Penjelasan BMKG Soal Potensi Cuaca Ekstrem di 22 Daerah di Indonesia Sepekan Mendatang

Oleh Arie Nugraha pada 12 Mar 2021, 23:00 WIB
Diperbarui 12 Mar 2021, 23:00 WIB
Cuaca Ekstrem Berpotensi Terjadi Sepekan ke Depan
Perbesar
Awan mendung menggelayut di langit Jakarta, Kamis (1/2). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi curah hujan dari sedang hingga tinggi akan terjadi hingga 1 minggu ke depan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Bandung - Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem bakal terjadi di 22 wilayah Indonesia dalam sepekan mendatang.

Wilayah tersebut antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Selain itu wilayah lain yang mengalami hal serupa, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat serta Papua.

"BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi,” ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto di, Bandung, Kamis (11/3/2021).

Guswanto mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem berupa puting beliung, hujan lebat disertai kilat atau petir dan hujan es. 

Hal itu berdampak dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba tahun ini.

"Hasil analisis dinamika atmosfer-laut dari BMKG menunjukkan bahwa fenomena La Nina masih dapat berlangsung hingga Mei 2021 mendatang dengan intensitas lemah hingga normal," kata Guswanto.

Guswanto menjelaskan kondisi tersebut masih dapat berkontribusi pada peningkatan massa udara basah dan lembab di sekitar wilayah Indonesia. 

Saat ini fenomena Monsun Asia masih cukup aktif yang mengakibatkan aliran massa udara dari wilayah Belahan Bumi Utara (BBU) masih dapat berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan terutama di wilayah Indonesia bagian barat. 

"Monsun Asia mulai memasuki periode pelemahan pada akhir Maret 2021 yang mengindikasikan bahwa periode puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia mulai berakhir," ucap Guswanto. 

Sehingga dapat dikatakan oleh Guswanto, bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021. 

Salah satu ciri umum kejadian cuaca saat periode peralihan musim adalah adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat. 

"Dimana pada pagi-siang umumnya cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik yang diikuti dengan pembentukan awan yang signifkan dan hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang-sore hari," sebut Guswanto. 

 

2 dari 3 halaman

Fenomena Cuaca Ekstrem

Guswanto menambahkan selama periode peralihan musim, terdapat beberapa fenomena cuaca ekstrem yang harus diwaspadai. Seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, puting beliung, waterspout dan hujan es.

Guswanto menerangkan fenomena hujan es merupakan fenomena yang umum terjadi selama periode peralihan musim. Hal tersebut dipicu oleh pola konvektifitas massa udara dalam skala lokal-regional yang lebih signifikan selama periode peralihan musim. 

"Hujan es umumnya dapat terjadi dari sistem awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi dengan kondisi labilitas udara yang signifikan sehingga dapat membentuk kristal es di awan dengan ukuran yang cukup besar," tutur Guswanto.

Guswanto menyebutkan fenomena aliran massa udara turun dalam sistem awan (downdraft ) yang terjadi di sistem awan Cb. Terutama pada saat fase matang dapat menyebabkan butiran es dengan ukuran yang cukup besar, dalam sistem awan Cb tersebut turun ke dasar awan hingga keluar dari awan menjadi fenomena hujan es. 

Kecepatan downdraft dari awan Cb tersebut lanjut Guswanto, cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan butiran es yang keluar dari awan tidak mencair secara cepat di udara. 

"Bahkan sampai jatuh ke permukaan bumi masih dalam bentuk butiran es yang dikenal dengan fenomena hujan es," ungkap Guswanto.

Dalam sepekan mendatang jelas Guswanto, dinamika atmosfer yang diidentifikasi masih dapat berkontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. 

Cirinya adalah teramatinya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik Timur Filipina dan di Samudera Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara. Ini berakibat terbentuknya pola konvergensi dan belokan angin sehingga dapat meningkatkan pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. 

"Hal tersebut diperkuat dengan adanya fenomena Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksikan masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian barat," tukas Guswanto. 

Selain itu kondisi labilitas udara lokal yang signifikan juga dapat meningkatkan potensi konvektifitas dan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. (Arie Nugraha)

3 dari 3 halaman

Simak juga vidoe pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓