Tak Ada Internet, Siswa Bertaruh Nyawa di Sungai Wae Mokel Demi Ikut Ujian Online

Oleh Dionisius Wilibardus pada 20 Mar 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 20 Mar 2021, 08:00 WIB
Siswa-siswi dan para guru SMPN Satu Atap Lengko Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, harus bertaruh nyawa menyebrangi arus kali Wae Mokel demi mengikuti ujian try out berbasis digital.(Foto Istimewah)
Perbesar
Siswa-siswi dan para guru SMPN Satu Atap Lengko Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, harus bertaruh nyawa menyebrangi arus kali Wae Mokel demi mengikuti ujian try out berbasis digital.( Foto Istimewah)

Liputan6.com, NTT - Meraih cita-cita di Indonesia bukan perkara mudah. Para siswa SMP Satap Lengko Munda, di Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, NTT, ini misalnya. Mereka dipaksa bertaruh nyawa menyeberangi arus sungai Wae Mokel yang deras demi bisa mengikuti ujian try out berbasis digital. Tak hanya itu, mereka juga harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk bisa sampai ke tempat ujian online. Apalagi medan yang dilalui berlumpur dan licin saat musim hujan.

Perjalanan penuh marabahaya itu terpaksa mereka lakukan, lantaran di Dusun Munda, tempat mereka berada tidak ditemui sinyal internet. Jangankan internet, jaringan telepon saja tidak ada.

Ambrosius Joinarto Robet, salah seorang siswa kelas IX SMPN Satap Lengko Munda menuturkan, ia bersama teman-temannya dari kampung Munda mulai berangkat sekitar pukul 08.00 Wita. Mereka berangkat diantar orangtua masing-masing guna membantu saat menyeberangi Sungai Wae Mokel.

"Kalau tidak dibantu orangtua, bahaya. Arus kali Wae Mokel sangat deras saat musim hujan begini. Setelah kami nyebrang kali, orangtua kembali ke rumah. Kami juga lanjut jalan ke Rana Mbeling," katanya, Kamis (18/3/2021).

Setelah melawan arus Sungai Wae Mokel, Ambrosius menyusuri jalan sempit dan licin di tengah hutan hingga tiba di Kampung Mbata, dari Mbata, mereka lalu naik motor ojek ke Rana Mbeling.

"Kalau dihitung, kami jalan kaki dari kampung Munda sampai Mbata sejauh 5 kilometer. Tambah ke Mbeling 2 kilometer. Jadinya 7 kilometer," katanya.

Ia mengaku perjuangan mereka untuk bisa mengikuti ujian online sangatlah sulit. Namun, demi masa depan yang cerah, tantangan lawan arus kali dan jalan kaki di tengah hutan harus ditaklukan.

Dirinya hanya berharap, pemerintah mau melihat sejenak kesulitan mereka dan memberikan solusi yang nyata. Sehingga pendidikan benar-benar menjadi hak dasar yang bisa dimiliki setiap orang Indonesia tanpa terkecuali.

"Semoga cerita tentang perjuangan kami ini bisa membuka pemerintah. Kami anak-anak sekolah di Munda butuh sinyal dan jaringan internet. Kami ingin seperti anak-anak di wilayah lain. Ikut ujian online di sekolah sendiri. Tidak harus jalan kaki seperti hari ini," ungkapnya.

 

Para siswa dan guru menyusuri jalan tanah yang sempit di tengah-tengah hutan. (Foto Istimewah)
Perbesar
Para siswa dan guru menyusuri jalan tanah yang sempit di tengah-tengah hutan. (Foto Istimewah)

Ignasius Ragu, salah seorang guru SMPN Satap Lengko Munda, membenarkan apa yang dialami para siswanya. Para guru juga ikut merasakan kesulitan itu karena mereka juga harus menemani siswanya mengikuti ujian try out berbasis online.

"Di sekolah tidak ada jaringan internet. Karena di Rana Mbeling jaringan internetnya bagus, kami memilih ke sana. Anak-anak ikut ujian try out di rumahnya kepala sekolah," kata Ignasius.

Dia juga berharap, ke depan pemerintah bisa memasang tower mini khususnya di dekat sekolah, sehingga kegiatan belajar online tidak terhambat.

2 dari 2 halaman

Simak Juga Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓