Keresahan Pengusaha Tempat Rekreasi di Bandung Raya atas Penutupan Objek Wisata

Oleh Huyogo Simbolon pada 18 Jun 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 07:00 WIB
The Lodge Maribaya
Perbesar
The Lodge Maribaya menjadi zalah satu rekomendasi tempat wisata di Bandung utara. (Huyogo Simbolon)

Liputan6.com, Bandung - Ketua DPD Perhimpunan Pengusaha Taman Rekreasi Indonesia (Putri) Jawa Barat, Heni Smith mewakili pelaku pariwisata meminta pemerintah lebih bijak mengambil keputusan dalam menutup objek wisata di area Bandung raya.

Menurut Heni pihaknya meminta pemerintah mempertimbangkan matang-matang sebelum melakukan penutupan objek wisata dalam rangka pengendalian penyebaran Covid-19

"Pemerintah harus melihat banyak aspek jangan hanya main tutup seperti selama ini dilakukan," kata Heni dalam keterangannya, Rabu (16/6/2021).

Pemilik De Lodge Maribaya ini menuturkan, di kawasan Bandung raya tercatat lebih dari 100 objek wisata yang harus ditutup berdasarkan instruksi atau imbauan Gubernur Jawa Barat. Dari jumlah itu terdapat 20.000 lebih orang yang bergantung hidupnya kepada berjalannya objek wisata tersebut baik yang langsung ataupun tidak langsung.

Dalam penutupan objek wisata selama sepekan ini, pihaknya memperkirakan kerugian yang diderita oleh pihak pengelola objek wisata sekitar Rp60 miliar.

Oleh karena itu, Heni mengimbau pihak pemerintah harus mempertimbangkan pemberian kompensasi seperti misalnya relaksasi pajak, kredit ke perbankan, dan aspek lainnya yang bisa membantu meringankan dampak penutupan objek wisata ini. 

"Anggota kami banyak yang mengusulkan hal-hal tersebut," ucapnya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sikap Operator

Sementara itu, Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Jawa Barat Budijanto Ardiansjah mengatakan bahwa pihaknya memahami langkah yang diambil oleh pemerintah adalah untuk mencegah peningkatan penularan Covid-19. Namun sebaiknya, kata dia, pemerintah harus melakukan hal yang lebih terukur, jangan hanya menutup objek wisata yang selama ini dijadikan alasan penyebaran Covid-19. 

"Selama ini objek wisata juga sudah melakukan beberapa standar yang memenuhi protokol kesehatan seperti berwisata sehat dan juga bersertifikat layak kunjung dari pihak terkait. Artinya, pariwisata tidak asal buka dan menerima pengunjung," ujarnya.

Karena dengan ditutupnya objek wisata, banyak yang terdampak seperti tour guide, travel biro, hotel, dan juga orang-orang yang bergantung pada perjalanan wisata. Pihaknya meminta pemerintah bercermin dari daerah lain yang tidak gampang menutup objek wisata saat dilakukan evaluasi tingginya penyebaran Covid-19.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓