Riwayat Kue Apem yang Sarat Makna dalam Tradisi di Keraton Yogyakarta

Oleh Switzy Sabandar pada 28 Jul 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 28 Jul 2021, 06:00 WIB
apem
Perbesar
ilustrasi kue apem/copyright Shutterstock

Liputan6.com, Yogyakarta - Kue apem merupakan makanan yang cukup legendaris di Yogyakarta. Makanan yang terbuat dari tepung kanji, tepung beras, kelapa muda serta bahan lainnya ini tidak hanya terasa lezat, tetapi kue apem juga menyimpan nilai budaya dan historis yang menarik.

Dikutip dari radioedukasi.kemendikbud.go.id, istilah kue apem diserap dari bahasa Arab, yaitu afwan yang artinya adalah maaf. Kemudian masyarakat Jawa menyebutnya apem.

Kue apem dibuat pada masa wali songo menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Begini kisahnya, dahulu penduduk desa Jatinom, Klaten pernah mengalami kelaparan.

Lantas Ki Ageng Gribig yang merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya ditemani oleh salah satu murid Sunan Kalijaga menengok. Kedua tokoh tersebut membuat kue apem dan membagikannya kepada penduduk desa.

Selain itu, mereka juga mengajak para warga untuk melafalkan Qawiyyu yang berarti Allah Maha Kuat sembari memakan kue tersebut. Setelah mengonsumsi kue apem, para warga menjadi kenyang.

Hal itu memunculkan pemahaman filosofis dari kue apem yang identik dengan permohonan maaf, baik permohonan maaf atas kesalahan yang telah diperbuat kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama.

Berdasarkan kisah tersebut kue apem juga berhasil menjadi sarana silaturahmi. Selain nilai historis, kue apem juga menyimpan nilai kebudayaan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tradisi Keraton Yogyakarta

Kue ini termasuk dalam panganan yang wajib disajikan pada salah satu tradisi di Keraton Yogyakarta. Salah satunya, tradisi Hajat Dalem untuk memperingati hari ulang tahun kenaikan tahta Sultan HB X.

Tradisi tersebut diperingati setiap tanggal 29 Rajab. Untuk memperingati agenda hajat dalem, sebelumnya diawali dengan prosesi ngebluk dan ngapem.

Di sini lah eksistensi kue apem terlihat. Proses ngebluk dipimpin oleh putri-putri raja dan abdi dalem keparak. Berdasarkan dari kratonjogja.id, ngebluk merupakan upacara membuat adonan yang nantinya dimasak menjadi apem.

Ngebluk sendiri berasal dari suara "bluk" yang ditimbulkan saat pengolahan adonan kue apem. Adonan kue apem yang telah diolah pada prosesi ngebluk kemudian dimasak menjadi apem.

Proses memasak adonan tersebut dilakukan dalam prosesi ngapem. Kue apem yang dibuat juga memiliki spesifikasi tertentu. Terdapat dua kue apem yang berbeda.

Pertama, apem biasa yang berukuran kecil. Apem biasa dibuat oleh permaisuri dan putri dalem atau putri Sultan HB X. Kedua, apem mustaka yang berukuran besar.

Apem mustaka dibuat oleh sentana dalem putri yang telah menopause. Pada akhirnya, apem mustaka akan disusun sesuai dengan tinggi badan Sultan HB X.

Kue apem tersebut juga akan dibagikan kepada kerabat, para abdi dalem, dan keluarga Sultan. Sama halnya dengan sejarah pada masa wali songo. Kue apem di lingkungan Keraton Yogyakarta menyiratkan simbol permohonan maaf atau ampunan.

Pembagian kue apem tersebut dilaksanakan dalam Upacara Sugengan yang dilaksanakan di Bangsal Kencana.

Penulis: Nurul Fajri Kusumastuti

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya