Muncul Fenomena Embun Upas di Dieng, Ganjar Pranowo: Berani ke Sini?

Oleh Ahmad Apriyono pada 30 Jun 2022, 14:00 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 09:11 WIB
Embun es Dieng atau bun upas muncul pada musim hujan, Sabtu pagi, 18 Januari 2010. (Foto: Liputan6.com/Aryadi Darwanto untuk Muhamad Ridlo)
Perbesar
Embun es Dieng atau bun upas muncul pada musim hujan, Sabtu pagi, 18 Januari 2010. (Foto: Liputan6.com/Aryadi Darwanto untuk Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banjarnegara - Seiring dengan penurunan suhu udara, muncul fenomena embun beku atau yang dikenal dengan sebutan embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Alif Faozi, Kamis (30/6/2022) mengatakan, fenomena embun upas itu mulai terlihat pada Kamis dini hari di sekitar kompleks Candi Arjuna.

"Awalnya saya kira kemunculan embun upas akan mundur karena beberapa hari kemarin masih sering turun hujan, tapi ternyata dini hari tadi embun upasnya mulai muncul meskipun masih tipis," katanya.

Menurut dia, kemunculan embun upas biasanya akan sering terjadi dan makin tebal saat puncak musim kemarau, terutama ketika suhu udara terasa sangat dingin.

Terkait dengan suhu udara di Dieng yang memicu kemunculan embun upas pada Kamis, dini hari, ia mengaku tidak sempat melakukan pengukuran.

"Namun sepertinya belum sampai minus 1,5 derajat Celcius hingga minus dua derajat Celcius seperti yang muncul dalam pemberitaan. Mungkin iya kalau mengukurnya berdekatan dengan embun upas, tapi kalau agak tinggi mungkin hasilnya akan berbeda," kata pria asli Dieng itu.

Dia mencontohkan ketika termometer diletakkan di depan pintu lemari es yang terbuka, hasil pengukuran suhunya akan berbeda dengan saat termometer dimasukkan ke lemari es.

Alif mengakui suhu udara di Dieng pernah terasa sangat dingin dan saat itu dikabarkan mencapai minus 12 derajat Celcius berdasarkan pengukuran di bawah atau dekat dengan embun yang membeku.

"Kalau enggak salah tahun 2019," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut mengakibatkan tanaman kentang di Dieng banyak yang mati setelah terkena embun upas yang cukup tebal.

"Kenapa disebut embun upas? Itu sebetulnya karena tumbuhannya mati setelah udara begitu dingin dan embunnya membeku, sehingga ketika terkena Matahari tanaman tersebut jadi menghitam seperti terkena racun," katanya.

Padahal, kata dia, embun tersebut tidak mengandung upas atau racun namun karena masyarakat melihat tanamannya menghitam seperti terkena racun, sehingga fenomena itu disebut dengan embun upas.

 

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Daya Tarik Wisata

Kendati demikian, ia mengakui fenomena embun upas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng seolah berselimutkan salju.

Salah seorang pramuwisata, Untung, mengakui fenomena embun upas tersebut biasa muncul saat musim kemarau di Dieng.

"Ini yang pertama muncul di awal musim kemarau. Kemarin sempat terasa dingin, tapi tidak sampai muncul embun upas," kata dia yang tergabung dalam Gallery Dieng.

Ia berusaha mengabadikan fenomena embun upas tersebut dalam sejumlah foto.

"Cuma saya tidak sempat mengukur suhu udaranya. Namun dalam aplikasi disebutkan bahwa suhu udara mencapai minus satu derajat Celcius," kata Untung.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, hari ini Kamis (30/6/2022) juga mengunggah ulang dua foto di akun Twitter resminya @ganjarpranowo. Dua foto itu menggambarkan indahnya pemandangan kawasan dataran tinggi Dieng yang diselimuti embun upas. 

"Kamu dapet salam dr negeri di atas awan, Dieng. Berani ke sini?" tulisnya. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya