Wamenparekraf Singgung Biaya Risiko Bencana Sektor Pariwisata di Forum GPDRR 2022

Oleh Dewi Divianta pada 28 Mei 2022, 04:00 WIB
Diperbarui 28 Mei 2022, 04:00 WIB
Ajang GPDRR 2022 di Nusa Dua Bali
Perbesar
Ajang GPDRR 2022 di Nusa Dua Bali (Dewi Divianta/Liputan6.com)

Liputan6.com, Nusa Dua Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesudibjo dalam sesi Ministrial Round Table di forum Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022. 

Untuk diketahui Indonesia menjadi tuan rumah dalam Forum Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-tujuh pada 23 Mei hingga 28 Mei 2022 bertempat di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Bali.

Pada kesempatan itu, Wamen Angela menyebut tentang masalah pembiayaan Disaster Risk Reduction (DRR) destinasi pariwisata di Indonesia biaya kerugian bencana akan melebar tergantung pada ekosistem pariwisata tersebut.

"Biaya kerugian bencana melebar karena pariwisata tergantung pada ekosistem yang utuh dan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pencegahan dan kesiapsiagaan bencana sangat penting untuk rencana manajemen terpadu," katanya di Nusa Dua, Jumat (27/5/2022).

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Luncurkan Aplikasi Carbon Footprint Calculator

Menurutnya, diperlukan kolaborasi multi-stakeholder dalam mengatasi bencana, dan pelaku pariwisata harus mengambil peran aktif antisipasi dan penanggulangan bencana untuk pariwisata yang berkelanjutan.

"Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berkomitmen untuk agenda ini dengan membangun pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," tutur dia.

Sementara itu, Staf Ahli Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo menjelaskan untuk mewujudkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, Kemenparekraf telah meluncurkan aplikasi Carbon Footprint Calculator.

"Program Carbon Footprint Calculator (CFPC) merupakan upaya Kemenparekraf dalam melakukan pengimbangan nilai emisi yang telah dihasilkan, dengan menyerap jejak karbon demi membantu mencegah dampak buruknya pada iklim," ucap Fadjar.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya