Penemuan Terbaru, Blockchain Dapat Lacak DNA Manusia

Oleh Marifka Wahyu Hidayat pada 01 Jul 2022, 01:00 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 01:00 WIB
Blockchain
Perbesar
Ilustrasi Blockchain. Dok: catalysts.cc

Liputan6.com, Palangka Raya - Keberadaan blockchain dalam teknologi digital semakin naik daun. Pada umumnya, teknologi ini kerap dimanfaatkan untuk transaksi cryptocurrency atau mata uang kripto seperti bitcoin.

Namun kali ini, peneliti dari Yale University Amerika Serikat mengembangkan penggunaan baru blockchain, untuk melacak asal usul deoxyribonucleic acid atau yang lebih dikenal istilah DNA.

Penemuan teknologi ini diberi nama SAMchain yang disinyalir mampu mengumpulkan informasi untuk mencari tahu mengenai leluhur, data medis, dan genetik seseorang.

"Tujuan utama kami adalah memberikan kepemilikan data genom kembali kepada individu," kata peneliti senior Mark Gerstein dilansir melalui situs Yale University, Jumat 30 Juni 2022.

Selain itu, teknologi ini juga dapat melindungi kerusakan data DNA yang kerap disimpan komputerisasi pada umumnya. Peneliti juga memastikan bahwa informasi genom seseorang tetap aman di bawah kendali individu, pasalnya informasi tersebut tidak dapat diubah setelah disimpan di blockchain.

Dalam dunia medis penggunaan SAMchain juga dapat mempercepat kemajuan obat. Pasien dapat memberikan akses langsung data genomik mereka kepada dokter, untuk dapat membantu mendiagnosis dan mengobati penyakit mereka.

"Ketika data genomik menjadi semakin integral dengan pemahaman kita tentang kesehatan dan penyakit manusia, integritas dan keamanannya harus menjadi prioritas saat memberikan solusi untuk penyimpanan dan analisis," Gerstein mengakhiri.

Sekadar infotrmasi, perkembangan blockchain sendiri pada awalnya diprakarsai oleh seorang Kriptografer, David Chaum pada tahun 1982, berlanjut pada tahun 1991 oleh Stuart Haber dan W Scott Stornetta, hingga kemudian dikembangkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya