BI Prediksi Dampak PMK pada Hewan Ternak Dorong Inflasi di Balikpapan

Oleh Apriyanto pada 04 Jun 2022, 11:00 WIB
Diperbarui 04 Jun 2022, 11:00 WIB
Peternak Sapi Balikpapan
Perbesar
Salah satu peternakan sapi di Kota Balikpapan. (Liputan6.com/Istimewa)

Liputan6.com, Balikpapan - Bank Indonesia (BI) Balikpapan masih memprediksi terjadinya inflasi pada bulan Juni 2022. Ada beberapa faktor yang diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi. Di antaranya kenaikan harga telur ayam ras yang telah terjadi di daerah pemasok di Jawa dan Sulawesi, kenaikan harga daging sapi di tengah pembatasan pasokan dari Jawa dan penambahan waktu karantina sebagai antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Hal ini diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, R Bambang Setyo Pambudi, pada Jumat (3/6/2022). "Kami memprediksi ada beberapa faktor yang akan memberikan tekanan inflasi pada bulan Juni, salah satunya kenaikan harga daging sapi karena saat ini ada kasus PMK," terang Bambang.

Diketahui, pada bulan Mei 2022 kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,52% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan April 2022 yaitu sebesar 1,33% (mtm).

Sementara secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat sebesar 4,87% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional (3,55%-yoy) dan dibandingkan Kalimantan Timur (4,27%-yoy).

"Inflasi tahunan Kota Balikpapan berada di atas rentang target inflasi tahun 2022 sebesar 3,0%±1," dia menjelaskan.


Penyebab Inflasi Bulan Mei 2022

Harga Ayam Potong
Perbesar
Harga ayam ras mempengaruhi terjadi inflasi pada bulan Mei 2022. (Liputan6.com/Apriyanto)

Menurut Bambang, inflasi pada bulan laporan ini disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok makanan minuman dan tembakau yang memberikan andil 0,29% (mtm).

Inflasi pada kelompok ini didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras di tengah menurunnya pasokan DOC usai libur lebaran. Selain itu, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga tomat di tengah menurunnya pasokan dari daerah sentra akibat curah hujan yang tinggi, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas sayuran lainnya seperti daun bawang, kangkung, dan kacang panjang.

"Inflasi juga didorong oleh kelompok transportasi dengan andil 0,12% (mtm), didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara terutama saat periode arus balik lebaran di awal Mei," sebutnya.

Inflasi juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang didorong oleh kenaikan harga semen akibat meningkatnya harga batu bara dunia.

"Di sisi lain, beberapa komoditas makanan mengalami deflasi antara lain cabai rawit, bawang merah, sawi hijau, dan bawang bombai di tengah pasokan yang masih memadai," dia menandaskan.

Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan terus bersinergi dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, serta memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap rendah dan stabil. Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat dapat selalu bijak dalam berbelanja.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya