Menko Luhut Kaget Ada Industri Batu Bara di Kawasan Candi Muarajambi

Oleh Gresi Plasmanto pada 20 Jan 2022, 09:00 WIB
Diperbarui 20 Jan 2022, 09:00 WIB
Menko Luhut
Perbesar
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) saat memberikan keterangan pers usai memimpin rakor di Jambi, Rabu (19/1/2022). Luhut meminta industri penumpukan atau stokcpile batu bara dipindahkan dari KCBN Muarajambi. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Liputan6.com, Jambi - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memimpin rapat koordinasi pengembangan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Rapat yang digelar di Rumah Dinas Gubernur Jambi, Rabu (19/1/2022) itu, dilakukan untuk mempercepat pengembangan KCBN Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, sebagai destinasi pariwisata berkualitas.

Dalam rapat yang dihadiri para pejabat penting itu, Menko Luhut mengaku takjub dengan jejak peradaban situs percandian Muarajambi. KCBN Muarajambi pada abad VII-XIII pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha yang terluas di Indonesia dan Asia Tenggara. Situs percandian Muarajambi juga digadang-gadang sebagai pusat pendidikan tertua di dunia.

Namun, selain takjub dengan jejak peradaban dan tinggalan di situs percandian Muarajambi, Luhut juga kaget setelah diperlihatkan persoalan industri penumpukan (stockpile) batu bara yang sampai sekarang masih mengepung situs bersejarah itu.

Soal keberadaan idustri stockpile batu bara di kawasan cagar budaya itu, kata Luhut, tidak bisa lagi dibiarkan beroperasi. Dia meminta agar industri batu bara itu dipindahkan.

"Ini (industri batu bara) enggak boleh di kawasan bersejarah, jadi nanti izinnya bisa dicabut. Ini tidak boleh ditoleransi," kata Luhut saat memimpin Rakor di hadapan para pejabat yang hadir.

Luhut mengatakan, industri penumpukan batu bara harus segera dipindahkan. Untuk menjadikan KCBN Muarajambi sebagai destinasi berkualitas, kata dia, harus bersih dari industri karena bisa mengancam kelestarian candi.

"Kayak mana caranya, pokoknya pindahin itu stockpile batu bara. Dua tiga bulan ini harus selesai," ujar Luhut.

Luhut telah mengutus deputinya untuk memimpin rapat lanjutan guna menjermahkan satu program. Akan ada sekitar 10 lintas sektoral kementerian dan instansi yang akan terlibat dalam pengembangan kawasan percandian Muarajambi, termasuk mengatasi persoalan industri di kawasan itu.

"Yang pertama kita akan minta untuk memindahkan semua stockpile batu bara di kawasan itu. Jangan ada lagi karena kawasan Muarajambi itu dulunya adalah universitas tertua," kata Luhut.

KCBN Muarajambi telah ditetapkan sebagai kawasan inti dalam satu ruang geografis seluas 3.981 hektare. Dari total luasan kawasan ini yang telah dibebaskan baru mencapai 31 hektare atau 0,78 persen dan selebihnya masih dikuasi oleh masyarakat dan pengusaha.

Tenaga lokal sedang memugar Candi Teluk I di KCB Muarajambi, Jumat (13/8/2021). Keberadaan situs yang terpaut dekat dengan batu bara mengakibatkan batu candi menghitam. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Saat ini, lanjut Luhut, Kementerian ATR/BPN, Kemenkumham, dan Kemensetneg tengah menyusun Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional (RTR KSN) untuk KCBN Muarajambi. RTR KSN Murajambi itu ditargetkan selesai pada bulan September tahun 2022.

Keberadaan industri batu bara di kawasan Cagar Budaya Muarajambi di sisi selatan itu tak hanya berdampak pada kelestarian situs. Partikel debu batu bara dari yang berterbangan juga bisa mengancam kesehatan warga di Desa Muara Jambi.

Luhut mengatakan, terdapat perusahaan yang izinnya berlaku hingga 2038. Tercatat ada 7 perusahaan pengumpulan batu bara, dan satu pabrik Curd Palm Oil/CPO yang berada di sisi selatan KCBN Muarajambi.

"Pencemaran lingkungan dan itu juga berpotensi menyebabkan hilangnya bangunan cagar budaya yang belum ditemukan, dan ini dapat menggagalkan KCBN Muarajambi menjadi warisan dunia," kata Luhut.

Simak video pilihan berikut ini:


Jejak Peradaban Muarajambi

Foto 1 Candi Teluk I
Perbesar
Candi Teluk I di Kawasan Cagar Budaya Muarajambi di Kabupaten Muaro Jambi, dalam progres pemugaran. Candi peninggalan masa klasik itu keberadaanya sekarang terkepung oleh stockpile Batu Bara. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Berada di tepi aliran Sungai Batanghari–sungai terpanjang di Sumatera yang melewati Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, banyak peninggalan peradaban tua masih tersisa. Bangunan candi-candi di Muaro Jambi itu tersebar dari barat ke timur sepanjang 7,5 kilometer mengikuti aliran Batanghari.

Arsitektur purba berupa candi-candi terpendam berabad-abad silam. Sebagian reruntuhan bangunan telah dipugar dan dibuka untuk wisatawan. Sementara, masih ada puluhan gundukan tanah yang di dalamnya menyimpan struktur bangunan kuno.

KCBN Muarajambi ini terletak di Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi atau dekat dengan Batanghari, yang merupakan sungai terpanjang di Sumatra. Keberadaan situs bersejarah ini merupakan rangkaian keberadaan Suarnadwipa atau pulau emas.

Sejumlah turis asing saat berkunjung di situs candi Kedaton di kompleks percandian Muarajambi, Kabupaten Muaro Jambi. Kini akibat pandemi Covid-19 membuat industri pariwisata di Muarajambi terpuruk. (Liputan6.com / dok Desa Wisata Muarajambi)

Kalangan arkeolog menyimpulkan percandian Muarajambi adalah sebuah komplek percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara yang luasnya mencapai delapan kali luas candi Borobudur. Kawasan Candi Muarajambi total memiliki luas 3.981 hektare, tersebar di delapan desa yang sebagian besar dihuni masyarakat Melayu Jambi.

Data sejarah dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi mengungkap, bahwa percandian Muarajambi pada masa lampau menjadi pusat pendidikan ajaran Buddha. Hal itu berdasarkan temuan-temuan artefak seperti reruntuhan Stupa, Arca Prajaniparmita, dan temuan lainnya.

Dahulu pada tahun 671 Masehi, seorang pengelana asal Tiongkok I-Tsing, atau Yi Jing, mencatat, ribuan biksu dari Thailand, India, Srilanka, Tibet, Cina, datang ke Muarajambi untuk memperdalam ilmu sebelum ke Nalanda (saat ini kawasan Bihar di India).

Masih dalam literatur sejarah yang sama menyebutkan, Maha Guru Buddha Atisha Dipangkara pernah belajar dan tinggal menetap di candi Muarajambi selama 11 tahun atau sekitar tahun 1011-1023 masehi.

Atisha adalah seorang maha guru yang mempunyai peran dalam membangun gelombang kedua Buddhisme di Tibet. Ia pernah menjadi murid dari guru besar Buddhisme, yakni Serlingpa Dharmakirti.

Pada tahun 2016 silam, rombongan bhiksu dari beberapa negara pernah melakukan perjalanan suci ke candi Muarajambi. Ketua rombongan Bhiksu Jangchup Choeden mengatakan, bahwa ajaran Boddhi Citta (batin pencerahan) umat Buddha di Tibet diadopsi dari ajaran maha guru Atisha dari candi Muarajambi.

"Ajaran boddhi cita itu oleh maha guru Atihsa dibawa ke Tibet, sampai sekarang ajaran boddhi cita masih dilestarikan oleh masyarakat komunitas Buddhis internasional di Tiber," kata Bhiksu Jangchup Choeden beberapa tahun silam saat melakukan perjalanan suci di candi Muarajambi.

Di Kawasan Percandian Muarajambi itu tersebar 82 reruntuhan bangunan kuno atau yang disebut menapo. Saat ini beberapa bangunan telah dipugar, seperti Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Astana, Candi Kembar Batu, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Tinggi I, Candi Kedaton,Candi Koto Mahligai, dan Candi Teluk I.

Selain itu ada tinggalan lainnya, mulai dari kanal dan sungai kuno yang saling terhubung dengan bangunan candi.

Keberadaan situs percandian Muarajambi, selain ramai dikunjungi kalangan pelancong, juga sekarang banyak didatangi umat Buddha dari berbagai negara untuk melakukan perjalanan suci.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya