Hoaks Tsunami Lembata Makan Korban, 2 Meninggal 1 Lainnya Dirawat di RS

Oleh Dionisius Wilibardus pada 18 Apr 2021, 04:00 WIB
Diperbarui 18 Apr 2021, 04:00 WIB
Berita bohong tsunami, warga lari berhamburan keluar rumah. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)
Perbesar
Berita bohong tsunami, warga lari berhamburan keluar rumah. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)

Liputan6.com, Lembata - Berita hoaks, akan terjadi tsunami beredar di tengah masyarakat Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat 16 April 2021.

Informasi bohong akan ada tsunami membuat ratusan warga kota Lewoleba yang tinggal di daerah pesisir pantai Lewoleba termasuk pengungsi lari berhamburan keluar rumah.

Mereka lari dan berusaha mencapai beberapa daerah dataran tinggi di kota Kota Lembata. Mereka ingin berlindung akibat hoaks tsunami tersebut.

Namun tidak bisa dielakkan sebagian besar dari penduduk pada malah hari menciptakan histeria. Nyaris semuanya panik dan membuat mereka kehilangan konsentrasi.

Akibatnya, dua orang meninggal dunia dan satu orang ibu hamil asal desa Waimatan terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Lisa Deram Akamaking (82), lansia dan juga warga desa Lamagute meninggal dunia. Dia tertabrak sepeda motor sewaktu hendak menyeberang jalan.

Nenek Lisa patah tulang di bagian kaki kanan serta beberapa luka di badan. Lansia itu juga sempat dibawa ke rumah sakit namun meninggal dunia.

"Sekitar jam 01.00 lewat. Karena panik mereka sekeluarga lari, dan nenek Lisa Deram Aka Making, ditabrak motor saat menyebrang", kata Wilfridus Usfinit yang juga warga Desa Lamagute, ketika ditemui wartawan di IGD RSUD Lewoleba, Lembata, Sabtu (17/4).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Siapa Tega Sebarkan Hoaks?

berita hoax terkait tsunami, warga Lembata lari menyelamatkan diri di dataran tinggi. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)
Perbesar
berita hoax terkait tsunami, warga Lembata lari menyelamatkan diri di dataran tinggi. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)

Sesaat setelah kejadian, Nenek Lisa sempat dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, namun nyawa lansia 82 tahun itu tidak bisa tertolong dan meninggal pada pukul 06.00 Wita.

Korban kedua, Kristina Lelu (61), warga kelurahan Lewoleba Selatan, yang jatuh dan mengalami syok saat hendak mengamankan diri di ketinggian.

“Saat isu merebak, saya ke rumah untuk lihat mama dan bapa, tapi saat itu rumah kosong sehingga saya mencari di jalan sebelah rumah, saya lihat mama sudah terjatuh” ujar Agus Eleanor, anak kandung korban ketika ditemui di rumah duka, Lewoleba Selatan, Sabtu (17/04) pagi.

Sementara itu, Ayu Wandira (22), ibu hamil asal desa Waimatan juga harus dibopong suaminya ke rumah sakit. Dia juga ditabrak motor.

Atas kejadian tersebut, ibu hamil dua bulan itu dirawat sementara di IGD RSUD Lewoleba. Ayu Wandira tidak mengalami luka berat, dia hanya syok terhadap kejadian tiba-tiba itu.

"Dia bersama suami juga sama, tinggal di kompleks Wangatoa. Saat kejadian mereka mau menyeberang ke jalan tapi kena serempet dan jatuh", sebut Lexi, keluarga Ayu Wandira ketika ditemui wartawan di RSUD Lewoleba, Sabtu (17/4).

Sekretaris Daerah Kabupaten Lembata, Paskalis Ola Tapobali mengatakan menyayangkan berita bohong itu.

"Saya langsung update berita lewat petugas BMKG di Kupang namun tidak informasi terkait tsunami, dan berita tersebut adalah berita hoax. Orang yang tidak bertanggung jawab menyebar berita bohong itu", tegas Paskalis Tapobali, kepada Liputan6.com, Sabtu (17/4/2021) pagi.

Menurut dia, informasi seperti itu adalah hoaks dan sudah merugikan banyak orang termasuk masyarakat dan pemerintah daerah.

Dia berharap masyarakat tetap waspada dan tidak cepat percaya dengan informasi yang diberikan oleh orang atau pihak yang tidak benar sumbernya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by