BMKG Ungkap Fakta Mengejutkan Saat Terjadinya Abrasi di Pesisir Amurang

Oleh Liputan6.com pada 17 Jun 2022, 08:00 WIB
Diperbarui 17 Jun 2022, 08:00 WIB
Abrasi yang terjadi di pesisir Pantai Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan.
Perbesar
Abrasi yang terjadi di pesisir Pantai Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan.

Liputan6.com, Minahasa Selatan - Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, Ricky Daniel Aror mengatakan saat terjadi bencana abrasi di pesisir Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulut, ketinggian gelombang tidak signifikan.

"Istilahnya gelombang tenang hanya 0 - 0,5 meter," kata Ricky di Manado, dikutip Antara.

Memang, apabila agak ke laut Sulawesi, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai dua meter atau kira-kira 100 kilometer dari pesisir.

"Tidak ada pengaruh signifikan apabila dikaitkan dengan tinggi gelombang," ucapnya.

Begitupun dengan cuaca, menurut dia, tidak ada pengaruh langsung dengan ambruknya belasan rumah, jembatan serta menggerus jalan.

"Dari sisi cuaca, curah hujan saat itu tidak signifikan," ujarnya.

 

Simak Video Pilihan Ini:


Sejarah Gelombang Lampau

Dia berharap, baik masyarakat maupun instansi terkait melihat sejarah gelombang di masa lampau agar bisa menjadi acuan pembangunan.

Pada Rabu (15/6) pukul 14.00 WITA, abrasi pantai menyebabkan 15 rumah, satu jembatan, jalan dan rumah penginapan di Kelurahan Uwuran dan Kelurahan Bitung, Kecamatan Amurang rusak.

Bencana abrasi pantai tersebut terjadi di Kelurahan Bitung dan Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang.

BPBD setempat memang menduga, abrasi pantai yang menyebabkan jembatan dan jalan Boulevard serta tembok pengaman pantai beserta beberapa rumah warga roboh disapu gelombang air laut.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya