Segarnya Pagi Menikmati Gemercik Air dari 9 Sumber di Bendungan Bareng Sukoharjo

pada 27 Apr 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 27 Apr 2021, 06:00 WIB
Dibangun Zaman Belanda, Bendungan Di Baki Sukoharjo Ini Dikelilingi 9 Sumber Air
Perbesar
Bendungan Bareng di Kecamatan Baki, Sukoharjo, yang dibangun pada masa kolonial Belanda dikeliling sembilan sumber air yang tak pernah kering. (Solopos.com/Bony Eko Wicaksono)

Sukoharjo - Di wilayah Baki, Sukoharjo ada satu bendungan yang merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda. Bendungan itu bernama Bareng.

Meski usianya sudah tua, hingga sekarang bendungan itu masih kokoh. Bendungan ini terletak di tepi areal persawahan Desa Menuran, Baki.

Pada zaman dahulu, bendungan itu diberi nama De Javaansche Dam Bareng oleh pemerintah Kolonial Belanda. Bendungan itu bagian dari pembuatan kanal Baki atau pelurusan Kali Baki pada 1917.

“Bendungan Bareng erat hubungannya dengan pembuatan Kanal Baki. Pemerintah Kolonial Belanda menelusuri Kali Baki untuk mempermudah pasokan air ke sejumlah pabrik tebu dan tembakau,” kata seorang pegiat sejarah asal Baki, Surya Harjono, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (24/4/2021).

Surya menceritakan Bendungan Bareng di Baki, Sukoharjo, dikelola dua pabrik besar yakni Temulus dan Baki Pandeyan. Kedua pabrik ini mengolah tembakau, tebu, dan padi.

Kala itu, sebagian wilayah Baki merupakan lahan perkebunan tembakau dan tebu yang ditanam warga pribumi. Pabrik Temulus dan Baki Pandeyan memberikan pemasukan besar untuk pemerintah Kolonial Belanda.

Saat musim kemarau, para petani tembakau dan tebu kesulitan mendapatkan pasokan air. Kala itu, pintu bendungan dibuka untuk mengaliri perkebunan tembakau dan tebu.

 

Baca berita menarik lainnya di Solopos.com.

 

2 dari 3 halaman

Berfungsi Baik

“Hingga sekarang, Bendungan Bareng masih berfungsi baik. Konstruksi bangunan bendung juga masih terlihat kokoh kendati dimakan usia,” ujarnya mengenai kondisi bendungan di Baki, Sukoharjo, itu.

Surya menyebut Bendungan Bareng dikelilingi sembilan sumber air yang tidak pernah mengering saat musim kemarau. Sumber air itu digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih termasuk mengairi lahan pertanian di wilayah Baki.

Konon, sumber air kesembilan dipercaya masyarakat setempat bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dahulu, tak sedikit masyarakat yang mengambil air dan dibawa pulang untuk pengobatan penyakit kronis.

“Ada juga tradisi menabuh gamelan dan berdoa di sekitar sumber air pada zaman dahulu. Masyarakat berdoa agar selalu diberi kesehatan dan keselamatan,” papar Surya.

Seorang warga Desa Menuran, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Suwito, mengatakan Bendungan Bareng merupakan potensi desa yang bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alternatif.

Lokasi bendungan bisa digunakan untuk bersantai karena dikelilingi pohon rindang. Masyarakat juga bisa bermain air di bendungan.

Saat ini, lanjut Suwito, masyarakat tengah berembuk untuk membersihkan sampah dan mempercantik Bendungan Bareng.

“Tak ada salahnya jika bendungan peninggalan Kolonial Belanda dioptimalkan oleh masyarakat setempat. Bisa menjadi destinasi wisata lokal,” katanya.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓