Belajar Ikhlas dari Petugas Kamar Jenazah, Tanggalkan Rasa Takut Urus Pasien Covid-19

Oleh Dionisius Wilibardus pada 19 Mar 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 19 Mar 2021, 12:00 WIB
Taufik Hasan, petugas kamar jenazah RSUD SK Lerik Kota Kupang. Foto Istimewah
Perbesar
Taufik Hasan, petugas kamar jenazah RSUD SK Lerik Kota Kupang. Foto Istimewah

Liputan6.com, Kupang - Berprofesi dan bekerja di kamar jenazah tidak semua orang bisa menjalankannya. Apalagi, sebagai petugas yang memandikan jenazah pasien covid-19. Mereka harus mematuhi protokol kesehatan untuk pencegahan penularan Covid-19.

Pandemi Covid-19 membuat semua orang meraskan takut akan virus yang membahayakan manusia ini. Namun, bagi seorang yang bekerja sebagai petugas kamar jenazah, tidak ada kata takut dalam menjalankan tugasnya meski jenazah yang diurusnya merupakan orang terinfeksi Covid-19.

Tentunya, bekerja sebagai pemandi jenazah banyak tantangannya pada pandemi Covid-19. Dari risiko tertular penyakit atau virus hingga kejadian-kejadian mistis.

Taufik Hasan, warga Kampung Solor, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menceritakan pengalamannya selama bekerja di kamar jenazah RSUD SK Lerik Kupang, NTT.

Pria yang sudah mengabdi 12 tahun di kamar jenazah ini mengaku sudah memandikan 1.800-an jenazah sejak awal dia bertugas.

Sejak Kota Kupang dilanda pandemi covid-19 tahun 2020, sebanyak 32 pasien positif covid-19 meninggal dunia di rumah sakit ia bekerja. Meski sempat turun pasien Covid-19 yang meninggal dunia, memasuki 2021, angka kematian mulai meningkat lagi.

Bekerja sendiri dari memandikan hingga mengenakan pakaian untuk jenazah sudah menjadi hal biasa bagi pria 40 tahun ini. Ia bahkan tak takut saat menjalankan tugasnya.

"Intinya ikhlas. Kalau bekerja ikhlas, Tuhan pasti selalu menjaga dan menjauhkan kita dari segala macam gangguan," ujarnya, Selasa (18/3/2021).

Baginya, mengurus jenazah harus sama seperti mengurus orang hidup. Karena, ia berkeyakinan meskipun raganya mati, tetapi hati manusia saat mati masih tetap hidup. Hal itu membuat dia selalu menghormati jenazah saat ia menjalankan tugasnya.

"Saya tidak pernah takut. Mau Jenazah biasa atau jenazah covid-19, saya perlakukan sama. Selalu menghormati mereka. Semuanya kembali ke diri kita, intinya selalu ikhlas bekerja," katanya.

Saat mengurus jenazah pada masa pandemi Covid-19, Hasan senantiasa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dua lapis. Proses mengurus jenazah pasien biasa dan pasien covid-19 pun, menurut dia, berbeda.

Ia mengaku sering mengalami hal-hal mistis sejak mengabdi di kamar jenazah. Meski demikian, ia berharap agar pandemi covid-19 segera berlalu.

"Soal mistis selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya seperti apa. Mereka punya dunia lain, saya biarkan saja, jangan ganggu mereka. Pekerjaan ini bagi saya, adalah panggilan," tutupnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Juga Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓