Bencana Hantui Warga Bonebol Usai Hadirnya Perusahaan Tambang Emas

Oleh Arfandi Ibrahim pada 31 Mei 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 01 Jun 2021, 12:28 WIB
Banjir Bandang Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) yang terjadi akibat kerusakan lingkungan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Banjir Bandang Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) yang terjadi akibat kerusakan lingkungan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Gorontalo - Masuknya kembali perusahaan tambang emas di Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) Provinsi Gorontalo, kini menuai ketakutan besar bagi warganya. Perusahaan dengan nama Gorontalo Mineral (GM) ini, dikhawatirkan akan membawa dampak pada kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana alam.

Bencana itu, mulai dari banjir bandang, kerusakan Hutan Taman Nasional hingga terjadi perubahan iklim yang tidak menentu. Tidak hanya itu, dampak ini pun bisa memicu tercemarnya sungai Bone dan Laut Teluk Tomini yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Bonebol.

Salah satu warga Bonebol O. Hendrik mengatakan, perusahaan ini memiliki wilayah konsesi kurang lebih 36 ribuan hektar yang dikelilingi oleh Hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone .

"Jangan sampai beroperasinya perusahaan ini sewaktu-waktu bisa memberikan dampak besar. Bukan pada manusia saja, namun juga pada kelestarian alam Sekitar," kata O. Hendrik.

Sementara Andi Ibrahim, salah satu Aktivis Lingkuan di Bonebol mengaku, bahwa saat ini Taman Nasional di Bonebol banyak dihuni oleh satwa-satwa Endemik Sulawesi. Bisa dipastikan aktivitas perusahaan bakal mengganggu keberadaaan habitat satwa itu sendiri.

"Burung Maleo, Tarsius dan Anoa yang rata-rata satwa ini dilindungi, ditambah lagi dengan satwa lainnya. Kalau bukan pindah mereka pasti akan punah," kata Ibrahim kepada Liputan6.com.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Banjir Bandang

Banjir Bandang Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) yang terjadi akibat kerusakan lingkungan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Banjir Bandang Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) yang terjadi akibat kerusakan lingkungan (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Tak hanya satwa, kerusakan lingkungan nantinya akan memicu bencana alam dan mengubah kehidupan sosial masyarakat lokal sekitar. Hutan yang menjadi tempat mereka untuk menggantungkan hidup terancam hilang.

"Itu baru soal satwa, dampak lain yang harus dipertimbangakn yakni bencana alam," ucapnya.

"Bayangkan, dampak aktivitas tambang tradisional saja, Bonebol bisa diterjang banjir tiga kali dalam kurun waktu sebulan. Apalagi kalau sudah perusahaan dengan wilayah konsesi ribuan hektar," dia menuturkan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dampak Sosial

Lokasi Pertambangan Tradisional di Kabupaten Bonebol yang bakal diambil alih oleh perusahaan. foto.Istimewa (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Lokasi Pertambangan Tradisional di Kabupaten Bonebol yang bakal diambil alih oleh perusahaan. foto.Istimewa (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Selain itu, saat ini ada ribuan penambang lokal tradisional yang menggantungkan hidupnya di tempat itu. Bisa dipastikan dengan adanya perusahaan ini, para penambang dengan sendirinya akan kehilangan pekerjaan yang sudah mereka lakoni bertahun-tahun.

"Banyak yang akan kehilangan pekerjaan, terutama para penambang lokal. Apakah perusahaan bisa menjamin mereka?," tuturnya.

"Apalagi masyarakat yang tidak memiliki keahlian, sekolah saja tidak tamat SD. Jadi tidak mungkin mereka akan diakomodir oleh perusahaan," ujarnya.

Sementara Bupati Bonebol Hamim Pou saat dikonfirmasi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Bonebol akan selalu memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan lestari berkelanjutan. Yaitu pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) sesuai kemampuan daya dukung daya tampung lingkungan.

"Olehnya, setiap investasi yang berdampak bagi pertumbuhan ekonomi dan ramah lingkungan akan selalu mendapat tempat di manapun termasuk di bonebol," kata Hamim.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak juga video pilihan berikut: Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya