Meraih Asa dalam Kesunyian dari Rumah Bantu Dengar

Oleh Mina Megawati pada 05 Jul 2022, 13:00 WIB
Diperbarui 05 Jul 2022, 13:00 WIB
Potong Pita Peresmian Rumah Bantu Dengar
Perbesar
Potong Pita Peresmian Rumah Bantu Dengar

Liputan6.com, Denpasar Yani, ibu dua orang anak penderita gangguan pendengaran, duduk di sudut ruangan yang sedang ramai pengunjung. Pada hari itu, sedang ada peresmian Rumah Bantu Dengar (RBT). Yani dan anak-anaknya, Sovy dan Adit hadir sebagai tamu undangan.

Sovy dan Adit adalah kakak beradik yang telah berproses bersama YPK Bali sejak tahun 2018. Waktu yang membawa banyak perubahan dan kemajuan bagi pendengaran keduanya.

Deteksi awal Yani peroleh dari posyandu tempat tinggalnya. Kedua anaknya mengalami gangguan pada indera pendengaran. Sungguh sebuah kenyataan yang membuatnya sebagai seorang ibu tak bisa tinggal diam.

Segala daya upaya berusaha ditempuh demi memperoleh jalan pemulihan bagi keduanya. Pihak posyandu yang mengetahui kondisi Yani sedang ada di posisi ketidakadaan biaya lantas menghubungkannya dengan YPK (Yayasan Peduli Kemanusiaan) Bali.

Melalui pengantar dari YPK Bali diperolehnya rujukan untuk pemeriksaan intensif di Rumah Sakit Sanglah. Tujuannya agar ada kepastian ketulian anak-anaknya ada di titik mana dan terapi apa yang mesti dijalani.


Peresmian Rumah Bantu Dengar

Para Undangan di Acara Peresmian Rumah Bantu Dengar
Perbesar
Para Undangan di Acara Peresmian Rumah Bantu Dengar

RBT (Rumah Bantu Dengar) lahir dari inisiasi Yayasan Peduli Kemanusiaan Bali bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Denpasar dan Direct Aid Program (DAP) Konsulat Jenderal Australia di Bali. Suatu bentuk terobosan inovatif yang kelak dapat membantu penyandang disabilitas pendengaran, pun masyarakat kurang mampu dalam penanganan masalah serupa.

Bertempat di Gedung Pusat Pelayanan Disabilitas – Dinas Sosial Kota Denpasar, Jalan Mataram Nomor 3, Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar diresmikan sebuah Rumah Bantu Dengar pada 2 Juli 2022.

Proyek yang tak mungkin terlahir sendiri tanpa bantuan dan dukungan banyak pihak. Melalui program "Bali Rungu" YPK Bali bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar, PDGPKT, IDI, pun para pemangku kepentingan untuk sebuah sinergi terlaksananya pelayanan terpadu ini. Program yang dimulai dari pentingnya deteksi dini bersama posyandu dan puskesmas (seperti yang dilalui Sovy dan Adit), edukasi kesehatan telinga, dan pendengaran bagi murid-murid sekolah di seluruh Bali.

"Saya sangat bersyukur karena Tuhan sudah menyediakan tempat (RBD) bagi YPK melalui mereka yang memiliki hati kepada masa depan generasi penerus di Bali yang bebas dari gangguan pendengaran," kata Purnawan Budisetia selaku pendiri YPK Bali pada Liputan6.com.

Purnawan bertutur, kini saatnya kita harus begandengan tangan bersama semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengisi jurang yang ada, agar anak-anak dengan gangguan pendengaran mampu bangkit, belajar, dan kelak dapat mengembangkan potensi dirinya yang selama ini terpendam akibat kesunyian dunia mereka selama ini.

Dalam hati penuh harap, Pak Pur menyebut tentang tak ada kesia-siaan ketika mereka mulai bisa berkomunikasi, mendengar dan belajar dengan baik seperti anak-anak normal lainnya di Bali, khususnya kota Denpasar.

"Anak-anak disabilitas, termasuk tunarungu, kerap menjadi anak atau generasi 'kelas dua'. Mereka dibatasi ruang geraknya dan fasilitas mereka untuk belajar pun sangat terbatas. Intinya, dengan meningkatkan kualitas pendengaran mereka, secara otomatis kualitas hidup mereka akan meningkat juga," sambung pria yang akrab disapa Pak Pur itu.

 


Pendampingan Orangtua dan Penanganan Dini

Sagung Antari Jaya Negara dalam acara peresmian RBD
Perbesar
Sagung Antari Jaya Negara dalam acara peresmian RBD

"Gangguan pendengaran akan sangat pengaruhi aktivitas sehari-hari. Maka dari itu penanganan sejak dini akan menghasilkan kesehatan yang sempurna," ujar Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara dalam acara peresmian RBD.

Masalah penanganan dini juga dialami oleh Yani. Akibat ketidakadaan biaya kala Sovy mengalami demam tinggi hingga step di usia yang baru 2 tahun.

"Awalnya Sovy kerap murung tak menyahut ketika diajak bicara, dan tak bereaksi saat dipanggil. Sejak itulah dunianya menjadi sunyi," Ibu Sovy mengisahkannya pada peliput.

Bagi Yani, orangtua adalah cikal bakal tumbuh kembang seorang anak. Perilaku anak dibentuk dalam keluarga sebagai masyarakat terkecil. Walau dia tak mampu secara materi, tapi dengan upaya yang tak henti-henti dipercayai akan membawa kebaikan bagi kedua anaknya itu.


Manusia dan Human Design-nya

Sovy saat simulasi pengecekan telinga
Perbesar
Sovy saat simulasi pengecekan telinga

Segala yang tercipta di dunia pasti membawa keunikannya masing-masing. Tak ada kata tak berguna mesti mereka tak terlahir sebagaimana manusia lainnya. Kerap kali label-label tak mengenakkan melekati adik-adik atau mereka yang terlahir dalam kondisi tak baik secara fisik maupun mental, padahal kalau saja kita mau menelisik lebih dalam mereka itu berbeda karena ada yang menghendakinya.

Pun pada Sovy dan Adit, meski dalam kondisi terganggu pendengarannya namun keceriaan tak luput dari wajah mereka. Memiliki seorang ibu yang sabar, pengertian, dan penuh kasih jadi kunci tumbuh kembang yang baik dan pemulihan kondisi mereka.

"Sovy bercita-cita ingin menjadi polisi sedangkan Adit sangat ingin menjadi pemain sepak bola," kata Yani dengan bangganya.

Bercita-cita tinggi adalah hak setiap manusia. Tak ada yang bisa membatasi mimpi itu kecuali diri mereka sendiri. Di tangan YPK Bali, Rumah Bantu Dengar (RBD) dan kita semualah penyambung asa bagi mereka.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya