Dibilang Produksi Jagung Menurun, Gubernur Gorontalo Beberkan Sejumlah Fakta

Oleh Arfandi Ibrahim pada 29 Apr 2022, 19:00 WIB
Diperbarui 29 Apr 2022, 19:00 WIB
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Gorontalo - Beberapa waktu belakangan beredar pernyataan Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad yang mengatakan Pemerintahan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie gagal menaikkan hasil produksi jagung di Provinsi Gorontalo.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie mengajak Fadel Muhammad untuk debat terbuka soal produksi jagung Gorontalo saat ini.

"Tidaklah patut beliau memberikan penilaian buruk kepada kami yang sudah bekerja. Saya sebagai gubernur yang akan berakhir mengajak beliau untuk berdebat. Saya mau debat publik supaya tidak jadi fitnah," kata Rusli, akhir pekan lalu.

Rusli menilai Fadel seharusnya lebih banyak membaca dinamika pembangunan di daerah dan memberikan fakta serta perbandingan dengan kondisi dulu.

Beberapa data yang dibeberkan Rusli bahwa produksi jagung sebelum dirinya menjabat sebagai Gubernur Gorontalo hanya mentok pada satu juta ton. Berbeda halnya ketika periode Rusli-Idris selama dua periode memimpin Gorontalo, produksi jagung bahkan pernah menyentuh angka dua juta ton.

Rusli juga membeberkan alasan penurunan produksi jagung dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, penurunan itu disebabkan pandemi Covid-19. Beberapa kebijakan pemerintah pusat yang berpengaruh terhadap produksi jagung yakni tentang pupuk, pengurangan subsidi benih, termasuk alat dan mesin pertanian (alsintan).

"Juga teman-teman bupati dan kami sendiri, mengambil kebijakan untuk tidak menanam jagung di lereng-lereng gunung yang kemiringannya di atas 15 persen. Sangat berbahaya untuk banjir dan lain-lain. Jadi tidak berkurang, tetap di atas satu juta ton," dia menjelaskan.

Dilihat dari aspek kesejahteraan petani, Rusli menilai ia sudah berusaha keras agar harga jagung tetap stabil. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak begitu terasa khususnya bagi petani jagung.

"Produksi melimpah, harganya stabil bahkan pemerintah dilarang ekspor tapi memenuhi kebutuhan dalam negeri," ia menandaskan.

Simak juga video pilihan berikut:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya