VMARS Buka Peluang Kolaborasi di Level Internasional

Oleh Switzy Sabandar pada 09 Apr 2022, 17:44 WIB
Diperbarui 12 Apr 2022, 17:27 WIB
VMARS
Perbesar
Logo VMARS (v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station), doc. ISSS - Indonesia Space Science Society, (Sumber : Istimewa)

Liputan6.com, Yogyakarta - Negara-negara luar mulai menilik program v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station (VMARS). Simulasi hidup di Mars yang bakal berdiri di Yogyakarta ini rutin dipresentasikan di berbagai perhelatan.

VMARS pada 2020 dan 2021 dipresentasikan di Jepang (Yokohama Triennale) dan Thailand (Bangkok Art Biennale). Pada Maret sampai Juni 2022, VMARS kembali dipresentasikan di Korea Selatan.

Pameran dan presentasi VMARS di Gwangju Korea Selatan digelar di sebuah bangunan baru bernama Gwangju Media Art Platform (GMAP). Bangunan megah dan futuristik ini dibangun karena Gwangju terpilih sebagai UNESCO Media Arts Creative City.

VMARS menjadi bagian dari pameran bertajuk Digital Resonance yang merupakan perhelatan pertama GMAP yang diselenggarakan Urban Art Lab Seoul dan Easywith. Dalam pameran itu, VMARS menjadi satu-satunya karya yang berasal dari Indonesia.

Selain Venzha Christ, penggagas VMARS, pameran ini juga menampilkan 22 karya dari 21 tim seniman atau komunitas di seluruh dunia, seperti, seperti Lawrence Wreck, Baron Lantenne, Mark Lee, Rafael Lozano-Hammer, Park Sang Hwa, Akihiko Taniguchi, Doo-Young Kwon, Sasa Spacal, dan Andreas Schegel. Adapun kurator dalam perhelatan ini adalah Seungah Lee dan Jyeong Yeon Kim, yang khusus berkecimpung dalam ranah seni media baru dan teknologi.

“Diharapkan bisa membuka peluang untuk mengajak kolaborator dari berbagai negara serta turut bekerja sama dalam pengembangan teknologi interdisipliner di ranah space science dan space exploration di Indonesia,” ujar Venzha Christ, Sabtu (9/4/2022).

 

Saksikan video pilihan berikut ini:


Proyek Percontohan

VMARS
Perbesar
VMARS (v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station) Prototype, doc. DOES University, (Sumber : Istimewa)

Menurut Direktur Indonesia Space Science Society (ISSS) ini, VMARS adalah proyek percontohan yang ditujukan untuk pengembangan pendidikan alternatif dan mandiri tentang astronomi dan sains antariksa di Indonesia sekaligus untuk memajukan potensi serta peran Indonesia dalam eksplorasi luar angkasa.

Sejumlah negara sudah mengeksplorasi planet Mars dengan mengirimkan misi tanpa awak. Pada 2020, NASA melakukannya dengan mengirimkan penjelajah perseverance, Uni Emirat Arab dengan misi bernama HOPE, dan China dengan misi Tianwen-1.

VMARS dan ISSS dalam mewujudkan analog Mars secara kolaboratif, yakni Venzha Christ dan ISSS, HONF Foundation, v.u.f.o.c lab, DOES University, Erix Soekamti, Grayce Soba, dan Dhoni Yudhanto.

Suasana Pameran dan Presentasi VMARS (v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station) pada Pameran di G.MAP (Gwangju Media Art Platform), Digital Resonance, doc. Jyeong Yeon Kim, (Sumber : Istimewa)

“Kolaborasi yang akan terbangun untuk pengembangan teknologi space exploration ini nantinya adalah hubungan antara lima faktor yaitu, komunitas, universitas, pemerintah, praktisi, dan sektor swasta,” ucap Venzha Christ.

Program utama VMARS tahap pertama atau prototype fokus pada tiga hal, yakni,  penelitian "Terraforming" dengan nama V-TF, pengenalan tentang "Space Farming" dengan nama V-SFM, dan menciptakan kreasi alternatif "Space Food" dengan nama V-SF.

Sementara, turunannya adalah program lintas disiplin, antara lain, riset Radio Astronomy, mengenal radiasi benda langit, pengenalan tentang Space Architecture, program kolaborasi Space Education, kreasi alternatif Space Food, inovasi teknologi Space Farming, serta penelitian Extra-Terrestrial life.

 


Simulasi Pelatihan Hidup di Planet Mars

VMARS
Perbesar
Suasana Pameran dan Presentasi VMARS (v.u.f.o.c Mars Analogue Research Station) pada Pameran di G.MAP (Gwangju Media Art Platform), Digital Resonance, doc. Jyeong Yeon Kim, (Sumber : Istimewa)

Sebagai pegiat space science, Venzha Christ telah mengikuti dua kali simulasi pelatihan hidup di Planet Mars. Pertama, pelatihan oleh Mars Society bernama Mars Desert Research Station (MDRS) di Utah, Amerika pada 2018.

Kedua, Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering (SHIRASE) oleh Field Assistant di Jepang pada 2019.

Kemudian pada 2020 Venzha Christ dan ISSS mulai menginisiasi sebuah bentuk kolaborasi dengan berbagai komunitas, universitas, dan institusi baik di Indonesia maupun internasional untuk mewujudkan dan membangun VMARS yang akan menjadi Analog Mars pertama di Asia Tenggara.

Beberapa analog Mars yang sudah dikenal di dunia, antara lain, HI-SEAS di Mauna Loa - Hawaii oleh NASA, Mars Desert Research Station (MDRS) di Utah oleh Mars Society, MARS-500 di IBMP Moskow hasil kolaborasi antara Rusia, ESA (European Space Agency) dan China,  D-Mars di Ramon Crater oleh Israel, F-MARS di Pulau Devon, Kutub Utara oleh Mars Society, serta Concordia Station di Antartika, Kutub Selatan oleh Prancis dan Italia (ESA).

“Dengan menilik pada perkembangan tersebut, serta kesadaran akan kekayaan potensi alam dan sumber daya manusia Indonesia maka sudah saatnya Indonesia untuk turut andil dan mengambil bagian dalam bidang eksplorasi luar angkasa lewat VMARS,” kata Venzha Christ.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya