Si Jomblo Meli, Gajah Sumatra Betina yang Hidup Sendirian di Sumsel

Oleh Nefri Inge pada 13 Mei 2022, 07:30 WIB
Diperbarui 13 Mei 2022, 07:30 WIB
Anak Gajah Sumatra
Perbesar
Usai dua hari menjalani perawatan medis, anak gajah Sumatra yang belalainya nyaris putus terkena jerat, akhirnya mati. (Liputan6.com/ BKSDA Aceh))

Liputan6.com, Palembang - Habitat Gajah Sumatra biasanya hidup berkelompok, dengan bersama-sama melintasi jalur jelajahnya. Namun berbeda dengan Meli, Gajah Sumatra betina yang hidup sendirian tanpa didampingi gajah-gajah lainnya.

Meli yang ditinggal mati oleh indukannya, hidup dan tumbuh sendirian di Kecamatan Makakau Ilir, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Usianya kini sudah beranjak 12 tahun.

Karena hidup sendirian, si jomblo Meli diduga kehilangan memori saat bersama indukannya. Sehingga dia tak terlalu hapal jalur jelajahnya.

Yang berakibat, Gajah Sumatra tersebut kerap masuk ke lahan kebun warga dan merusak tanaman, salah satunya tanaman padi milik warga.

Karena banyaknya aduan dari warga sekitar, akhirnya tim Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel melakukan pemantauan khusus ke Meli. Salah satunya dengan memasang kalung GPS atau GPS Collar, pada bulan Oktober 2021 lalu.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata mengungkapkan, nama Meli disematkan dengan lokasi hidupnya, yakni di Kecamatan Makakau Ilir Kabupaten OKU Selatan Sumsel.

“Sejak dipasang GPS Collar, kita mengetahui jalur jelajahnya di sembilan desa di Kecamatan Makakau Ilir OKU Selatan,” katanya, di kantor BKSDA Sumsel, Kamis (12/5/2022).

Diakuinya, keberadaan Gajah Sumatra Meli memang kerap menganggu warga sekitar, walau tak pernah sampai menelan korban jiwa, seperti Gajah Sumatra di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel.

Di sisi lain, teknologi tersebut juga sangat bermanfaat untuk membantu petugas memantau keberadaan gajah jika terlanjur terjadi konflik.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:


Populasi Gajah Sumatra

Gajah Sumatra
Perbesar
Saat ini jumlah gajah sumatra di Tangkahan berjumlah 10 ekor (Istimewa)

GPS Collar tersebut, lanjut Ujang, bisa memantau Meli setiap 6-8 jam per harinya. Yang berguna untuk pemantauan, demi keselamatan satwa dan warga.

“Karena banyaknya Gajah Sumatra di Sumsel, kami masih dibutuhkan empat uniat GPS Collar lagi, untuk disematkan di sejumlah individu yang hidup berkelompok,” ucapnya.

Jika memungkinkan, Ujang berharap akan lebih banyak lagi gajah di Sumsel yang dipasangi GPS Collar mengingat populasi gajah di Sumsel cukup banyak. Karena, ada tujuh kantong habitat gajah di Sumsel, dengan jumlah sekitar 200 ekor gajah.


9 Desa

Wisata Konservasi Dibuka Lagi di Masa New Normal
Perbesar
Pawang dan pengunjung menyentuh gajah betina sumatra saat memandikannya di sungai di Conservation Respons Unit (CRU) Sampoiniet, Aceh, Minggu (7/6/2020). Memasuki masa new normal, CRU Sampoiniet kembali membuka wisata konservasi meski membatasi jumlah kunjungan wisatawan. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Sumsel Aziz Abdul Latif Muslim, teknologi GPS Collar cukup efektif untuk memantau pergerakan gajah dari hari ke hari.

GPS Collar yang terpasang di tubuh Meli, akhirnya memantau pergerakan gajah betina tersebut di sembilan desa. Namun hanya lima desa yang lebih sering didatangi Meli.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa, dalam melakukan tindakan yang tidak membahayakan gajah Meli,” katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya