Air Kacang, Minuman Tradisional Pereda Panas Dalam Khas Minangkabau

Oleh Novia Harlina pada 25 Feb 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 06:00 WIB
Cincau hijau bahan dasar air kacang. (Liputan6.com/ Rahma)
Perbesar
Cincau hijau bahan dasar air kacang. (Liputan6.com/ Rahma)

Liputan6.com, Padang - Musim kemarau yang melanda Sumatera Barat saat ini bisa berdampak pada kesehatan. Cuaca panas dan terik membuat tubuh rentan mengalami dehidrasi.

Di Sumatera Barat, salah satu minuman yang berkhasiat meredakan panas dalam yakni air kacang. Bagi masyarakat Minangkabau, air kacang juga dikenal dengan sebutan aia tawa atau aia aka.

Bahan dasar air kacang yakni daun cincau hijau, atau dalam bahasa latinnya disebut Cylea barbata myers. Sari pati daun cincau diambil kemudian didiamkan hingga kenyal seperti agar-agar.

Cincau hijau yang sudah kenyal tersebut, kemudian disajikan dengan gula merah yang sudah direbus dan air asam yang diaduk jadi satu.

Awak Liputan6.com mencoba minuman tradisional ini ketika malam tiba setelah lelah beraktivitas seharian. Minuman ini pilihan tepat untuk melepas dahaga dan rasanya juga segar.

Jika Anda tak begitu menyukai rasa asam, maka bisa menggantinya dengan air santan yang telah dimasak, penjual juga menyediakan pilihan tersebut.

Tidak terlalu sulit menemukan pedagang yang menjual minuman ini, terutama di pusat keramaian. Biasanya, penjual menggunakan gerobak dorong.

Salah seorang warga Padang, Ihsan mengatakan ia kerap membeli air kacang setelah lelah beraktivitas seharian, karena setelah meminumnya lambung terasa lebih nyaman.

"Apalagi saat musim kemarau sekarang, rentan sekali kena panas dalam," ujarnya.

Segelas air kacang dibanderol dengan harga cukup murah, sekitar Rp5.000 per gelas. Di Kota Padang, penjual Aia Aka setiap hari mangkal di jalan Imam Bonjol, dekat halte Trans Metro Padang, Jalan Ahmad Yani, Jalan Jati, dan beberapa lokasi lainnya.

2 dari 2 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓