Menanti Geliat Ekonomi Jambi dari Pelabuhan Ujung Jabung

Oleh Gresi Plasmanto pada 04 Mei 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 04 Mei 2021, 14:18 WIB
Arsjad Rasjid
Perbesar
Calon Ketum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid (tengah) saat diwawancara usai menerima dukungan pencalonannya dari pengurus Kadin Jambi. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Liputan6.com, Jambi - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid menyatakan siap mendukung pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung, Provinsi Jambi. Pembangunan pelabuhan dinilai bisa lebih efesien dalam mengerakkan perekonomian daerah Jambi jika terintegrasi dengan kawasan industri.

Hal itu dikatakan Arsjad Rasjid usai menerima masukan dari Kadin Jambi, mengenai persoalan pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung untuk menunjang kegiatan usaha agar lebih efesien.

Menurut Arsjad Rasjid, yang juga Calon Ketua Umum Kadin Indonesia, setiap provinsi harus memiliki pelabuhan. Namun, pembangunan pelabuhan tanpa kawasan industri atau ekonomi khusus tidak akan berjalan maksimal.

"Pelabuhan tanpa kawasan ekonomi dan industri tidak akan menguntungkan," kata Arsjad Rasjid di hadapan pengurus Kadin se-provinsi Jambi, Sabtu (1/5/2021).

Dia menekankan diperlukan paket investasi yang ditawarkan kepada investor supaya calon investor yakin dan turut serta dalam pengembangan Pelabuhan Ujung Jabung Jambi. Industri prioritas yang harus dibangun sesuai dengan potensi yang dimiliki Jambi.

"Kita bikin paket investasinya, kemudian kita tawarkan ke investor. Sebagai pengusaha kita perlu kolaborasi dan menawarkan paket investasi prioritas kepada calon investor," ujar Presiden Direktur Indika Energy itu.

Rasjid mengatakan, kedatangannya ke Jambi selain menerima dukungan pencalonannya sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia 2021-2026, juga menerima masukan dari seluruh pengurus daerah dan mencari solusi terkait tantangan perekonomian di daerah.

Kadin Indonesia, kata dia, punya tanggung jawab untuk memberikan value bagi Kadin di daerah. Untuk mencapai tujuan itu, maka, menurutnya, diperlukan upaya kolaboratif antara pengusaha dan pemerintah. Termasuk pula yang paling ditekankan adalah pembinaan pengusaha kecil dan menengah.

Terlebih saat ini, Indonesia tengah menghadapi dua perang, yakni perang kesehatan pandemi Covid-19 dan perang dagang. Situasi pandemi saat ini mengakibatkan seluruh sektor industri sedang terpuruk. Untuk itu, dibutuhkan upaya agar ekonomi kembali pulih.

Solusi yang paling diperlukan untuk pemulihan ini, menurut dia, adalah belanja modal. Yakni bagaimana saat ini memperoleh modal baik dari dalam dan luar negeri karena perputaran ekonomi sangat tergantung pada modal.

"Kalau tidak ada modal bagaimana perputaran ekonomi bisa jalan, di sinilah kita berkompetisi dan diharapkan Kadin bisa berperan," kata Arsjad Rasjid.

2 dari 4 halaman

Pelabuhan Ujung Jabung Tak Kunjung Rampung

Pelabuhan Ujung Jabung Jambi
Perbesar
Kawasan Pelabuhan Ujung Jabung yang dibangun di pesisir timur Sumatera Jambi. (Liputan6.com/ dok Dishub Provinsi Jambi)

Pembangunan pelabuhan Ujung Jabung dinilai lebih strategis, karena letaknya berdekatan dengan jalur Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Jalur ini dalam catatan sejarah disebut-sebut menjadi jalur utama perdagangan masa lampau.

Pelabuhan Ujung Jabung dicetuskan pembangunannya oleh Gubernur Jambi 2010-2015, Hasan Basri Agus kala itu. Pelabuhan itu pun diproyeksikan bisa menjadi pelabuhan utama yang bisa meningkatkan daya saing Jambi.

Pelabuhan Ujung Jabung di pesisir timur Jambi itu dibangun di atas lahan seluas 4.000 hektare, tepatnya di Sungai Itik, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjungjabug Timur. Alokasi lahan tersebut juga diperuntukkan kawasan industri.

Namun, hampir satu dekade sejak dicetuskan, pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung belum kunjung rampung. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jambi Varial Adhi Putra mengungkapkan, pembangunan pelabuhan Ujung Jabung telah menyerap dana sebesar Rp230 miliar.

Berdasarkan penghitungan Kementerian Perhubungan, sebut Varial, pembangunan Ujung Jabung diperkirakan masih dibutuhkan dana Rp165 miliar agar pelabuhan siap untuk dioperasikan.

"Ini kita sampaikan kepada kementerian kemarin, dan mereka sudah melihat sendiri wujud pelabuhannya. Sedikit lagi ini bisa operasionalkan," kata Varial dikutip dari situs resmi Dishub Provinsi Jambi.

Untuk tahun ini, Kementerian Perhubungan telah mengalokasikan dana Rp5 miliar untuk penimbunan di sisi pelabuhan.

Sementara itu, Ketua Kadin Jambi Oesman Sulaiman mengatakan, realisasi pelabuhan Ujung Jabung sudah sangat dinantikan. Ke depan, jika pelabuhan rampung bisa meningkatkan daya saing Jambi.

"Potensi sumber daya alam Jambi potensial, maka sudah saatnya Jambi membutuhkan pelabuhan utama untuk menunjang ekspor dan meningkatkan perekonomian daerah," ujar Oesman Sulaiman.

 

3 dari 4 halaman

Ekspor Jambi Didominasi Lewat Pelabuhan Luar

Kapal Tongkang
Perbesar
Kapal Tongkang Batu Bara melewati sungai Batanghari. (Liputan6.com/Gresi Plasmanto)

Pelabuhan Ujung Jabung itu digadang-gadang bakal menjadi kawasan ekonomi terpadu untuk menopang ekspor daerah berupa pertanian, perkebunan, dan pertambangan/migas. Sebab selama ini, kegiatan ekspor produk andalan Jambi masih didominasi dari pelabuhan di luar Jambi.

Misalnya, selama ini untuk ekspor CPO Jambi masih dilakukan lewat pelabuhan provinsi tetangga. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit pernah menyebut, ekspor Crude Palm Oil (CPO) di Jambi feeder/transit melalui pelabuhan Dumai, Riau.

Selama ini, jalur transportasi CPO masih mengandalkan jalur sungai Batanghari melalui Pelabuhan Talang Duku, yang kemudian dibawa ke Pelabuhan Dumai. Kondisi ini menjadi tidak efesien karena biaya angkut menjadi bertambah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat ekspor pada Februari 2021 dari provinsi ini yang melewati pelabuhan di luar Jambi mencapai 95,84 juta Dollar AS atau 60,30 persen.

Sementara itu ekspor melalui pelabuhan di Jambi jauh lebih kecil dibandingkan ekspor dari luar Jambi, atau hanya diangka 64,94 juta Dollar AS atau hanya 39,70 persen.

Secara umum nilai ekspor Provinsi Jambi ke beberapa negara utama mengalami penurunan sebesar 6,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 169,63 juta Dollar AS pada Januari 2021 menjadi 158,07 juta Dollar AS pada Februari 2021.

Adapun kontribusi terbesar terhadap total ekspor di Jambi adalah kelompok pertambangan sebesar 51,72 persen, kemudian diikuti kelompok industri sebesar 37,80 persen, dan kelompok pertanian sebesar 10,48 persen.

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓