Cara Polda Jateng Rangkul Ratusan Eks Narapidana Teroris Bom Bali hingga ISIS

Oleh Fajar Abrori pada 05 Mei 2021, 23:00 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 23:00 WIB
Polisi Tangkap Terduga Teroris
Perbesar
Polisi bersenjata lengkap mengawal sejumlah terduga teroris untuk dihadirkan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/5/2019). Sepanjang bulan Mei 2019, tim Densus 88 Antiteror telah menangkap sebanyak 29 terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Solo - Berbagai cara dilakukan untuk menggandeng para eks narapidana teroris (napiter) mulai dari mantan pelaku jaringan Bom Bali I hingga eks kombatan ISIS agar tidak kembali aktif dalam jaringan terorisme. Salah satunya dengan pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan para eks napiter. Cara tersebut diambil karena masalah ekonomi, di antaranya menjadi faktor yang menjerumuskan mereka terlibat jaringan terorisme.

Dirintelkam Polda Jawa Tengah Kombes Pol Jati Wiyoto Abadi mengatakan Polda Jawa Tengah merangkul para eks napiter yang telah kembali ke lingkungan masayarakat. Saat ini, jumlah eks napiter di Jawa tengah mencapai 206 orang yang terdiri dari eks Bom Bali I, kelompok ISIS, hingga JAD. Sebagian besar para eks napiter itu tergabung dalam wadah dua paguyuban yang menaungi para eks napiter di Jawa Tengah.

"Dari data itu para eks napiter tergabung dalam dua paguyuban Yayasan Persadani di Kota Semarang dan Yayasan Gema Salam di Solo. Jadi paling banyak seluruh Indonesia itu ada di Jawa Tengah," kata dia di sela-sela acara ngabuburit dan silaturahmi antara PWI Surakarta, Polda Jateng dan Yayasan Gema Salam di Adhiwangsa Hotel Solo, Selasa, 4 Mei 2021.

Selanjutnya polisi akan mendampingi para eks napiter pada saat keluar dari penjara hingga kembali berkumpul di tengah-tengah masyarakat. Pendampingan di tempat tinggal juga melibatkan pengurus RT dan RW setempat agar mereka bisa beradaptasi dan diterima masyarakat dengan baik.

"Setelah beradaptasi, mereka kita berikan mata pencaharian pekerjaan sehingga mereka tidak menganggur terlalu lama dan mudah kembali ke paham-paham yang tidak sesuai dengan kaidah agama," ungkapnya.

2 dari 3 halaman

Pemberdayaan Ekonomi

Lantas pendampingan untuk pemberdayaan ekonomi seperti apa yang dilakukan? Jati pun menerangkannya seperti membuka warung dan memberikan dukungan modal agar para eks napiter itu agar bisa membuka usaha untuk mencukupi kebutuhan ekonominya.

"Kalau di Semarang itu ada pekerjaan yang sifatnya memberikan stimulan kepada mereka. Terus kalau di Solo kan seperti Mas Jack (eks Bom Bali I) yang membuka warung soto. Itu bisa diteruskan kepada semuanya diharapkan mereka bisa bekerja seperti masyarakat lainnya," ujar dia.

Cara tersebut diambil lantaran latar belakang ekonomi menjadi penyebab para eks napiter itu terjerumus ke jaringan terorisme. Oleh sebab itu, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan para eks napiter.

"Itu salah satunya karena mereka banyak d iantaranya menceritakan latar belakang ekonomi. Itu yang menjadi penyebab mereka masuk ke paham-paham yang dianggap salah," sebutnya.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓