Nini Thowong, Boneka Arwah ala Jawa yang Tak Kalah Mistis

Oleh Switzy Sabandar pada 06 Apr 2022, 03:00 WIB
Diperbarui 06 Apr 2022, 03:00 WIB
nini thowong
Perbesar
Boneka dari gayung batok kelapa ini bisa menari setelah kesurupan. (foto: Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Liputan6.com, Yogyakarta - Boneka nini thowong biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Nini thowong sebenarnya memiliki rupa yang lucu.

Boneka tersebut memiliki wujud seperti manusia. Bahan pembuat boneka tersebut berupa batok kelapa yang digunakan sebagai kepala.

Batok kelapa itu dihaluskan dan dicat putih lalu digambari selayaknya wajah manusia. Selanjutnya, untuk tubuhnya dibuat dari kerangka bambu.

Boneka arwah tersebut juga diberikan pakaian yang tentunya membuat wujudnya semakin persis manusia. Permainan boneka nini thowong populer di kalangan masyarakat Pundong, Gunungkidul, hingga Kotagede.

Sekilas, nini thowong terlihat biasa saja, tetapi permainan ini bisa dikatakan mengerikan dan punya kesan mistis.  Dikutip dari berbagai sumber, boneka tersebut oleh pemainnya dikenakan baju adat berupa kain, kebaya, selendang sampur, dan stagen.

Untuk aksesorisnya, bagian kepala boneka akan ditambahkan bunga hiasan kepala yang diambil dari kuburan. Permainan spiritual ini sudah ada sejak zaman adanya kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senopati.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan video pilihan berikut ini:


Pertunjukan

Konon, seperti namanya, wujud dari boneka nini thowong adalah perempuan. Nini berarti gadis muda, sedangkan thowong merupakan penggambaran wajah atau sekujur tubuh yang putih.

Uniknya, untuk memainkan boneka ini, nini thowong akan terlebih dahulu menjalani sebuah ritual. Boneka nini thowong akan dibawa ke kuburan pada waktu matahari tenggelam dengan seorang pawang sambil membawa sesaji.

Sampai di kuburan dilakukan pembakaran kemenyan dan pembacaan mantra. Setelah terisi dengan roh anak, nini thowong akan digendong menuju desa dengan iringan lagu boyong.

Cara mainnya ada sekitar empat hingga lima orang perempuan duduk dan mereka akan memegangi bagian bawah atau kaki boneka. Selanjutnya setelah roh dipanggil dan masuk ke dalam boneka biasanya akan diiringi dengan iringan musik.

Lagu-lagu pengiring yang biasanya dimainkan adalah lagu boyong, lagu bageya, dan ilir-ilir. Boneka nini thowong nantinya akan bergerak-gerak sendiri tak terkendali sesuai dengan iringan musiknya.

Zaman dahulu, boneka ini digunakan sebagai salah satu pertunjukan atau juga ritual untuk memanggil hujan. Sementara di desa Grudo, Pundong, permainan ini dikatakan sebagai sosial magis dan masyarakat mempercayai bahwa permainan ini bisa mengusir penyakit.

 

Penulis: Tifani

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya