Kisah Misterius Pria Tanpa Kepala di Pulau Kematian Nusakambangan

Oleh Liputan6.com pada 10 Apr 2022, 01:00 WIB
Diperbarui 10 Apr 2022, 01:00 WIB
Penampakan Pulau Nusakambangan dari dermaga Sleko, Cilacap, Jawa Tengah
Perbesar
Penampakan Pulau Nusakambangan dari dermaga Sleko, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Cilacap - Riwayat panjang Pulau Nusakambangan sebagai pulau penjara membentang nyaris seabad. Dalam perjalannnya, pengelolaan pulau penjara ini melewati masa pemerintahan dari era kolonial Belanda, Portugis, Jepang, hingga Pemerintah Indonesia.

Tentu saja, banyak kisah di luar fungsinya sebagai penjara. Hukuman mati, hingga kematian massal akibat malaria dan penyakit lainnya mewarnai sejarah panjang Nusakambangan.

Tak aneh jika pulau ini juga dijuluki sebagai pulau kematian. Dari julukan yang disematkan itu, bisa dibayangkan, betapa seram Nusakambangan di masa lampau.

Bahkan, hingga kini lembaga lembaga pemasyarakatan (lapas) yang berada di Pulau Nusakambangan dikenal sebagai yang terketat di Indonesia. Statusnya, nyaris tak tertembus.

Di antara julukan megah itu, terselip pula cerita misterius tentang hantu-hantu di Nusakambangan. Salah satu yang paling terkenal adalah pria tanpa kepala di Pulau Nusakambangan.

Kisah hantu misterius ini diceritakan oleh seorang kepala lapas yang bertugas di Jawa Tengah, pada 2017. Dia pernah menjadi petinggi di Lapas Nusakambangan.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:


Sosok Mbah Sukur, Pria Tanpa Kepala

Jalan di Pulau Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, diapit pohon-pohon raksasa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Jalan di Pulau Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, diapit pohon-pohon raksasa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Syahdan, pagi di tahun 2017, embun di rerumputan dan tumbuhan pakis baru saja menguap. Sinar matahari menerobos kanopi-kanopi belantara pelalar atau Dipterocarpus littoralis, tumbuhan khas Pulau Nusakambangan.

Meski sudah beranjak terang, kesan suram di jalanan yang tertutup pepohonan menjalar tetap terasa di pulau yang berjuluk Pulau Kematian. Saat itu mobil yang kami tumpangi pontang-panting mengejar rombongan Kakanwil Kemenkumham dan sejumlah Kalapas Nusakambangan yang mengendarai mobil dobel gardan.

Memasuki hutan belantara, kendaraan semakin dipacu cepat ketika melintas di jalan lurus yang agak menurun. Ketika jalan mulai menanjak, beberapa kali sang sopir, Eddy Teguh Widodo, Kalapas Kelas IIA Besi, membunyikan klakson.

"Nah, ini yang disebut Mbah Sukur," tuturnya, kala itu.

Eddy tak menjelaskan secara spesifik siapa sosok Mbah Sukur yang dimaksud. Sesaat melintas di tempat itu yang terlihat adalah semak dengan batas vegetasi pepohonan menjulang tinggi. Seingatku ada jembatan kecil di situ.

"Biar orang sini asli saja yang menjelaskan," ujarnya.

 


Penuturan Pegawai Lapas di Nusakambangan

Suasana di sebuah Lapas di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Suasana di sebuah Lapas di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Terdorong penasaran, sepulang dari kunjungan Lapas, kebetulan kami bertiga berganti mobil. Seorang staf Lapas ditugaskan mengantarkan kami. Tetapi, belakangan, dia tak mau disebut nama terangnya dalam kisah ini.

"Ndak enak, Mas," katanya, beralasan.

Dia mengaku baru mulai bertugas di Nusakambangan akhir 2014 lalu, atau baru sekitar 2,5 tahun. Namun, cerita-cerita seram sepanjang jalan menuju kantornya menyebabkan dia tak pernah mau pulang malam. Jika sore pun, dia menimbang-nimbang keadaan.

"Kalau ada teman seperjalanan tidak masalah. Tapi kalau sudah sore, apalagi malam tidak ada teman, lebih baik saya bermalam di kantor," ujar dia.

Soal sosok Mbah Sukur, dia menerangkan, berdasar cerita para petugas senior Lapas, sosok Mbah Sukur adalah pria tanpa kepala yang kadang menampakkan diri di malam-malam tertentu. Makanya, ia pun tak pernah mau pulang malam, apalagi pada malam-malam keramat.

"Perawakannya seperti laki-laki, tinggi, pakaiannya biasa. Tapi tidak ada kepalanya. Katanya banyak yang melihatnya, Mas. Kalau malam saya nggak berani pulang," tuturnya.

 


Berkaitan dengan Peristiwa 65?

Lembah Nirbaya
Perbesar
Lembah Nirbaya Nusakambangan. Foto: (Muhammad Ridlo/Liputan6.com)

Untuk mengobati penasaran, saya pun bertanya kepada petugas Lapas yang sudah cukup senior. Lagi-lagi, dia enggan disebut namanya. Ia bertutur, sosok Mbah Sukur tak lepas dari riwayat Nusakambangan sebagai salah satu tempat dibuinya ribuan tahanan politik pascaperistiwa 65.

Sebagian di antaranya, dieksekusi di sejumlah Lapas kuno Nusakambangan yang kini tak lagi digunakan, seperti Lapas Nirbaya, Karang Tengah, Limus Buntu, Karang Anyar, dan Lapas Gleger.

"Eksekusi kadang tidak dilakukan dengan ditembak. Ada pula yang dipenggal," tuturnya, berbisik, seolah ada yang hendak mendengar percakapan kami.

Namun, penjelasan ini pun tak tuntas. Musababnya, ketika ditanya, sosok Mbah Sukur ini sebagai eksekutor atau salah satu napi yang dieksekusi, ia menggeleng.

Dan sosok Mbah Sukur pun, tetap misterius, semisterius pohon pelalar yang kanopinya menjalar-jalar sepanjang jalanan Nusakambangan.

Tim Rembulan

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya