Epidemiolog UGM Sebut PPKM Darurat Belum Turunkan Kasus Covid-19

Oleh Yanuar H pada 24 Jul 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 10:00 WIB
Para warga terdampak perpanjangan PPKM Darurat di Garut, Jawa Barat tengah melihat daftar nama mereka dalam deretan nama yang telah diseleksi Pemda Garut, sebagai penerima bansos tunai Rp 250 ribu per orang.
Perbesar
Para warga terdampak perpanjangan PPKM Darurat di Garut, Jawa Barat tengah melihat daftar nama mereka dalam deretan nama yang telah diseleksi Pemda Garut, sebagai penerima bansos tunai Rp 250 ribu per orang. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Yogyakarta - Masa perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 25 Juli mendatang diharapkan dapat menurunkan kasus Covid-19. Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama menilai PPKM Darurat pada 3-20 Juli lalu penerapannya belum memberikan dampak penurunan jumlah kasus positif Covid-19. 

“Belum terlihat penurunannya. Kalaupun turun diikuti jumlah tes yang turun juga,” katanya Jumat (23/7/2021).

Memang kasus Covid-19 sempat menurun, namun menurut Bayu, angka tersebut karena jumlah tes sampel menurun yang diakui oleh pemerintah sendiri. Sementara persentase jumlah kasus positif cenderung stabil. 

“Kalau jumlah yg dites turun otomatis jumlah kasus turun juga. Bisa dilihat dari positivity rate yang cenderung stabil,”imbuhnya.

Menurut Bayu, tingginya kasus positif Covid-19 dalam dua bulan terakhir ini tidak berhubungan dengan efek gencarnya program vaksinasi, Namun karena masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. 

“Yang mungkin terjadi adalah pelaksanaannya yang tidak terkendali dan menyebabkan 5M tidak bisa dijaga,” katanya.

Bayu menjelaskan jumlah Covid-19 kasus yang meningkat sudah terjadi sejak lama namun tidak terpantau, karena jumlah testing yang masih minim.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Diduga Sudah Tinggi Sejak Juni 2021

“Data yang ada itu tidak mencerminkan yang sebenarnya. Sehingga mungkin sekali di Juni sudah tinggi kasusnya namun banyak yang masih undetected. Bahkan diduga sejak Mei banyak kasus yang tidak terdeteksi sudah ada di masyarakat makanya bisa naik sangat tinggi di Juli,”ungkapnya.

Ia berharap pemerintah gencar melakukan program vaksinasi agar herd immunity segera tercapai. Namun apabila laju vaksinasi harian masih rendah maka target bulan September untuk herd immunity di Jawa Bali akan sulit.

 “Laju vaksinasi harian kita masih sangat rendah. Kecuali kita bisa 2 juta sehari,” katanya.

Bayu menjelaskan soal banyaknya kasus kematian pasien Covid-19 yang meninggal di rumah sakit dan isoman di rumah maka pemerintah harus memperbanyak lagi lokasi dan tempat isolasi mandiri terpusat. Sehingga bisa terpantau dengan baik dan bisa di skrining lebih awal bagi mereka yang mengarah ke gejala yang lebih berat. 

“Pasien dengan gejala berat bisa terpantau dengan baik,” katanya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya