Membumikan Isu Perubahan Iklim di Tengah Masyarakat

Oleh Huyogo Simbolon pada 30 Nov 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 30 Nov 2021, 06:00 WIB
Ilustrasi Penanggulangan Perubahan Iklim
Perbesar
Ilustrasi Penanggulangan Perubahan Iklim (Markus Spiske/Unsplash).

Liputan6.com, Bandung - Perubahan iklim merupakan fenomena alam yang banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia dibanding alam dan merupakan isu yang sudah puluhan tahun mengemuka di publik, meskipun dianggap masih merupakan isu elite bagi sebagian orang.

Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi perubahan iklim COP 26 di Glasgow, Skotlandia, belum lama ini merupakan usaha untuk mencari titik temu dari para kepala negara dalam mengatasi laju perubahan iklim mengingat dampaknya sangat luar biasa bagi kehidupan di muka bumi. Dari banyak perspektif, perubahan iklim dipandang jauh lebih dahsyat daripada perang nuklir, bencana kelaparan, dan sebagainya.

Namun, mengapa sepertinya sebagian besar masyarakat tidak begitu memperhatikan atau menyadari dan berusaha untuk mengetahui serta mengambil bagian untuk turut serta memerangi atau menjadi garda depan dalam masalah perubahan iklim? Saya duga ada beberapa sebab. Pertama, adalah pemahaman yang keliru terhadap perubahan iklim.

Perubahan iklim adalah perubahan statistik parameter iklim yang dicirikan dari nilai rata-rata, variasi atau kombinasi keduanya yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dan alam. Parameter iklim yang dimaksud antara lain adalah temperatur dan curah hujan. Perubahan iklim didahului oleh kondisi pemanasan global dikarenakan meningkatnya gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer sehingga radiasi balik dari matahari akan diubah menjadi panas dan dipantulkan kembali ke atmosfer dan permukaan bumi oleh GRK tersebut.

Dalam konteks GRK inilah banyak hal bisa dilakukan dalam mengatasi perubahan iklim. Gas rumah kaca yang biasa dikenal adalah karbon dioksida, uap air, ozon, nitrogen oksida, metana dan CFC. Sumber dari GRK ini bermacam-macam dan sebagian besar terdapat dalam keseharian kita. Misal yang kita lakukan adalah dalam kegiatan memasak, menyalakan televisi, menggunakan AC, kulkas, sofa dari busa, kendaraan bermotor, dan lain-lain.

Di bidang pertanian, misal mengolah tanah juga merupakan salah satu sebab meningkatkan kandungan karbon dioksida ke atmosfer. Di bidang industri, misal aktivitas pabrik meningkatkan berbagai gas dan polutan ke udara. Di bidang kehutanan, misal mengurangi kemampuan hutan untuk menyerap karbon dioksida melalui penebangan liar/penebangan yang tidak direncanakan dengan matang.

Beberapa akibat yang muncul misalnya banjir di Kalimantan beberapa waktu ini merupakan respons dari alam dalam mencapai keseimbangan diri. Kesadaran masyarakat dan aparatur negara serta swasta untuk mengendalikan perubahan tata guna lahan terasa masih setengah-setengah dan serba tanggung.

Isu perubahan iklim ini akan semakin mudah untuk dipahami bila kita melihatnya dari perspektif sistem iklim yang berupa atmosfer (udara), hidrosfer (air), litosfer (bumi padat), kriosfer (es), biosfer (hewan dan tumbuhan) dan humanosfer (manusia). Keenam sub sistem iklim tersebut saling mempengaruhi dan hubungannya demikian kompleks. Ketidakseimbangan akibat gangguan tertentu pada salah satu subsistem akan sangat berpengaruh pada sub sistem yang lain. Bahkan dalam jangka panjang akan menjadi gangguan pada keseluruhan sub sistem iklim tersebut dan dampaknya sudah kita rasakan sampai dengan saat ini.

Gunung-gunung es dan lempengan es yang makin lama semakin mencair sehingga tinggi muka air laut meningkat menyebabkan lama kelamaan negara kepulauan atau pulau pulau kecil di berbagai belahan bumi akan terendam dan peradaban di negara atau pulau-pulau tersebut akan punah. Itulah sebabnya jangan heran kalau kemudian negara-negara kepulauan kecil sangat lantang bersuara dalam forum-forum PBB menyangkut isu perubahan iklim.

Seiring dengan waktu, kesadaran negara-negara besar pengemisi karbon dalam upaya mengurangi kecepatan perubahan iklim makin tumbuh dan didukung oleh rakyatnya. Kesadaran masyarakat dunia dalam merasakan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi terutama akibat perbuatan manusia didukung oleh fakta-fakta ilmiah yang dikemukakan oleh para peneliti dan saintis. Meskipun ada suara kontra dari saintis terkait dengan isu perubahan iklim ini, tetapi suaranya sangat kecil.

Indonesia yang mempunyai komitmen kuat untuk mengurangi laju pemanasan global masih belum bisa keluar dari masalah kebencanaan hidrometeorologis misalnya banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bencana-bencana alam tersebut disinyalir diakibatkan oleh perubahan iklim dimana variabilitasnya diperparah oleh kejadian El Nino dan La Nina di samudra Pasifik, Dipole Mode di Samudera Hindia, Monsoon, dan lain-lain.

Kalimantan yang diproyeksikan oleh pemerintah sebagai pusat pemerintahan tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim. Banjir yang terjadi di provinsi-provinsi di Kalimantan seperti saat ini tidak lepas dari peningkatan curah hujan ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim global. Lingkungan yang rusak akibat aktivitas manusia di provinsi-provinsi tersebut dengan menggusur hutan dalam skala besar mempunyai kontribusi pada laju perubahan iklim global. Perkebunan dan pertambangan dianggap sebagai penyebab kerusakan hutan tersebut sehingga menyebabkan siklus air menjadi terganggu.

Bila permasalahan ini tidak segera dituntaskan maka dalam jangka panjang bisa menjadi potensi bencana alam, non alam dan sosial. Oleh sebab itu, maka kebijakan dan rencana aksi nasional harus makin digelorakan dan didetailkan sampai level pemerintahan desa.

Pendidikan dari mulai PAUD sampai perguruan tinggi bisa menjadi sumbangan berharga bagi kesehatan lingkungan. Lingkungan yang sehat pada berbagai skala ruang dan waktu dicirikan dengan tidak adanya bencana banjir dan longsor pada musim hujan serta kekeringan dan karhutla pada musim kemarau, terjaga ketersediaan mata airnya, udara masih segar karena banyak pepohonan yang menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen, dan lain-lain.

Contoh-contoh sederhana bisa diajarkan dari pendidikan formal dan informal serta keluarga. Dicontohkan oleh para pejabat dan aparatur negara serta mengajak masyarakat, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat untuk turut berpartisipasi.

Seminar, lokakarya, pelatihan yang menyasar pada generasi muda dan guru misalnya geografi khususnya untuk kawasan tersebut bisa menjadi sumbangan berharga dalam membuka wawasan dan meningkatkan kualitas mereka. Guru geografi se-pulau Kalimantan serta pulau-pulau lainnya se-Indonesia harus makin diperkuat kemampuannya dalam mengajarkan kecintaan generasi muda pada tanah air dan lingkungan seperti yang dilaksanakan pada bulan Juni dan Oktober 2021 lalu.

Dengan demikian maka diharapkan kualitas SDM makin membaik dan masyarakat makin menyadari dan bisa berkontribusi pada isu-isu terkait masalah perubahan iklim terasa semakin membumi melalui langkah-langkah sederhana dalam kesehariannya. Efek kupu-kupu yang dilaksanakan terus menerus, misal tidak harus menunggu event-event besar nasional ataupun dunia, akan makin mengurangi laju pemanasan global dan perubahan iklim di masa depan.

(Penulis Dr. Joko Wiratmo, Dosen Prodi Meteorologi ITB)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya