Cerita Yuliadi Bahu Membahu Kala Pandemi Lewat Aplikasi 'Belanja dari Rumah'

Oleh Panji Prayitno pada 19 Okt 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 19 Okt 2021, 07:00 WIB
Cerita Yuliadi Bahu Membahu Saat Pandemi Lewat Aplikasi Buatan Sendiri
Perbesar
Penampakan aplikasi Pasarmu.id saat membantu pemerintah Kota Cirebon dalam operasi pasar murah. Foto (Istimewa)

Liputan6.com, Cirebon - Semangat bahu-membahu menginspirasi Musfi Yuliadi membuat aplikasi yang bisa membantu pelaku usaha kecil bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Pria asal Perumnas Kota Cirebon tersebut menciptakan aplikasi marketplace untuk membantu pedagang kecil dan masyarakat agar tetap bisa berbelanja meskipun harus di rumah. Aplikasi tersebut bernama Pasarmu.id.

"Pasarmu.id hadir untuk membantu masyarakat bisa menjadi konsumen aktif di tengah pandemi. Kami bentuk ini tahun 2020 lalu dan sekarang Alhamdulillah menjadi salah satu alternatif pilihan belanja murah," kata Musfi, Senin (18/9/2021).

Musfi mengakui, keberadaan pasarmu.id menjadi solusi dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Aplikasi ecommerce asal Cirebon tersebut menjadi solusi membantu penjualan produk pasar maupun UMKM.

Pria yang akrab disapa Adi tersebut menuturkan, ide awal munculnya ecommerce dari banyaknya keluhan masyarakat terkait kesulitan orang belanja di pasar saat pandemi covid-19.

"Orang tidak bisa belanja di pasar kemudian pedagang juga turun omsetnya. Kami berfikir bagaimana solusi minimal membantu masyarakat Kota Cirebon dulu," ujar dia.

Aplikasi yang dirilis sejak Septembar 2020 lalu mendapat respon baik dari masyarakat. Peningkatan pengguna aplikasi selama masa pandemi covid-19 terus meningkat.

Bahkan, Aplikasi tersebut membantu masyarakat saat tingginya kebutuhan menjelang hari raya Idul Fitri tahun 2021. Data terakhir, pengguna aplikasi pasarmu.id mencapai 3700 orang. Per hari, pengelola pasarmu.id melayani 20 sampai 30 pesanan.

"Itu data terbaru sebelumnya ketika covid-19 masih tinggi bulan Juni Juli bisa sampai 40 pesanan per hari," ujar dia.

Adi menyebutkan, sejak penerapan PPKM, omset yang didapat sampai 300 persen. Terjadi peningkatan terutama pada bulan Juli.

Dia menyebutkan, rata-rata pesanan saat PPKM mencapai 3-40 per hari. Setelah status PPKM di Kota Cirebon semakin longgar, rata-rata pesanan hanya 20-30 per hari.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Jenis Pesanan

Cerita Yuliadi Bahu Membahu Saat Pandemi Lewat Aplikasi Buatan Sendiri
Perbesar
Operasi pasar murah dalam format digital yang diakses melalui Pasarmu.id. (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Dalam pengelolaannya, pasarmu.id melayani pesanan segala macam bentuk bahan pokok maupun UMKM. Produk pasar yang dipesan tersebut kemudian dikemas ulang sebelum dikirim ke pemesan.

Sementara keuntungan aplikator yang didapat dari selisih harga dan pengemasan ulang. Untuk produk UMKM, aplikator memanfaatkan cashback dari pemilik UMKM yang bekerjasama dengannya.

"Karena sistem pembayaran setelah pesanan sampai ke tangan konsumen jadi kami bayarkan dulu hasil pesanan pengguna kepada pedagang pasar atau UMKM. Setelah pesan kami kemas ulang kemudian besoknya kami kirim ke pemesan," ujar dia.

Adi mengatakan, semua pesanan yang dilakukan melalui aplikasi gratis ongkos kirim. Namun, jika ada pelanggan yang ingin memesan dan dikirim saat itu juga, akan dikenakan biaya kirim.

Adi mengakui, saat ini aplikasi pasarmu.id baru diakses melalui google playstore untuk android. Untuk pengguna iphone, layanan aplikasi pasarmu.id bisa diakses melalui website.

"Kedepan kami akan kolaborasi dengan program bank sampah jadi warga yang dapat point dari bank sampah bisa ditukar dengan belanja di pasarmu.id," ujar dia.

Yuliadi mengaku masih ada pelaku UMKM di Cirebon dan sekitarnya yang belum terbiasa dengan digitalisasi. Bahkan, kata dia, pelaku UMKM yang tiak terbiasa dengan digitalisasi kalah saing.

Yuliadi kerap menggandeng pelaku UMKM dalam membantu penjualan produk. Yuliadi membantu pelaku UMKM dari sisi proses promosi.

"Mulai dari foto produk sampai unggah ke aplikasi dan promosi termasuk mengambil produk mereka ketika ada pesanan. Keuntungan yang kami dapat dari cashback yang diberikan pelaku UMKM," ujar Yuliadi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Digitalisasi

Cerita Yuliadi Bahu Membahu Saat Pandemi Lewat Aplikasi Buatan Sendiri
Perbesar
Gebyar Produk UMKM Momentum Bangkit dari Pandemi dan Pulihkan Ekonomi Kota Cirebon. Foto (Istimewa)

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon Maharani Dewi mengatakan, geliat digitalisasi UMKM mulai terlihat sebelum status PPKM Kota Cirebon turun ke level 2.

Terlihat dari sirkulasi pelaku UMKM dengan mudah belanja bahan baku.

Dia mengatakan, dalam upaya meningkatkan geliat ekonomi sektor UMKM, Pemkot Cirebon menyalurkan bantuan modal melalui BPUM sebesar Rp 1,8 juta.

Dia mengaku, selama pandemi hingga puncak bulan Juni, hampir 90 persen kondisi penjualan UMKM di Kota Cirebon menurun. Sekitar 2000 UMKM harus menerima imbas mulai dari sepi penjualan hingga gulung tikar.

Pemkot Cirebon, kata dia, rutin memfasilitasi pelaku UMKM untuk ikut pelatihan dan bimbingan teknis. Membantu menambah wawasan bisnis UMKM dengan memanfaatkan digitalisasi.

"Kami kerjasama dengan salah satu marketplace dan baru tahap pertama memberi pelatihan," ujar dia.

Hanya saja, tidak semua pelaku UMKM cepat paham dan mampu menyesuaikan diri. Dia menjelaskan, sebagian besar pelaku UMKM terdiri dari perempuan dengan skala usia yang tidak lagi remaja.

Namun demikian, para pelaku UMKM banyak memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk mereka. Begitu juga Pemkot Cirebon menyediakan tempat penyimpanan produk UMKM dan membantu mempromosikan produk mereka.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya