Cerita Seru Biker Opa-Opa Jelajah Jakarta - Batu Sisir Pantura

Oleh Liputan6dotcom pada 13 Jun 2021, 22:25 WIB
Diperbarui 13 Jun 2021, 22:44 WIB
Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)
Perbesar
Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)

Liputan6.com, Jakarta - Anggota klub motor Grandpa Biker sepertinya tak kuat menahan hasrat ngegas di jalanan. Tak mau terhalang pandemi Covid-19 yang belum reda, mereka kembali mengeluarkan motor-motor kesayangan, mengelap, memanasi, dan menggeber bersama-sama.

Kali ini rute touringnya Jakarta ke Batu Jawa Timur lewat jalur pantura. Perjalanannya berlangsung tiga hari dari Jumat 11 Juni 2021.

Tujuan utamanya tentu penyegaran fisik dan mental. Selain itu juga menginventarisasi heritage di sepanjang perjalanan, menyambangi kota-kota pusaka, dan identifikasi masalah guna merumuskan program-program kepedulian. 

Di sela-sela perjalanan, salah satu peserta, Nugroho Dewanto, membagikan cerita dan foto-fotonya. Berikut catatan dari penulis dan jurnalis lepas tersebut.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hari Pertama, Jumat 11 Juni 2021

Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)
Perbesar
Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)

Sejak pukul 02.00 sudah bangun tidur dan bersiap. Pukul 02.45 berkumpul di Jl Juanda dengan lima teman lain. Pak Lio Kurniawan membawa bakcang isi daging dan telur asin yang lezat untuk pengisi perut. Setelah berdoa perjalanan dimulai. Seperti biasa Bro Ahmad Irfan Nasution jadi captain memimpin di depan.

Kami melewati jalur pantura di wilayah Bekasi, Karawang, dan Salat Subuh di Cikampek. Di luar dugaan saya, sampai di Cirebon lumayan tak ada jalan yang berlubang dan rusak. Sebelumnya ada saja bagian jalan di pantura yang rusak dan sedang diperbaiki. Lalu lintas mesti diatur buka tutup sehingga menimbulkan kemacetan.

Hanya saja sekarang masih banyak bagian jalan yang bergelombang dan cukup berbahaya buat pengendara motor. Kami break ngopi dan makan tahu pong goreng di Cirebon.

Setelah itu perjalanan berlanjut melewati Losari dan istirahat makan sate kambing muda Suhardjo di Brebes. Bro Irfan juga gunakan waktu untuk ganti standar motornya yang patah di bengkel terdekat. Setelah perut kenyang kami kembali memacu motor melewati Pemalang, Pekalongan dan kembali istirahat ngopi di perbatasan Batang.

Jalur pantura di wilayah Jawa Tengah sedikit lebih bagus ketimbang di Jawa Barat. Setelah Batang, kami melewati Kendal dan akhirnya tiba jam 16.30 di Semarang. Hujan deras menyambut kami di Kota Lumpia ini. Terasa segar membasuh lelah.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hari Kedua, Sabtu 12 Juni 2021

Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)
Perbesar
Kelompok Grandpa Biker jelajah pantura dari Jakarta ke Batu (Foto: Nugroho Dewanto)

Setelah sarapan di hotel, dari Semarang perjalanan kami berlanjut ke Jepara melewati Demak. Pak Lio Kurniawan ingin menemui rekan kerjanya di kota ukiran itu. Belum mulai jalan, cardo komunikasi saya rusak, terlepas dari rumahnya sehingga terpaksa dilakban.

Jalan menuju Demak begitu padat dengan truk sehingga perjalanan kami agak tersendat. Di Jepara kami makan siang di sebuah warung sate kecil di tepi jalan. Gule dan satenya lezat, harganya murah. Setelah urusan Pak Lio di Jepara beres, kami memacu motor ke arah Solo melewati Demak, Kudus, Grobogan, Purwodadi, dan Sragen.

Ke arah Kudus jalan terasa teduh karena di kiri-kanan dinaungi pohon-pohon trembesi. Menjelang kota Kudus kami belok kanan ke arah Grobogan. Jalan provinsi di wilayah ini cukup bagus. Pemandangan sawah dengan padi yang menguning terasa menyegarkan mata.

Memasuki kota Purwodadi rasanya sayang bila tidak mencicip swike. Jadilah kami mampir di satu warung swike dekat alun-alun Purwodadi. Kedai ini sudah ada sejak 1910 dan sekarang dikelola oleh generasi kelima. Sudah sore di Purwodadi dan kami harus meneruskan perjalanan ke Solo.

Jalur Purwodadi-Solo melewati bukit dan hutan dengan jalan berliku banyak tikungan. Memasuki Sragen banyak jalan rusak dan sedang diperbaiki. Kendaraan dari dua arah harus bergantian menggunakan jalan sehingga menimbulkan kemacetan.

Hari sudah gelap ketika kami memasuki kota Solo dan langsung menuju hotel. Setelah mandi kami makan di Warung Markobar Kota Barat. Saya menyesap wedang jahe panas yang terasa nikmat.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hari Ketiga, Minggu 13 Juni 2021

Pamandangan di Batu Jawa Timur (Foto: Nugroho Dewanto)
Perbesar
Pamandangan di Batu Jawa Timur (Foto: Nugroho Dewanto)

Hari terakhir touring dari Solo menuju Batu, Malang. Kami melewati jalur Karang Anyar, Tawang Mangu, Cemoro Kandang yang berhawa sejuk. Jalanan berliku dan berkabut. Istirahat ngopi dan menikmati jagung bakar.

Melewati Telaga Sarangan, terus melaju ke Magetan dan akhirnya makan siang di kedai Pecel 99 yang sedap di Madiun. Setelah kenyang kami kembali memacu motor melewati Caruban dan Nganjuk.

Saya dan Bang Bib terpisah dari empat teman lain. Kami ambil jalan ke Pare, Kediri. Setelah berkomunikasi akhirnya kami bertemu dengan empat teman lain di Pare. Mereka ternyata dari Nganjuk ambil jalur ke Kertosono.

Dari Pare kami berenam terus melaju beriringan melewati Kandangan, Pujon yang jalannya berliku dan basah setelah disiram hujan, dan akhirnya tiba di Batu pukul 20.00. Kami langsung makan malam di hotel dan setelah itu beristirahat.

Hari ini seharian keluyuran di sekitar Kota Batu. Mengunjungi Arboretum Batu yang jadi Kilometer Nol Sungai Brantas. Di sanalah sumber air yang mengalir sampai ke sungai besar di Surabaya itu.

Meditasi di mata air itu terasa menyegarkan jiwa. Setelah itu swab test di RS Paru. Sore hari ngopi di sebuah kafe dengan pemandangan Gunung Arjuno dan Welirang yang indah. Malamnya makan di Warung Wareg dan lanjut nongkrong di kedai pinggir jalan sambil menenggak STMJ.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya