Kisah Mengharukan Pastor Katolik Tuntun Syahadat Seorang Muslim Jelang Ajalnya

Oleh Muhamad Ridlo pada 15 Apr 2022, 00:00 WIB
Diperbarui 15 Apr 2022, 00:00 WIB
Rohaniwan Katolik, Romo Boni Fausius Abbas (tengah). (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Rohaniwan Katolik, Romo Boni Fausius Abbas (tengah). (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Kisah indahnya toleransi ini terjadi beberapa tahun lampau, di sebuah kota lereng selatan Gunung Slamet, Purwokerto.

Ini adalah kisah bagaimana toleransi mewujud dalam kondisi yang sulit dan unik. Toleransi adalah soal hati.

Kisah itu diceritakan oleh Boni Fausius Abbas  ketika menjadi pembicara dalam Sarasehan Budaya dan Buka Bareng Kerukunan Umat Beragama bertajuk ‘Wareg Bareng Kencot Bareng’ yang digelar Komunitas Kristiani dan Komunitas Muslim di Majenang, di Gereja Santa Theresia, Senin sore, 27 Mei 2019.

Suatu hari, Romo Boni, seorang Rohaniwan Katolik menengok tetangganya yang tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Kota Purwokerto. Mendadak, seorang tenaga medis rumah sakit tersebut tergesa mendekati Romo Beni.

Si dokter mengatakan ada seorang pasien yang tengah menjelang ajal. Ini adalah rumah sakit yang berafiliasi dengan organisasi yang identik dengan agama Kristen. Tentu, Romo Boni ini sudah dikenal sebagai rohaniwan.

Semula, baik petugas medis mapun Romo Boni mengira pasien yang hendak meninggal ini beragama Kristen. Belakangan diketahui, pasien yang dimaksud adalah seorang muslim.

Jiwa toleran Romo Boni diuji. Hatinya sempat gundah.

“Saat itu pasien masih sadar,” ucapnya, kala itu.

Perlu diketahui, ketika seorang muslim hendak meninggal dunia, maka pendamping rohani yang bisa dari kalangan keluarga atau pemuka agamanya menuntunnya untuk mengucapkan kalimat Allah dan syahadat.

Masalahnya, pikir Romo saat itu, jika ia mengucapkan syahadat, maka secara agama Katolik salah. Pun, ia ragu sebagai penganut Katolik menuntun seorang muslim mengucapkan kalimat-kalimat suci dalam agama Islam.

Namun, ia melihat tak ada orang yang menuntun pasien muslim. Nuraninya pun bergemuruh lebih kencang untuk menolong saudara muslimnya ini. Karenanya, ia bertekad menuntun si muslim mengucapkan syahadat atas nama toleransi.

“Saya berulang-ulang mengucapkan Asyhadu Allaa Ilaahaillallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadarrosulullah. Saya ingin agar ia berada dalam keimanannya,” ucap Romo Sastor Boni.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

 


Muslim Kembali ke Tuhannya dalam Iman

Fakta-fakta Tentang Siksa Kubur Dan Ini Nyata!
Perbesar
Ilustrasi alam Barzah

Usai menuntun pasien yang menjelang kematiannya itu, Romo Boni kembali ke kamar perawatan tetangganya. Dua jam kemudian, ia dikabari bahwa pasien muslim tersebut sudah meninggal dunia.

Romo pun berdoa agar pasien muslim itu meninggal dunia dalam iman dan Islam.

Romo Boni yakin, apa yang dilakukannya tak salah. Sebab, ia hanya ingin menolong agar saudaranya yang berbeda agama itu kembali kepada Tuhannya dalam keimanannya.

Menurut dia, agama adalah jalan menuju Tuhan. Agama yang berebeda menyebabkan jalan menuju Tuhan berbeda. Namun tiap jalan ini punya tujuan akhir yang sama, yakni Tuhan.

Tiap agama mengajarkan kebajikan yang sama. Dan toleransi di antara agama bisa dibentuk jika ada dialog dengan keterbukaan menerima perbedaan.

Perbedaan itu bukan berarti antar umat beragama saling bertarung. Agama mengajarkan untuk saling menerima dan menghargai.

“Agama tidak menyebabkan kita berkelahi. Dalam agama kita diajarkan untuk saling menghormati,” ujar Romo Boni.

Dalam kesempatan yang sama, budayawan Banyumas, Ahmad Tohari, menilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia mesti dibangun dari berbagai sektor. Salah satu yang menurut dia krusial adalah kesejahteraan masyarakat.

“Sudah sering diucapkan. Kebersamaan orang gereja, orang masjid, orang pure itu sudah biasa. Akan tetapi, kebersamaan antara orang kenyang dan orang lapar itu yang tidak digarap sama sekali,” kata Ahmad Tohari.

 


Ekonomi dan Toleransi

Kuburan Unik Khas Kalimantan
Perbesar
Suasana Dango Subur atau rumah kuburan di desa Sebatih, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada 8 gustus 2019. Dango Subur atau rumah kuburan ini menyimpan perlengkapan dan peralatan semasa hidup untuk menjadi bekal untuk almarhum di alam lain. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Menurut Tohari, kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat menjadi faktor yang kerap dilupakan ketika membangun kerukunan atau toleransi. Ia pun mengkritik model pembangunan toleransi dan kerukunan umat beragama yang hanya berupa simbol belaka.

Itu termasuk oleh pemerintah yang kerap melupakan isu ekonomi dan sosial saat membangun budaya kerukunan. Pemerintah lalai bahwa kesejahteraan yan rendah bisa pula menjadi pemicu gangguan sosial dalam masyarakat.

Sebab, sikap intoleran masyarakat bisa berawal dari kondisi susah. Akibatnya, mereka mudah terprovokasi untuk melakukan beragam tindakan, ucapan yang membenarkan diri atau kelompok sendiri.

Tohari yakin, sebagian masyarakat yang mudah terprovokasi adalah masyarakat yang lapar. Lapar itu diartikan Tohari sebagai hasrat atau keinginan-keinginan ekonomi dan sosial yang belum terpenuhi.

Menurut dia, masyarakat yang kurang sejahtera lebih mudah terprovokasi. Ujungnya, orang tersebut bisa saja larut dalam isu sektarian.

Dia meminta agar tiap umat beragama belajar toleransi dalam agamanya masing-masing. Sebab, semua agama telah mengajarkan toleransi. Salah satunya adalah perintah untuk saling berbagi dan melindungi.

“Wareg bareng, kencot bareng’. Kelihatannya kasar, tetapi artinya menarik. Nah, artinya saya kira, penting sekali, kebersamaan, antara Jawa dengan Sunda, Tionghoa, itu sudah umum. Yang lebih penting adalah kebersamaan saat susah,” Tohari menjelaskan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya