Mengintip Lukisan-Lukisan Seniman Ipo Hadi yang Bikin Kena Mental dan Emosional

Oleh Switzy Sabandar pada 26 Mei 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 26 Mei 2021, 17:06 WIB
Pameran tunggal Ipo Hadi
Perbesar
Pembukaan pameran tunggal Ipo Hadi bertajuk History Story Light di Mediterranea Restaurant by Kamil

Liputan6.com, Yogyakarta- Seniman Ipo Hadi percaya karya, termasuk lukisan akan menemukan jodohnya. Mungkin itu juga yang bikin perupa yang berdomisili di Yogyakarta ini memilih untuk berkarya tidak mengikuti pasar.

Lukisan-lukisan dan instalasi plat aluminium Ipo Hadi yang dipamerkan di dinding Mediterranea Restaurant by Kamil Yogyakarta membuktikan hal itu. Lukisan naif, dekoratif, abstrak, dengan sentuhan sulam mendominasi karya-karya Ipo Hadi. Outside art, demikian orang-orang akhirnya melabeli karya-karya laki-laki kelahiran 42 tahun silam ini.

Lukisan-lukisan Ipo Hadi jauh dari kata indah. Namun, ketidakteraturan yang dihasilkan dari garis-garis, warna, dan komposisi yang terlihat pas membuat karya Ipo Hadi tampak sangat emosional.

Kesan emosional dalam lukisan Ipo Hadi sepertinya dipengaruhi cara seniman yang lahir di Surabaya dan besar di Ngawi ini berkarya. Ia mengeluarkan memori-memori yang tersimpan di benaknya. Pengalaman-pengalaman yang pernah dilaluinya secara langsung, kenangan-kenangan di hatinya dituangkan di atas kanvas dan kertas.

“Jadi seperti ada laci-laci berisi memori di dalam pikiran yang terbuka ketika berkarya, tidak semua laci yang dibuka, kadang hanya ada satu laci, kadang ada dua laci, yang akhirnya bisa menghasilkan karya,” ujar Ipo Hadi, saat ditemui dalam pameran tunggal keduanya bertajuk History Story Light di Mediterranea Restaurant by Kamil, Rabu (25/5/2021).

Sebagai penyuka sastra dan filsafat, Ipo Hadi berkarya menggunakan pisau bedah, salah satunya, teori dekonstruksi Jacques Derrida. Membongkar makna dan menemukan makna baru.

“Ini yang saya aplikasikan membongkar memori, kejadian-kejadian yang pernah saya rekam sengaja atau tidak, jadi karya baru,” ucapnya.

Tidak sedikit orang yang melihat karyanya merasa dekat dengan pengalaman pribadi mereka.

Kena mental, anak-anak kekinian bisa menyebut karyanya demikian. Nyaris setiap orang yang memandangi lukisan-lukisan Ipo Hadi pasti memiliki satu karya favorit.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Membuka Ingatan Orang-Orang

Pameran tunggal Ipo Hadi
Perbesar
I Know Myself salah satu karya yang dipamerkan Ipo Hadi dalam pameran tunggalnya

Seperti yang terjadi saat pembukaan pameran ini pada Rabu (19/5/2021) malam. Seorang tamu perempuan duduk dekat dengan lukisan berukuran 180x120 sentimeter yang dipajang di dinding.

Lukisan berjudul I Know Myself yang dibuat pada 2016 ini memakai materi akrilik, pensil di atas kanvas. Ada pula ornamen sulam berbentuk bunga warna-warni di dalamnya.

Lukisan itu menggambarkan lima sosok orang bertautan, salah satunya berkepala anjing. Di belakang mereka terdapat garis semrawut yang menjadi latar belakang objek dan memenuhi kanvas. Tiga bunga warna-warni dipegang  dan dua bunga lainnya berada di bawah.

Perempuan itu bertanya kepada Ipo Hadi, “Ada cerita apa di balik lukisan ini? Kenapa bunganya berwarna-warni dan berjumlah lima?”

Perempuan itu memanggil Ipo Hadi dan menanyakan prosesnya berkarya sehingga menghasilkan lukisan itu.

Ipo tidak lantas bercerita panjang lebar soal lukisannya itu. Ia hanya bilang lukisan itu terinspirasi dari pengalamannya mengasuh tiga anak kecil perempuan yang merupakan anak dari teman. Teman itu sudah dianggap Ipo Hadi seperti saudara. Lukisan itu menggambarkan pengalamannya sebagai seorang lajang yang mengasuh tiga anak kecil.

Perempuan itu memilih untuk melihat-lihat lukisan Ipo lainnya yang dipamerkan. Di sela-sela menonton lukisan, ia kembali bertanya kepada Ipo, “Ada yang kamu sembunyikan dari lukisan tadi.”

Ipo pun mengiyakan, ia melanjutkan ceritanya. Saat itu, kondisi keuangannya tidak baik. Namun di sela-sela keterbatasan, ia masih bisa menemani anak-anak kecil bermain. Mengajak mereka ke taman setiap sore.

Ia merasa jalannya sedang ruwet kala itu, tapi ia masih sempat menghibur anak-anak. Sulam bunga lima warna yang ditampilkan menunjukkan kesempurnaan warna kehidupan. Jika dikaitkan dengan seni rupa, ada warna primer, merah, kuning, dan biru, ditambah hitam dan putih.

Tak disangka, perempuan itu pun mulai bercerita kesannya terhadap lukisan itu. Ia mengakui lukisan itu mirip dengan pengalaman hidupnya. Perempuan itu seorang single parent yang membesarkan tiga orang anaknya. Ia pernah menghadapi kesulitan yang sama seperti yang Ipo Hadi alami.

“Jadi ketika dia melihat lukisan itu, ia merasa ada kedetakan dan kemiripan cerita bahkan sebelum ia tahu latar belakang karya itu,” kata Ipo Hadi.

Perempuan itu pun lantas memutuskan untuk mengoleksi lukisan itu.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Lukisan Save Me Everytimerk

Ipo ingat kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi. Pernah ada seorang perempuan membeli lukisannya pada 2017. Lukisan berjudul Save Me Everytimerk itu menggambarkan sosok perempuan dengan laki-laki yang lebih tua sedang duduk di meja berhadapan dan di tengahnya terdapat lilin.

Lukisan itu pernah menjadi salah satu properti dalam film AADC 2. Bahkan lukisan itu ikut viral seiring dengan adegan Rangga dan Cinta di sebuah kafe.

Pemeran AADC 2 itu duduk berhadapan dan Cinta melontarkan ucapan kepada Rangga, “Rangga apa yang kau lakukan itu jahat.” Lukisan Ipo Hadi terpasang di dinding kafe itu dan ikut terekam dalam adegan itu.

Kolektor pun mulai menanyakan perihal lukisan itu. Namun, sampai beberapa waktu tidak ada yang benar-benar mengoleksi. Suatu ketika datang seorang perempuan meminang lukisan Save Me Everytimerk.

Dia bercerita kepada Ipo Hadi alasan ia ingin mengoleksi lukisan itu. Sekitar 20 tahun lalu, perempuan itu pernah memiliki seorang kekasih. Ketika ia datang ke rumah kekasihnya itu, ia merasa diabaikan oleh sang kekasih yang memilih bermain bersama teman-temannya. Dia bilang kepada kekasihnya jika kekasihnya itu jahat. Beberapa hari kemudian, kekasihnya itu meninggal.

Dialog dalam film AADC 2 yang berlatar lukisan itu membuat si perempuan teringat kejadian yang dialaminya. Tidak hanya itu, gambaran lukisan itu juga membuatnya teringat dengan hubungannya dengan seorang laki-laki yang berusia lebih tua dari dirinya beberapa tahun lalu. Ia seperti membuka ingatan dengan si laki-laki itu ketika melihat lukisan Ipo Hadi.

“Ternyata ada beberapa momen orang yang terekam dalam karya-karya saya, di sini saya merasa jadi juru foto di taman yang mengabadikan momen-momen kehidupan orang,” tuturnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bermain dengan Plat

Pameran tunggal Ipo Hadi
Perbesar
Ipo Hadi dan teman-temannya berfoto di depan instalasi aluminium Memberi Nafas

Sebagai seorang perupa, Ipo Hadi selalu ingin menantang dirinya sendiri. Bukan hanya lukisan yang dipamerkan kali ini. Ia juga membuat instalasi dari plat aluminium yang dipajang di pintu masuk restoran.

Instalasi itu berjudul Memberi Nafas berwujud UFO dan di bawahnya orang dengan tangan-tangan memegang sendok, garpu, lilin, dan apel.

Instalasi itu sarat makna. Ia mengartikan karyanya ini sebagai perjuangan dalam hidup. UFO, bagi orang awam, dianggap sebagai hal yang mustahil. Namun, ada sebagian orang yang berusaha untuk menemukan itu.

“Usaha ini saya anggap sebagai perjuangan, jika ditarik ke pemahaman umum, perjuangan itu yang membuat orang bisa hidup, hal-hal yang tidak mungkin jika diperjuangkan akan dekat dengan kemungkinan,” ujar Ipo Hadi.

Demikian pula dengan orang memegang sendok dan garpu sebagai bentuk perjuangan memenuhi kebutuhan sehari-hari, lilin melambangkan perjuangan meraih harapan, dan apel simbol ilmu pengetahuan.

Sujud Dartanto, seorang kurator seni, dalam pembukaan pameran Ipo Hadi yang dikuratori Jajang R Kawentar ini menilai Ipo sebagai seorang petualang yang menikmati petualangan. Pengalaman menjadi hal yang intim bagi seorang Ipo Hadi. Karya-karya yang dilahirkannya berbasis pengalaman rasa.

“Ini pertama kalinya saya lihat Ipo Hadi berkarya dengan media plat, biasanya drawing,” ucapnya.

Lanjutkan Membaca ↓