Cerita Kakek Damianus di NTT, Menderita Strok dan Ditinggal Anak-Anaknya

Oleh Dionisius Wilibardus pada 15 Mar 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 15 Mar 2021, 14:00 WIB
Damianus Nembot (60), warga Dusun Tolok, Desa Lenang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, sejak Maret 2020 hingga sekarang menderita stroke. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)
Perbesar
Damianus Nembot (60), warga Dusun Tolok, Desa Lenang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, sejak Maret 2020 hingga sekarang menderita stroke. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)

Liputan6.com, NTT - Malang nian nasib Damianus Nembot (60), warga Dusun Tolok, Desa Lenang, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kakek yang hidup sebatang kara itu sejak Maret 2020 hingga terkena serangan strok. Kaki kanan dan tangan kirinya tak bisa digerakan.

Hal itu membuat Damianus hanya bisa terbaring lemas di tikar usang dan bantal karung bekas yang diisi kapuk di rumahnya. Yang lebih memprihatinkan, lantaran tak bisa berjalan lagi, dirinya kerap membuang air di tikar tempat tidurnya itu. Saat malam hari, ada penerangan lampu sollar sell pemberian tetangga, ia tak punya biaya untuk memasang meteran listrik. 

Sejak menderita strok, kondisi kakek Damianus makin tidak terurus, sang istri tercinta telah lama meninggal dunia. Sementara tiga anak perempuan telah bersuami dan tinggal entah di mana.

Angga Epat, salah seorang kerabat kakek Damianus menuturkan, sejak mulai terserang strok kakek Damianus belum pernah ke rumah sakit untuk diperiksa secara medis.

"Kami semua keluarga ekonomi pas-pas. Semua petani. Mau antar kakak ini ke rumah sakit uang tidak ada. BPJS juga dia tidak punya. Makanya sampe sekarang diam begini saja. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," tutur Angga, akhir pekan kemarin.

Angga mengaku, saat ini, ia bersama keluarga tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan kakek Damianus. Yang mereka bisa bantu sekarang hanyalah memberinya makan dan minum. Itu pun kalau tidak sibuk.

"Kalau kami pergi kerja, berarti dia tunggu tetangga yang baik hati untuk bisa makan. Kalau tidak, biasanya tahan lapar," ungkap Angga.

Lebih menyedihkan lagi, kata Angga, karena tak bisa berjalan, sang kakak membuang air besar dan kecil langsung di tikar yang ia tidur. Kadang keluarga membersihkan. Kadang juga kotoran itu dibiarkan jadi teman tidurnya.

"Sedih memang untuk diceritakan. Tapi ini sudah kenyataan hidup. Mau bilang apa. Kami menunggu keajaiban Tuhan untuk sembuhkan dia," kata Angga.

 

2 dari 3 halaman

Butuh Kursi Roda

Angga mengungkapkan, sejak dulu hingga kini keluarga Damianus belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Baik itu bantuan program keluarga harapan (PKH) maupun sembako. Padahal sebelumnya keluarga Damianus memiliki kartu penjamin sosial (KPS) seperti penerima PKH lainnya.

Beruntungnya, di tengah Pandemi Covid-19, Damianus masuk dalam penerima BLT Dana Desa. Dana itu sedikitnya bisa membantu keberlangsungan hidup Damianus.

Angga pun berharap, ke depan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui dinas terkait agar memasukkan Damianus dalam daftar program PKH dan Sembako.

"Saat ini yang sangat dibutuhkan kakak Damianus adalah kursi roda tongkat. Kalau ada kursi roda dia bisa keluar dari rumah dan ke toilet. Kasian sekali setiap hari duduk dan tidur terus di tikar," ungkap Anggga.

"Semoga saja ada orang-orang baik yang peduli dengan kakak Damianus," sambungnya.

Angga menambahkan, dulunya sang kakak sering keluar kampung untuk membantu orang-orang sakit. Berkat kemampuannya, banyak yang sudah ia sembuhkan di Manggarai Timur dan juga daerah lainnya.

"Yang kami tahu banyak orang yang datang cari dia dan sembuh dari sakit. Banyak juga pejabat dan orang-orang besar lain yang ia sembuhkan," klaimnya.

3 dari 3 halaman

Simak Juga Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓