolah. Hasilnya, sebuah buku terbit pada 2013 berjudul perkembangan uang dalam sejarah dunia.

Pada tahun yang sama, Salman juga mengajukan rekor ke Lembaga Prestasi Indonesia dan Dunia (LEPRID) sebagai kolektor mata uang asing terbanyak dan termuda. Enam bulan kemudian pengajuan rekor itu diterima oleh lembaga tersebut.

Bagi Salman, menerbitkan buku dan mendapatkan rekor adalah bagian dari upaya untuk terus berkembang dan tak melulu hanya menjadi kolektor.

Sekarang, kata Salman, dia tengah menyusun buku keduanya yang khusus membahas tentang sejarah uang koin Indonesia sejak masa penjajahan Portugis hingga Belanda.

Riset buku kedua ini tak mudah. Salman harus mempelajari berbagai dokumen termasuk dokumen berbahasa Belanda. "Sudah 300 halaman dan sudah 1,5 tahun belum juga rampung," dia mengatakan sambil terkekeh.


Museum Perusnia

Museum Perusnia
Perbesar
Tiap mata uang dilangkapi keterangan sejarah dibalik munculnya uang tersebut.

Salman menamai museum mata uangnya dengan Perusnia. Slogan di papan namanya menarik sekali: museum mata uang mancanegara terlengkap di Madura. Barangkali terlengkap di Indonesia.

Museum ini terletak di sebuah pekarangan yang luas di Gang Merlin, Kelurahan Demangan, Kota Bangkalan. Didominasi warna putih, museum itu dibangun dengan tabungan pribadi dan sumbangan keluarga pada 2020, usianya baru 19 tahun, baru tamat SMA ketika itu.

"Cita-cita saya sejak kecil, memang ingin buat museum," dia mengatakan.

Gedung museum bersebelahan dengan sebuah rumah berarsitektur belanda. Rumah itu, adalah rumah Raden Rohamed Zeger Rudoyono, kakek Salman.

Rudoyono orang Belanda yang kemudian menetap dan menikah dengan pribumi Madura. Di rumah itulah Salman menemukan uang koin kuno pertama kalinya.

Salman mendesain sendiri bangunan museum. Total koleksi yang dipajang mencapai 2.300 jenis. Dari jumlah ini, 2.200 merupakan mata uang asing baik kertas maupun koin. Sisanya mata uang Indonesia, sejak masa kerajaan hingga kemerdekaan.

Ribuan uang kuno itu dipajang mengitari dinding. Tiap mata uang dilengkapi dengan keterangan sejarah yang melatari diterbitkannya mata uang itu. "Sejarah uang adalah sejarah sebuah negara," Salman menegaskan.

Berada dalam museum Perusnia benar-benar seperti sedang mempelajari sejarah dunia. Misalnya pada 1953, pemerintah China menerbitkan 'uang daerah' guna menanggulangi kemiskinan.

China memberikan kewenangan pada pemerintah daerah di 35 kota untuk menyetak mata uang sendiri.

Uang ini hanya diperuntukkan bagi warga miskin dan tidak boleh dibelanjakan ke kota lain. Program ini berlangsung selama 50 tahun dan resmi dihentikan pada 1994.

Umumnya, kata Salman, sejarah mata uang berkaitan erat dengan krisis ekonomi. Brazil misalnya, pernah lima kali mengganti mata uangnya akibat krisis keuangan sejak 1949 hingga 2014.

"Tiap kali nilai mata uangnya melemah, Brazil ganti nama. Awal bernama Cruzero Real dan terakhir menjadi real yang dipakai sampai sekarang," Ungkap Salman.


Sejarah Duit

Salman Alrosyid
Perbesar
Salman meraih rekor dari Leprid

Salah satu koleksi uang koin nusantara yang menarik yaitu uang koin yang dicetak pada 1799. Konflik dagang antara Belanda, Perancis, dan Inggris membuat Hindia Belanda, nama Indonesia zaman VOC, dilanda krisis uang logam.

Hibert, Gubernur Hindia Belanda kala itu, memutuskan menyetak uang logam sendiri dari bahan perunggu. Bahan perunggu ini diambil dari meriam tua yang tak lagi dipakai.

"Inggris dan Perancis menyita kapal-kapal Belanda yang mengirim uang koin, sehingga terjadi krisis," Salman menceritakan.

Mata uang VOC sendiri terdiri dari lima jenis. Tertinggi disebut Mohur atau Rupe Emas. Sedangkan, satuan mata uang terendah bernama Doit. Mata uang ini dikhususkan untuk membayar upah para pekerja pribumi.

"Orang Jakarta, kalau nyebut uang itu dengan Duit. Ini berasal dari Doit, nama satuan mata uang VOC yang paling rendah," Salman mengungkapkan.

Berada di Museum Perusnia, seperti sedang belajar sejarah dunia dengan cara yang berbeda dan tak biasa.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya