Pelajar SMA Tewas Jadi Korban Klitih di Yogyakarta, Polisi Beberkan Kronologinya

Oleh Ahmad Apriyono pada 04 Apr 2022, 15:26 WIB
Diperbarui 05 Apr 2022, 10:02 WIB
Ilustrasi Begal Motor
Perbesar
Ilustrasi Klitih

Liputan6.com, Yogyakarta - Seorang siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Daffa Adzin Albasith menjadi korban klitih alias kejahatan jalanan hingga meninggal dunia, Minggu dini hari (3/4/2022). Kasus yang terus berulang hingga kesekian kalinya itu membuat muram wajah Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar yang humanis.

Dalam jumpa pers hari ini, Senin (4/4/2022), Dirreskrimum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta Kombes Pol Ade Ary Syam Indriadi menceritakan kronologi kejadian klitih tersebut. Awalnya kelompok korban mengendarai 5 sepeda motor berjumlah 7 orang pada pukul 02.00 dini hari.

Sekitar 100 meter sebelum TKP, kelompok korban mampir ke warung makan. Sebagian memesan makanan, sebagian besar belum sempat menyetandarkan sepeda motornya.

"Saat itu lewat dua sepeda motor yang membawa 5 orang membelayer (memain-mainkan) gas motor seperti mengejek kelompok korban. Ha inilah yang menjadi pemicu," katanya.

Kelompok korban berusaha mengejar kelompok pelaku ke arah utara, sebanyak 4 sepeda motor dari kelompok korban mengejar kelompok pelaku. Di depan, kelompok pelaku berhenti dan memutar balik, menunggu kelompok korban tiba.

"Motor pertama kelompok korban berhasil lolos dari pukulan benda tajam. Korban berada di motor kedua, karena yang membonceng mengelak, korban terkena sabetan benda tajam pada bagian muka. Berdasarkan keterangan saksi itu menggunakan gear yang diikat tali," katanya.

Setelah kejadian itu, dua sepeda motor yang lain dari kelompok korban balik kanan dan pelaku melarikan diri. Korban saat itu masih melanjutkan maju ke arah timur sementara pelaku kabur ke arah selatan.

"Korban ditemukan petugas Direktorat Shabara yang sedang berptaroli. Dibawa ke Rumah Sakit Harjolukito, dan meninggal dunia di rumah sakit," katanya. 

Sampai saat ini polisi sudah melakukan tiga kali olah TKP. Ade Ary mengatakan, pihaknya masih melakukan pendalaman, dan mencari saksi, dan orang2-orang yang terlibat.

"Saksi hansip, petugas busway, dan orang-orang di angkringan, kami juga masih melihat jejak CCTV," katanya. 

Atas kejadian itu, dirinya mengimbau orangtua untuk memperhatikan kembali anak-anaknya. Mengingat kejadian kejahatan jalanan sering memakan korban dari kalangan anak-anak muda dan pelajar. 

"Ini mohon dengan hormat, kita selaku orangtua mengingatkan anak-anak kita tidak melakukan aktivitas di malam hari," katanya.  

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Perbanyak CCTV

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana mendesak kepolisian segera menemukan pelaku klitih yang meresahkan warga Jogja. Peristiwa kekerasan jalanan terjadi berulang harus menjadi perhatian bersama untuk diambil langkah nyata dan disudahi.

“Miras ilegal dan narkoba harus segera diberantas. Kemudian geng yang mengarah pada aksi ini harus dibubarkan, dipantau para anggotanya dan dibina. Sekolah wajib membina bersama orang tua. Kerjasama orangtua dan sekolah menjadi sangat penting dan harus intens. Komunikasi harus baik untuk menangani masalah ini. Kalau sekolah dan keluarga kesulitan membina, kita bisa kerjasama minta tolong aparat untuk membina,” tegas Huda, Senin (4/4/2022).

Di sisi lain, Huda meminta patroli kepolisian untuk diperbanyak termasuk melibatkan warga. Penerangan jalan juga CCTV harus diperbanyak agar membuat orang yang hendak melakukan aksi kejahatan berpikir seribu kali.

"Penerangan jalan di tempat tempat rawan harus diperbaiki dan juga dipasang kamera CCTV. Diumumkan seluruh tempat di kota dan jalan-jalan tersebut dalam pantauan CCTV sehingga pelaku harus berpikir ulang jika mau beraksi," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya