Puluhan Hektare Lahan Pertanian Warga Lebatukan Rusak Akibat Banjir Bandang

Oleh Dionisius Wilibardus pada 22 Apr 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 22 Apr 2021, 18:00 WIB
Puluhan hektar lahan pertanian milik warga Desa Atakowa, Kabupaten Lembata rusak berat diterjang banjir bandang pada, Minggu 4 April 2021 lalu. (Foto Istimewah)
Perbesar
Puluhan hektar lahan pertanian milik warga Desa Atakowa, Kabupaten Lembata rusak berat diterjang banjir bandang pada, Minggu 4 April 2021 lalu. (Foto Istimewah)

Liputan6.com, Lembata - Banjir bandang yang terjadi pada hari Minggu, 4 April 2021 lalu, bukan hanya merusak permukiman warga dan menelan puluhan korban jiwa, tetapi juga merusak puluhan hektare lahan pertanian milik warga Desa Atakowa, Kabupaten Lembata.

Akibat banjir bandang tersebut, sedikitnya 70 Kepala Keluarga (KK) harus kehilangan puluhan hektare lahan pertanian karena meluapnya sejumlah aliran sungai di daerah tersebut.

Warga desa Atakowa, Kecamatan Lembatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Peter Lewerang mengatakan hujan lebat menyebabkan Sungai Belubuto, Mawe, Sungai Taralungu, dan aliran kali lainnya meluap. Banjir bandang pun tak terelakkan sehingga merusak lahan warga.

Selain 70 kepala keluarga kehilangan puluhan hektare lahan pertanian, banjir juga menghanyutkan puluhan pondok milik petani yang ada di lokasi perkebunan.

"Semua lahan perkebunan kami hilang. Sekitar puluhan hektare ada di sini, termasuk puluhan pondok juga ikut tertimbun material lumpur," ungkap Peter Lewerang, Rabu (20/4/2021).

Selain lahan pertanian dan pondok, banjir akibat siklon tropis seroja juga menghanyutkan sedikitnya puluhan ekor ternak milik warga.

"Beruntung sebagian ternak warga sudah dipindahkan padang dan lahan perkebunan yang jauh dari lokasi banjir. Tapi ada juga ternak warga yang terlambat dipindahkan akhirnya terbawa banjir dan mati," sebutnya.

Total kerugian lahan pertanian, hilangnya hunian pondok petani, hingga habisnya ternak petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Sementara Frans Olepue, warga desa Atakowa, mengatakan kepada wartawan, Rabu (21/4/2021), sebagian besar tanaman pertanian miliknya seperti padi dan jagung yang sudah ditanam dan pondoknya hancur, ternak kambing juga semuanya hilang, ada yang mungkin hanyut dan mati atau tertimbun lumpur.

"Kami hanya bisa pasrah, sebab semua lahan pertanian dan peternakan milik kami sudah hilang akibat banjir bandang," ungkapnya.

"Kepada pemerintah kami mengharapkan agar bisa membantu kami para petani dan peternak yang saat ini sedang mengalami musibah," dia menambahkan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq kepada media Liputan6.com, Rabu (21/4/2021) mengatakan pascabencana banjir bandang, Dinas Pertanian Kabupaten Lembata sudah mendata semua kerusakan lahan pertanian milik warga Kabupaten Lembata yang mengalami kerugian akibat banjir bandang.

"Kita sudah melaporkan ke provinsi dan pemerintah pusat, khususnya di Kementerian Pertanian," sebutnya.

Dia mengatakan sesuai dengan rencana, penanganan atas lahan yang rusak akan dibuka lahan baru di kebun-kebun petani atau akan dilakunan ekspansi lahan secara manual.

"Namun kondisi lahan tidak bisa dilakukan dengan teknologi seperti pembajakan dengan traktor, sebab rata-rata areal perkebunan sudah berubah menjadi hamparan timbunan material batu," ungkapnya.

Karena itu, pemda setempat akan melakukan inventaris guna melihat lahan yang rusak agar bantuan bibit tanaman pangan seperti padi dan jagung dapat tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran.

"Kita sudah terima data. Kerusakannya sampai di lokasi Pantai Bobu. Kita buat usulan ke Pemprov NTT dan Kementerian Pertanian. Langkah konkret kita juga akan melakukan ekspansi lahan," katanya.

Pantauan media, selain kerugian material berupa lahan pertanian serta tanaman, pondok petani, dan ternak petani, siklon seroja juga membuat longsor di beberapa ruas jalan arah Desa Leragere hingga Atakowa.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Juga Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by