Hikayat Kampung Arab Cirebon, dari Sentra Gerabah Kini Tinggal Nama

Oleh Panji Prayitno pada 20 Apr 2021, 03:00 WIB
Diperbarui 20 Apr 2021, 14:04 WIB
Hikayat Kampung Arab Cirebon Dari Sentra Gerabah Kini Tinggal Nama dan Jalan
Perbesar
Suasana kampung Arab Panjunan Kota Cirebon dari sentra gerabah jadi toko elektronik hingga parfum. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Liputan6.com, Cirebon - Peran etnis Arab dan Tionghoa sangat penting dalam perjalanan panjang wilayah Cirebon. Sebagian besar nama tempat dan jalan di Cirebon memiliki sejarah tersendiri. Seperti di kawasan Kampung Arab Panjunan Kelurahan Panjunan Kota Cirebon.

"Panjunan sendiri punya asal usul yang tidak lepas dari pembuat kerajinan tanah liat," kata pengamat seni dan budaya Cirebon, Jajat Sudrajat, Minggu (18/4/2021).

Dua menjelaskan, nama Panjunan berasal dari kata Anjun yang berarti pembuat kerajinan dari tanah liat. Namun, seiring perkembangan zaman, aktivitas kerajinan gerabah sudah ditinggalkan.

Kampung Arab Panjunan Cirebon kini banyak penjual toko elektronik, hingga parfum. Hanya tersisa dua toko yang masih menjual hasil kerajinan gerabah.

"Itu pun kerajinan gerabah dari Desa Sitiwinangun," kata dia.

Jajat mengatakan, segala macam peninggalan sejarah dari kampung Arab Panjunan kini hanya bisa diabadikan dalam sebuah nama tempat atau jalan di area tersebut.

Seperti Gang Warung Bata yang diketahui dahulu sebagai tempat penjual gerabah atau batu bata. Selain itu, Gang Pengobongan yang dahulu dijadikan tempat membakar gerabah.

Dia menyebutkan, selain gerabah, di kawasan Panjunan terdapat bangunan masjid yang usianya di bawah 1480 tahun.

"Mesjid tersebut sampai saat ini masih aktif dan dijadikan salah satu mesjid tertua di Cirebon yang dibangun bangsa Arab di sini," sebut dia.

Seiring berkembangnya zaman, identitas kampung Arab Panjunan Cirebon sebagai kawasan perajin gerabah pun semakin hilang. Satu per satu para perajin pun hilang dan beralih profesi menjadi pedagang.

"Sekarang daerah Panjunan jadi kawasan pertokoan elektronik komupter dan lain-lain bahkan ada juga yang jual parfum. Penjual gerabah hampir tidak ada lagi karena pembangunan di Kota Cirebon dan tanah liatnya tidak ada," sebut dia.

2 dari 3 halaman

Peran Sunan Gunung Jati

Hikayat Kampung Arab Cirebon Dari Sentra Gerabah Kini Tinggal Nama dan Jalan
Perbesar
Masjid Merah Panjunan salah satu peninggalan sejarah di kawasan Kampung Arab Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Filolog Cirebon Rahman Safari Hasyim menuturkan, sejak kedatangan Sunan Gunung Jati di Cirebon, masyarakat Arab juga turut berdatangan untuk berdagang dan menyebarkan Islam.

"Dari semua metode penyebaran Islam yang dilakukan oleh tokoh Arab hanya Sunan Gunung Jati yang banyak disenangi karena penyebarannya santun tidak seperti kelompok Arab lain yang harus berperang," tutur lelaki yang akrab disapa Opan Safari ini.

Dia menuturkan, bangsa Arab pertama kali datang ke bumi Cirebon pada tahu 1418 dipimpin oleh Syekh Idofi Mahdi atau dikenal dengan sebutan Syek Nurjati. Berjumlah 40 orang, rombongan datang ke Cirebon melalui jalur navigasi laut yang dibuat oleh Ceng Ho.

Seiring berjalannya waktu, rombongan keluarga arab Syekh Abdulrahman Al Baghdadi bersama keluarga, adik serta pasukan pengikut datang ke Cirebon membantu Pangeran Cakrabuana dan Syekh Nurjati menyebarkan Islam.

"Kemudian Sunan Gunung Jati datang mengembangkan Islam yang sudah disebarkan sebelumnya dengan metode yang berbeda. Dari situ banyak suku bangsa lain juga datang," tutur Opan.

Kecintaan masyarakat Cirebon maupun etnis lain yang ada di kawasan pantura terhadap Sunan Gunung Jati membuat banyak pendukung. Singkat cerita, Sunan Gunung Jati membagi wilayah berdasarkan suku bangsa yang ada agar tidak menghilangkan tradisi mereka.

Dia menyebutkan, beberapa kawasan yang didominasi warga Arab atau keturunan yakni Panjunan dan Kejaksan. Di kawasan Panjunan, sebut Opan, warga Arab sebagian besar berdagang dan menjadi perajin gerabah.

"Hampir seluruh masyarakat Arab di Panjunan memiliki kerajinan gerabah," sebut dia.

Keberadaan warga Arab di Cirebon dianggap sangat membantu dalam perkembangan ekonomi. Bahkan, selain menyebarkan Islam dan berdagang, banyak bangsa Arab yang juga menikah dengan pribumi.

Tidak sedikit warga Arab yang memilih untuk menetap di Cirebon dan mengembangkan usaha mereka di kawasan pantura. Dia mengatakan, saat itu, kawasan Panjunan termasuk daerah yang aktivitasnya terbilang padat.

"Sehari-hari warga Arab di Panjunan bergelut dengan tanah liat dan kerajinan gerabah untuk dijual ke luar Cirebon," sebut dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini

Lanjutkan Membaca ↓