Menguak Jejak Gempa Megathrust dan Hantu Sesar Aktif di Banyumas Raya

Oleh Rudal Afgani Dirgantara pada 21 Apr 2021, 03:30 WIB
Diperbarui 21 Apr 2021, 03:41 WIB
Webinar 'Menguak Jejak Gempa Megathrust dan Sesar Aktif di Banyumas Raya', Selasa (20/4/2021). (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)
Perbesar
Webinar 'Menguak Jejak Gempa Megathrust dan Sesar Aktif di Banyumas Raya', Selasa (20/4/2021). (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)

Liputan6.com, Banyumas - Sejarah mencatat pesisir selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta pernah diguncang gempa bumi hingga memicu tsunami dengan tinggi gelombang yang lebih dahsyat dari tsunami di Pangandaran tahun 2006 silam. Dan jamaknya siklus, sejarah akan berulang meski tak ada yang tahu kapan peristiwa itu akan terjadi.

Berdasarkan studi Paleo tsunami, peristiwa kelam itu terjadi 600 tahun yang lalu. Data BMKG yang mengutip dari katalog tsunami Indonesia tahun 2017 juga menyebut, pada 4 Januari 1840 terjadi gempa bermagnitudo 7,0. Dampak gempa di selatan Jawa terasa hingga Semarang dan menyebabkan gelombang tinggi di Pacitan Jawa Timur.

Pada 20 Oktober 1859 gempa dengan magnitudo 7,5 kembali mengguncang selatan Jawa Tengah dan DIY. Guncangan kuat dan tsunami mengahantam Pacitan. Bankan, tsunami sempat menghatam kapal Ottolina yang tengah bersiap melepas jangkar. Sebelas dari 13 awak kapal selamat

“Ini merupakan bukti otentik bahwa daerah selatan Jawa Tengah dan DIY memang rawan gempa bumi,” kata Setyoajie Prayoedhie, Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, saat menjadi pembicara webinar 'Menguak Jejak Gempa Megathrust dan Sesar Aktif di Banyumas Raya', Selasa (20/4/2021).

Gempa bumi tak hanya mengguncang wilayah pesisir. Gempa besar juga pernah meluluhlantakkan daerah pedalaman. Pada 14 Februari 1976, gempa bermagnitudo 5,6 dengan episenter di Purwokerto terasa hingga ke Ajibarang, Kedungbanteng, Tegal, Brebes, Pekalongan, Magelang dan Semarang.

Masih ada beberapa gempa besar dari selatan Jawa sesar aktif di Banyumas Raya yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Pengulangan peristiwa kegempaan ini tak lepas dari posisi selatan Jawa yang menjadi pertemuan dua lempeng bumi, yaitu Euroasia dan Indo Australia.

 

2 dari 4 halaman

Mutu Bangunan dan Rendahnya Literasi Kebencanaan

Ilustrasi gempa megathrust (earthquake.usgs.gov).
Perbesar
Ilustrasi gempa megathrust (earthquake.usgs.gov).

“Selatan Jawa merupakan zona subduksi dimana lempeng Indo Australia masuk menyusup ke dalam lempeng Euroasia yang ada di utara. Ketika mencapai batas elastisitasnya, terjadi pelepasan energi yang tiba-tiba yang disebut gempat bumi,” kata dia.

DR Tuswadi, ilmuwan pada Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, mengatakan, gempa merupakan peristiwa alam yang lumrah. Menjadi tidak biasa ketika gempa menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Ada dua hal yang menurutnya menjadi penyebab korban jiwa usai gempa bumi, yaitu rendahnya mutu bangunan dan rendahnya literasi kebencanaan. Bangunan yang dibangun tidak sesuai standar bangunan tahan gempa mudah hancur ketika diguncang gempa.

“Di Indonesia, mohon maaf, korupsi masih terjadi ketika pembangunan infarasrtuktur, sehingga hasilnya tidak bisa menjamin keselamatan masyarakat yang tinggal di bangunan tadi,” ucap dia yang juga Direktur Politeknik Banjarnegara.

Selain rendahnya mutu bangunan, rendahnya literasi kebencanaan juga tak kalah mematikan. Masyarakat belum paham prosedur sebelum, ketika dan setelah bencana berlangsung. Akibatnya, mereka panik ketika bencana itu datang.

“Monster yang paling membunuh di sini adalah panik. Panik is killing. Ketika terjadi hal-hal yang menyebabkan bencana, penduduk Indonesia cenderung panik, dan kepanikan itu justru akan menyebabkan korban yang lebih besar,” tuturnya.

Kepanikan ini meningkat ketika berkelindan informasi yang menyesatkan. Pada era digital, misinformasi atau bahkan disinformasi mudah sekali menyebar dan memengaruhi opini publik.

 

3 dari 4 halaman

Irisan Media Arus Utama dan Medsos

Ilustrasi Hoaks Hoax
Perbesar
Ilustrasi Hoaks. (Freepik)

Dari pengalamannya selama menempuh studi di Hiroshima, pemerintah Jepang membuat alur informasi yang sistematis perihal kebencanaan. Informasi mengenai kebencanaan hanya disalurkan melalui kanal-kanal informasi yang telah ditentukan. Informasi kebencanaan di luar saluran itu, tidak akan dipercaya warga.

Namun hal ini berbeda dengan di Indonesia. Masyarakat lebih banyak mengakses media sosial daripada media pers yang menjalankan standar jurnalistik. Kondisi ini yang kemudian membalik predikat media arus utama yang semula disandang media pers, kini bergeser ke media sosial.

“Sekarang lebih banyak masyarakat yang mengakses media sosial ketimbang media massa yang diklaim sebagai media arus utama, ini harus diakui. Ini berarti media sosial sudah menjadi media arus utama yang dua tiga tahun lalu milik media massa,” kata Muhamad Ridlo, jurnalis Liputan6.com.

Untuk menangkal hoaks, ia mengusulkan agar media massa memperbanyak liputan mendalam. Selain itu, kolaborasi dengan jaringan pengecek fakta juga menjadi penting untuk memerangi hoaks yang menyebar cepat melalui berbagai platform media sosial.

Selain gempa bumi, Kepala Pelaksana Harian BPBD Banyumas, Titik Puji Astuti juga menyoroti risiko bencana alam lainnya di Banyumas. Bencana banjir dan longsor adalah ancaman nyata masyarakat Banyumas.

Menurut dia, ratusan bencana terjadi tiap tahun. Dan itu menempatkan Banyumas sebagai daerah dengan risiko bencana alam tertinggi nomor empat di Jawa Tengah.

"Kami mensosialisasikan mitigasi kebencanaan hingga tingkat desa, melalui komunitas. Dan sekarang, alokasi penanganan bencana juga masuk dalam APBDes," Titik menjelaskan.

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓