Ritual Purba Suku Baduy Dalam yang Masih Eksis Sampai Sekarang

Oleh Liputan6.com pada 03 Jun 2021, 14:25 WIB
Diperbarui 04 Jun 2021, 09:55 WIB
Ritual Ngadiukeun
Perbesar
Upacara adat Suku Baduy yang sampai sekarang masih terus dilestarikan. Foto: Merdeka.com

Liputan6.com, Jakarta Suku Baduy yang tinggal di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar merupakan masyarakat yang menarik diri dari hiruk pikuk dunia modern. Mereka menolak semua hal yang berhubungan dengan modernitas, mulai dari listrik, radio, televisi, motor, jaringan internet dan bahkan mereka menolak sekolah formal. Suku Baduy memegang erat konsep "keapadaan" yang berarti apa adanya.

Namun dengan adat dan budaya yang telah beratus-ratus tahun diyakini itu, suku Baduy Dalam yang terisolasi itu sampai sekarang tak ada warganya yang terpapar virus Corona. Apalagi selama pandemi ini, wisata adat ke kampung Baduy dalam ini ditutup.

Wilayah Suku Baduy yang berada di lereng gunung ini mempunyai panorama alam yang memukau. Kondisi alamnya yang tetap terjaga menarik banyak traveler. Namun sayang di kampung Baduy Dalam, para traveler hanya diperkenankan menginap maksimal satu malam saja.Kenapa, ketika ditanyakan ke salah seorang warga Baduy Dalam, dia menjawab tidak tahu.

Tampaknya orang Badui Dalam sifatnya tertutup untuk hal-hal yang berhubungan dengan adat-istiadatnya. Ada beberapa tabu atau rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar baduy, apalagi orang asing. Namun mereka sangat ramah menyambut tamu. Jika kita ingin datang ke Baduy Dalam, beberapa warga akan menjemputnya di wilayah Baduy Luar.

Dari area penjemputan ini kita akan berjalan menyusuri jalan setapak, naik turun, berkelok dan licin. Warga desa yang diperkirakan berjumlah sekitar 26 ribu orang ini mempunyai beragam adat budaya yang unik. Salah satu ritual yang mereka lakukan adalah upacara Ngadiukeun, yakni upacara menyimpan padi ke dalam lumbung. Di Kanekes, lumbung-lumbung padi dibangun di pinggiran kampung.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Beda Indung dengan padi biasa

Mulyono, salah satu warga Baduy menjelaskan, Upacara Ngadiukeun itu semacam memasukkan padi pertama (indung) ke lumbung atau leuit. Sebenarnya bisa saja memasukkan padi sebelum indung dimasukkan ke lumbung. Tapi hal ini dianggap belum sah, baru setelah indung dimasukkan ke lumbung ritual menyimpan padi ini dianggap sah.

Apa bedannya Indung dengan padi-padi yang lain?

Orang Baduy memperlakukan padi Indung secara khusus dan hati-hati. Padi indung dilengkapi dengan daun-daun yang mempunyai makna khusus. Daun-dauin itu adalah daun teureup, tumbosi, cariang, ilat. di ikat sama padinya.

"Padi yang akan dijadikan Indung, ketika dipanen harus dibawa pulang dengan jalan kaki, sejauh apapun ladangnya dari rumah. tidak boleh memakai kendaraan, motor atau mobil. Sesampai di rumah indung harus dirwat, dibungkus pakai kain agar tetap dalam kondisi baik, sebelum dipakai untuk ritual ngadiekeun. jika sampai dimakan tikus misalnya, artinya kita telah lalai dalam menjalankan tugas dan akan berakibat kegagalan dalam panen berikutnya. atau hal itu juga merupakan sebuah petunjuk bahwa ada kesalahan kita secara batin, " tambahnya pada Liputan6.com, Kamis (3/6).

Sebenarnya, indung itu padingya tidak telalu banyak, satu hanya satu iket kecil, tidak seperti ikatan padi yang biasa. Dalam ritual upacara Ngadiukeun mereka membakar kayu gaharu yang diambil di tengah hutan. Selain itu ada hal-hal rahasia yang tak ia bisa ceritakan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya