BMKG Jelaskan Udara Bandung Terasa Lebih Gerah dalam Sepekan Ini

Oleh Huyogo Simbolon pada 10 Mei 2022, 06:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2022, 06:00 WIB
Infografis Suhu Panas Menerjang Indonesia
Perbesar
Infografis Suhu Panas Menerjang Indonesia. (Liputan6.com/Triyasni)

Liputan6.com, Bandung - Suhu maksimum di Kota Bandung selama seminggu terakhir yang terpantau Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), berkisar antara 29,6 hingga 31,6 derajat Celsius. Suhu maksimum ini sudah melebihi suhu maksimum normal kota Bandung yaitu 28,8 derajat Celsius.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Bandung Teguh Rahayu, selain suhu maksimum di atas suhu normal, kelembaban relatif yang tercatat oleh pihaknya dalam seminggu terakhir berkisar antara 89%-91%, dengan nilai normalnya yaitu 88%.

"Perpaduan antara suhu tinggi dengan kelembaban relatif yang tinggi menjadi penyebab utama mengapa suhu atau cuaca di wilayah Bandung raya seminggu terakhir ini terasa panas dan gerah atau ngelekeb dalam bahasa Sunda," ucap Rahayu melalui keterangan tertulis, Senin (9/5/2022).

Rahayu menjelaskan, penyebab suhu udara menjadi berada di atas rata-rata normal. Hal itu dikarenakan posisi gerak semu matahari yang pada saat ini berada di sekitar ekuator.

Sehingga kondisi pertumbuhan awan di wilayah Jawa Barat dan Pulau Jawa pada umumnya berkurang. "Dengan berkurangnya jumlah awan di atmosfer, maka energi matahari yang diterima permukaan bumi semakin banyak hingga cuaca pada siang hari terasa semakin panas dan lembab," tuturnya.

Lebih jauh ia menerangkan, masih tingginya Suhu Permukaan Laut (SPL) sehingga udara terasa lembab, karena proses evaporasi dan evapotranspirasi masih tinggi. Adanya perubahan fase air dari cair menjadi gas menyebabkan tingkat kelembapan udara di atmosfer menjadi tinggi.

"Kelembaban relatif (Relative Humidity/RH) menyatakan perbandingan tekanan uap air dan tekanan uap air jenuh pada suhu yang sama dengan satuan persen. Suhu udaranya tinggi mencerminkan kemampuan menampung uap air juga tinggi," ungkapnya.

Rahayu menyebut kondisi ini diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir Mei atau akhir musim peralihan. "Musim kemarau diprediksi akan segera memasuki Bandung raya pada awal hingga pertengahan Juni 2022," ucapnya.

Rahayu menambahkan, mengingat saat ini masih dalam musim peralihan, maka kondisi cuaca juga perubahan nya masih sangat dinamis. "Dalam arti, hujan lebat disertai angin kencang ataupun petir masih mungkin terjadi. Bahkan kondisi cuaca ekstrem seperti hujan es dan angin kencang atau puting beliung, peluangnya juga ikut meningkat," tuturnya.

 

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya