Hikayat Boso Walikan, Bahasa Gaul Yogya yang Jadi Sandi Rahasia pada Masa Penjajahan

Oleh Switzy Sabandar pada 15 Mei 2022, 01:00 WIB
Diperbarui 15 Mei 2022, 01:00 WIB
Ilustrasi bahasa gaul Yogyakarta
Perbesar
Ilustrasi bahasa gaul Yogyakarta Foto: (Yanuar H/Liputan6.com)

Liputan6.com, Yogyakarta - Bagi sebagian penduduk Yogyakarta, kosa kata seperti “dab”, “lodse”, hingga “dagadu” pastilah familiar di telinga. Sederet kosakata tadi ialah bagian dari boso walikan (bahasa kebalikan) yang pernah populer di kota budaya ini.

Bahasa gaul ini sempat mengalami masa kejayaan pada 1980 hingga 1990-an. Dikutip dari berbagai sumber, boso walikan ini terbentuk dari aksara Jawa yang susunannya dibalik.

Konon boso walikan pertama kali muncul masa penjajahan. Bahkan pada zaman dahulu boso walikan digunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bahasa terenkripsi untuk mengecoh mata-mata.

Setelah masa penjajahan usai, pada 1966 boso walikan banyak digunakan  oleh para preman agar gerak-geriknya tidak terbaca oleh pemerintah pada saat itu. Lama kelamaan boso walikan pun berkembang menjadi bahasa gaul Yogyakarta.

Berbeda dengan walikan daerah lain yang murni membalik cara membacanya, boso walikan khas Yogyakarta ini tak sembarangan ada rumus dan pakemnya. Bahasa ini memanfaatkan urutan aksara Jawa, bukan alfabet romawi.

Aksara Jawa terdiri dari 20 aksara yang disusun dalam empat baris. Masing-masing baris terdiri dari lima aksara.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cara Menggunakan

Untuk menggunakan boso walikan caranya mengganti aksara di baris pertama menjadi aksara di baris ketiga, dan aksara di baris kedua menjadi aksara di baris keempat, dan sebaliknya. Uniknya, penggunaan boso walikan dalam kehidupan sehari-hari tidak semua kata dibalik.

Aplikasinya dalam kalimat juga tidak diubah dalam satu kalimat penuh. Hanya sepotong-sepotong dan hanya kata-kata tertentu yang dibalik sehingga pembalikannya juga tidak terlalu kaku.

Bila hasilnya sulit diucapkan biasanya akan dimodifikasi. Tujuannya agar tetap mengerti apa yang diucapkan.

Kepopuleran boso walikan Yogyakarta ini bahkan pernah ikut dirasakan Iwan Fals. Iwan Fals menggunakan boso walikan saat menulis lagu yang berjudul “Pak Tua”.

Kini, tak banyak kosakata boso walikan yang masih digunakan oleh anak muda Yogyakarta. Kosakata yang masih sering didengar mungkin "dab" dari kata "mas", "hire" dari kata "piye", "dalat" dari kata "mangan" (makan), atau "lotse" dari kata "ngombe" (minum).

(Tifani)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya