Virgin Coconut Oil Menjadi Terapi Adjuvan Covid-19 di 4 RS DIY

Oleh Yanuar H pada 16 Apr 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 16 Apr 2021, 16:00 WIB
Pengguna Virgin Coconut Oil
Perbesar
Pengguna Virgin Coconut Oil

Liputan6.com, Yogyakarta Pengobatan Covid-19  dengan memanfaatkan bahan alam atau herbal, termasuk menggunakan virgin coconut oil (VCO) terus dilakukan karena   kandungan dalam VCO yang telah diketahui memiliki aktivitas anti virus yang baik.  dr. Ika Trisawati pakar Pulmonologi FKKMK UGM sekaligus Ketua Tim Airbone Disease RSUP Dr. Sardjito mengatakan pilot studi VCO sebagai terapi adjuvan Covid-19 tengah dilakukan di 4 rumah sakit Yogyakarta yakni  RSUP Dr. Sardjito, RSA UGM, RSUD Wonosari, serta RSUD Sleman. 

“VCO merupakan medium chain fatty acids (MCA) yang mengandung asam laurat diubah menjadi monogliserida monolaurin mempunyai fek antiviral dengan cara menghancurkan membran lipid virus,” jelasnya dalam webinar Uji Klinis dan Penanganan Covid-19 yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Herbal FKKMK UGM, Kamis (15/4/2021).

Ika menjelaskan VCO bekerja seperti pada sabun yaitu merusak membran sel pada virus. Saat VCO masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin yang saat berinteraksi dengan membran sel virus akan merusak lapisan lipid pada sel tersebut sehingga membran sel virus menjadi rusak dan tidak berfungsi.

Ika memaparkan  dalam pilot studi di 4 rumah sakit tersebut menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05) penggunaan VCO dalam menurunkan TNF α pada  kelompok VCO dibandingkan plasebo. Selain itu terdapat penurunan marker inflamasi antara lain CR, ferritin, dan IL6 meskipun tidak signifikan secara statistik.

Temuan lain menunjukkan adanya penurunan D Dimer dan ferritin yang signifikan (p<0,05)baik sebelum maupun setelah intervensi pada kelompok VCO. Lalu, terjadi penurunan CRP, IL6 dan procalcitonin, tetapi tidak signifikan.

“VCO dapat menurunkan marker inflamasi pada penderita Covid-19 sehingga diharapkan dapat mencegah perberatan penyakit,” terangnya.

Sementara Dra. Riri Indriani, dari BPOM, mengatakan Indonesia memiliki potensi bahan alam yang cukup berlimpah dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman. Data Riset Obat dan Jamu mencatat dari spesies tanaman yang ada, 2.848 di antaranya merupakan tumbuhan obat  yang tersebar pada 405 etnis di 34 provinsi.

“Potensi bahan alam Indonesia memberi peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai produk jamu, maupun obat herbal terstandar dan fitofarmaka, termasuk sebagai terapi adjuvan Covid-19,” tuturnya.

Riri mengatakan BPOM telah mendampingi penelitian herbal terkait Covid-19 yaitu ada 15 penelitian yang memanfaatkan bahan alam dengan 2 diantaranya telah selesai menjalani uji klinik. Lalu, 4 penelitian masih dalam tahapan uji klinik, 5 penelitian tahap penyusunan protokol uji klinik, 1 penelitian tahap uji pra klinik, dan 3 penelitian dalam tahap penyusunan protokol uji praklinik. Untuk uji praklinik ditujukan sebagai anti inflamasi, daya tahan tubuh, antipiretik dan anti Covid-19.

Dari pendampingan penelitian itu ada beberapa pembelajaran yang dapat diambil, misalnya, saat uji praklinik  ada kesulitan menemukan hewan model yang bisa menggambarkan patofisiologi Covid-19 pada manusia secara menyeluruh. Sedangkan saat uji klinik juga tidak mudah  dilakukan di kondisi pandemi karena banyak faktor yang mempengaruhi validitas hasil akhir uji klinik.

Persoalan lain yang ditemui seperti ukuran sampel, populasi subjek, hingga kategori subjek. Selain itu manifestasi klinik pasien Covid-19 yang beragam menuntut peneliti lebih cermat dalam menentukan definisi operasional perbaikan gejala klinis.

Mengingat besarnya potensi bahan alam yang ada ia menekankan penemuan dan pengembangan obat herbal perlu terus dikembangkan hingga menuju hilirisasi produk. Dalam pengembangannya perlu dukungan dan sinergi dari berbagai pihak, termasuk dari para akademisi/ perguruan tinggi

“BPOM pun akan selalu hadir mendukung upaya hilirisasi produk obat bahan alam,” imbuhnya.