Rumah Sakit di Garut Penuh, Pasien Umum Terlunta-lunta Cari Ruang Rawat Inap

Oleh Jayadi Supriadin pada 17 Jun 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 13:00 WIB
Salah seorang pasien biasa terpaksa melakukan perawatan sendiri di rumah, akibat sulitnya mendapatkan ruang inap rumah sakit akibat memblukdaknya pasien Covid-19 di Garut, Jawa Barat.
Perbesar
Salah seorang pasien biasa terpaksa melakukan perawatan sendiri di rumah, akibat sulitnya mendapatkan ruang inap rumah sakit akibat memblukdaknya pasien Covid-19 di Garut, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - Tingkat keterisian rumah sakit di Garut, Jawa Barat yang sudah penuh dengan pasien Covid-19, membuat pasien umum merana. Mereka terpaksa mencari ruang rawat inap hingga ke Puskesmas Cicalangka di Kabupaten Sumedang. Meskipun, mereka kembali gagal mendapatkannya karena kondisi yang sama.

Nur Muhammad (31), salah satu keluarga pasien umum mengaku kesulitan mendapatkan ruangan untuk merawat ibunya. "Karena HB-nya rendah akhirnya dirujuk ke rumah sakit, namun setelah didatangi ternyata penuh," ujarnya, Rabu (16/6/2021).

Perjuangan pun ditempuh dengan mendatangi beberapa rumah sakit di Kota Garut, tetapi tetap saja sulit mendapatkan ruangan akibat membludaknya pasien Covid-19.

"Ada salah satu rumah sakit yang menawarkan ruangan yang di dalamnya ada pasien Covid-19," ujar dia. Tentu saja Nur menolak karena khawatir ibunya tertular Covid-19.

Untuk mendapatkan ruang inap, ibunya, warga Kampung Cibingbin Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, Garut itu akhirnya mencari ruang rawat inap hingga puskesmas di wilayah Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Sumedang.

Beruntung setelah perjuangan hampir 24 jam dilakukan, salah satu ruangan di puksesmas Selaawi dinyatakan kosong, setelah salah satu pasien, bukan Covid-19, dinyatakan sembuh dan diperbolehkan meninggalkan ruangan. "Padahal, malam tadi menolak dengan alasan penuh juga," ujarnya bersyukur.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengaku tingkat keterisian rumah sakit di Garut sudah penuh oleh pasien Covid-19. "Ini rumah sakit sekarang penuh, terus kita lakukan (penanganan Covid-19) penuh, puskesmas juga sekarang sudah mulai penuh lagi," kata dia.

Bahkan, beberapa fasilitas umum seperti rumah susun (Rusun) Gandasari dan beberapa aula yang disediakan sebagai lokasi isolasi mandiri pasien Covid-19 di Garut sudah penuh.

Menurutnya, perkembangan pasien Covid-19 di Garut terus menunjukkan peningkatan, sementara tingkat kesembuhan masih di angka 70 persen. "Pada hari ini yang positif ada 453, cukup banyak yang meninggal hari ini 15 orang," kata dia.

Saat ini, angka kematian Covid-19 di Garut sudah menyentuh angka 2,6 persen dan mendapatkan perhatian dari pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Kita harus berupaya bagaimana kita agar masyarakat tidak terkena Covid," kata dia.

Untuk itu, Helmi meminta agar masyarakat bisa menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, sehingga mampu menghindari peningkatan jumlah penyebaran Covid-19 di Garut. "Hindari kerumunan dan sebagainya. Ini jelas harus tetap menjadi hal yang paling pokok," kata dia.

Data Dinas Kesehatan Garut mencatat, angka hunian isolasi pasien Covid-19 hingga 15 Juni lalu antara lain, Rusun Gandasari sebanyak 102 pasien, Islamic Center sebanyak 64 pasien, RSUD dr Slamet sebanyak 158 pasien, RS lain sebanyak 302 pasien.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓