Digelar Saat Pandemi Covid-19, Tradisi Omed-omedan Hanya Diikuti 3 Pasangan Muda Mudi

Oleh Dewi Divianta pada 12 Mar 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 12 Mar 2021, 07:00 WIB
20170329-Muda-mudi Rayakan Tradisi Omed-omedan Setelah Hari Raya Nyepi-AP
Perbesar
Sepasang remaja pria dan wanita saling berpelukan saat festival Omed-omedan di Bali, Kamis (29/3). Festival yang dilakukan sehari setelah Hari Raya Nyepi tersebut digelar untuk memupuk persaudaraan pemuda dan pemudi desa. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Liputan6.com, Denpasar - Tradisi Omed-omedan (cium-ciuman) di Banjar Kaja, Sesetan Denpasar akan tetap digelar di tengah situasi pandemi Covid-19. Tradisi yang biasa digelar usai perayaan Hari Raya Nyepi itu akan dilaksanakan tanggal Senin, 15 Maret 2021 aturan pembatasan.

Kelian Adat Banjar Kaja, I Made Sudama mengatakan, keputusan itu ditetapkan setelah melakukan pembahasan dengan pihak adat.

"Berhubung pandemi Covid-19 belum berakhir, untuk tahun 2021, Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOOF) ditiadakan. Akan tetapi untuk tradisi Omedan-omedan tetap diaksanakan, itupun sangat singkat karena kami lebih mengutamakan prosesi ritualnya seperti tahun sebelumnya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang sangat ketat," katanya di Denpasar, Kamis (11/03/21).

"Prosesinya hanya diikuti tiga pasangan, yakni 3 orang laki-laki dan 3 perempuan yang ditunjuk mengikuti prosesi," ujar dia.

Ia menyebut, selain tiga orang pasangan tadi, beberapa pihak juga dilibatkan di antaranya prajuru (pengurus) banjar, Kepala lingkungan, Jro mangku, anak sekaa truna (karang taruna) yang sudah dipilih, para penabuh yang terbatas, serta tenaga medis.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harus Digelar untuk Tolak Bala

"Omed-omedan digelar di dalam banjar tepatnya di depan merajan banjar. "Kita tidak ingin terjadi cluster Covid-19 karena ini (omed-omed)," ujarnya.

Sudama melanjutkan, sebelum acara berlangsung para peserta akan dicek kondisi tubuhnya untuk memastikan kesehatan. Tradisi itu akan dikawal ketat dijaga pecalang dan dan pihak keamanan. "Kami juga tidak ada mengundang karena acara ini tertutup untuk umum, bahkan warga banjar pun kami harapkan tidak datang menonton," ucap Sudama.

Sementara itu, pihaknya menekankan esensi ritual, tradisi yang dilakukan sehari setelah Nyepi saat Ngembak Geni itu digelar sebagai wujud tolak bala. Sebelum pandemi Covid-19 mewabah, tradisi ini merupakan momentum yang ditunggu-tunggu. Bahkan dijadikan semacam gelaran festival.

"Ada kepercayaan di wilayah kami, bagaimana pun kondisinya harus tetap digelar, kami tidak berani meniadakannya," ucapnya.

Di sisi lain, dirinya menuturkan jika tidak digelar, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Walau sejarahnya belum pasti, tetapi disebutkan bahwa omed-omedan ini berasal dari abad ke-17. Lalu, pada tahun 1979, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) meminta acara omed-omedan yang awalnya digelar tepat saat Nyepi, dipindahkan ke hari Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya