Bukan Sekadar Nama, Ini Bukti Istimewanya Yogyakarta

Oleh Switzy Sabandar pada 03 Agu 2022, 12:00 WIB
Diperbarui 03 Agu 2022, 12:00 WIB
Tugu Pal Putih Yogyakarta Kian Apik Tanpa Gangguan Kabel Melintang
Perbesar
Pengendara melintas di perempatan Tugu Pal Putih Yogyakarta, Sabtu (26/12/2020). Dilansir Visiting Jogja, tugu yang dibangun pada 1755 oleh Hamengkubuwono I ini merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan laut selatan, Kraton Jogja, dan Gunung Merapi. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Yogyakarta - Tak sedikit buku yang menjadikan Yogyakarta sebagai latar tempat di dalamnya. Tak hanya itu, beberapa lagu pun memasukkan Kota Yogyakarta di dalam liriknya.

Beberapa orang juga menyebutkan telah menciptakan kisah-kisahnya di kota ini dengan orang-orang tersayang. Ternyata, Daerah Istimewa Yogyakarta, memang bukan sekadar nama.

Namun, bukan hanya itu. Ada beberapa keistimewaan lain yang dimiliki Yogyakarta. Apa saja?

1. Kota Pelajar

Ada lebih dari 130 perguruan tinggi yang tersebar di wilayah Yogyakarta, mulai dari universitas, politeknik, sekolah tinggi, dan akademi. Banyak pelajar dari berbagai kota di Indonesia yang menjadikan Yogyakarta sebagai kota tujuan untuk menimba ilmu.

Selain itu, julukan Kota Pelajar juga didasari karena kota ini berperan penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Tak hanya itu, di kota inilah Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, mendirikan Sekolah Taman Siswa.

2. Kota Seni dan Budaya

Tak hanya sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga merupakan Kota Seni dan Budaya. Meski sudah banyak mendapat sentuhan modernisasi, tetapi Yogyakarta masih melestarikan budayanya secara turun-menurun.

Yogyakarta masih teguh dengan adat budaya Jawa. Terbukti, hingga saat ini Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih berdiri. Begitu pun di bidang kesenian. Seni seolah menyatu dengan setiap sudut kehidupan Yogyakarta.

Beragam jenis kesenian lahir dan tumbuh subur di kota ini. Seniman dan musisi ternama pun banyak yang berasal dari kota ini, sebut saja Garin Nugroho (sutradara dan produser film), Butet Kartaradjasa (aktor, seniman, dan budayawan), Sheila on 7, Letto, Pongki Barata (musisi), Kunto Aji (musisi), dan lainnya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan video pilihan berikut ini:


Surga Wisata

3. Surga Wisata

Banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi jika singgah di Yogyakarta, mulai dari wisata sejarah, alam, kuliner, budaya, dan lainnya. Tak hanya saat akhir pekan, pada hari-hari biasa pun Yogyakarta tak pernah sepi pelancong.

4. Biaya Hidup yang Murah

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Yogyakarta masuk dalam lima besar kota dengan biaya hidup termurah. Dengan uang Rp10.000 saja, kamu sudah bisa makan nasi gudeg.

Tersedia juga angkringan dengan harga yang tak kalah murah. Biaya hidupnya yang ramah bagi semua orang membuat kota ini semakin nyaman untuk ditinggali.

5. Dipimpin oleh Sultan

Seluruh daerah setingkat provinsi di Indonesia dipimpin oleh gubernur, kecuali Yogyakarta yang dipimpin oleh sultan.

Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki pemerintahan sendiri atau disebut zelfbestuur landschappen (pemerintahan swapraja). Zelfbestuur landschappen yakni suatu pemerintahan pribumi yang memperoleh otonominya karena sejumlah perjanjian dengan Penerintah Kolonial Hindia Belanda, dalam hal ini Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755. Sedangkan, Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813.

Setelah Indonesia merdeka, Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan bahwa Daerah Kasultanan dan Daerah Pakualaman bergabung dengan wilayah Negara RI. Itu sebabnya gubernur yang memimpin adalah Sultan Yogyakarta yang bertakhta, sementara wakil gubernurnya adalah Pangeran Paku Alam yang bertakhta. Hal ini memang menjadi tradisi dan sesuai UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Penulis: Resla Aknaita Chak

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya