Sekolah di Bandung Mulai Simulasi Pembelajaran Tatap Muka, Ini Pesan Satgas Covid-19

Oleh Huyogo Simbolon pada 08 Jun 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 08 Jun 2021, 09:00 WIB
PTM
Perbesar
Sekda Kota Bandung Ema Sumarna meninjau simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di SD Santo Yusup 2, Kota Bandung, Senin (7/6/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Liputan6.com, Bandung - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bandung Ema Sumarna meminta proses uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas harus terus berjalan ketat. Dia menilai, pihak sekolah ataupun peserta didik sudah memahami skema pelaksanaan PTM yakni pola pembelajaran berorientasi pada sektor kesehatan.

Hal itu disampaikan Ema saat meninjau simulasi PTM terbatas di SD dan SMP Santo Yusup Bandung, Senin (7/6/2021).

Ema yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung ini mengatakan, data terbaru sudah ada 330 sekolah yang layak menyelenggarakan PTM. Mulai dari setingkat TK hingga selevel SMA baik negeri ataupun swasta termasuk sekolah formal di bawah Kementerian Agama. Mereka bisa melakukan uji coba PTM pada rentang waktu 7-18 Juni 2021 ini.

Ema berharap proses uji coba berjalan ketat. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan bersama Dinas Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19 di level kewilayahan akan melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di setiap lokasi penyelenggaraan PTMT.

"Semuanya akan kita cek, berbagi dengan yang lain Dinas pendidikan sudah membagi para petugas melihat standar-standar yang sudah disepakati. Ini masih berproses. Kita masih akan melihat sampai uji coba berakhir,” kata Ema.

Meski terpantau baik, Ema tetap mengingatkan sekolah harus melek dengan segala hal yang berkenaan protokol kesehatan. Baik fasilitas penunjang secara fisik maupun pola pengaturan pembelajaran.

Selain itu, Ema meminta pihak sekolah untuk tetap menjalin koordinasi dengan bersama tim monev, aparat kewilayahan, dan puskesmas. Sehingga, jika terjadi sesuatu bisa ditangani dengan baik.

"Kita sudah sepakat di sekolah harus ada ruang penanganan. Intinya siapa pun juga penyelenggara PTM harus terbuka. Kalau ada sesuatu ditangani bersama dengan puskesmas wilayah," ujarnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Keputusan di Tangan Orangtua

PTM
Perbesar
Siswa-siswi SD Santo Yusup 2 mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM), Senin (7/6/2021). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Di luar itu, Ema mengapresiasi para orangtua yang sudah cukup memahami pengaturan uji coba PTM. Seperti pola antar jemput anak dan membekali anaknya dengan hand sanitizer serta bekal makanan.

Terutama orangtua menjadi unsur penting penentu proses PTMT. Mengingat izin orangtua menjadi syarat wajib untuk mengikutsertakan anaknya dalam uji coba kembali belajar di sekolah.

"Ternyata ada orangtua yang tidak mengizinkan. Itu yang saya senang karena tidak ada paksaan," kata Ema.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Santo Yusup 2, Agung Setiawan memastikan, respons dari orangtua siswa menjadi pegangan utama pelaksanaan PTM.

Agung menuturkan, secara keseluruhan jumlah siswa kelas 7, 8 dan 9 semuanya sebanyak 108 orang. Dengan PTM ini diberlakukan kuota maksimal siswa yang datang ke sekolah sebanyak 36 orang. Namun, yang hadir dalam uji coba hanya 11 orang siswa.

"Kami berdasarkan survei ke orangtua yang mengizinkan. Kapasitas kelas kami sediakan untuk 6 orang, tapi faktanya tidak terpenuhi. Ada orangtua yang mengizinkan tapi situasi lingkungan sekitar rumahnya sedang tidak memungkinkan. Jadinya ada yang 3 orang, ada yang 4 orang dalam satu kelas," ungkap Agung.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓