Jokowi Perintahkan Deteksi Dini Karhutla, Dashboard Lancang Kuning Jadi Andalan

Oleh M Syukur pada 24 Feb 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 24 Feb 2021, 13:00 WIB
Polisi memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pelalawan beberapa waktu lalu.
Perbesar
Polisi memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pelalawan beberapa waktu lalu. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Pekanbaru - Presiden Joko Widodo mengumpulkan kapolda dan kepala daerah di Indonesia membahas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Antisipasi dini menjadi penekanan agar tahun ini tidak terjadi bencana kabut asap di daerah rawan kebakaran.

Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Provinsi Riau. Presiden berharap Bumi Lancang Kuning bisa bebas bencana kabut asap seperti tahun lalu berkat kerja sama semua pihak.

Kapolda Riau Irjen Agung Setya Imam Effendi begitu kembali dari Istana Negara menyatakan segera bergerak menindaklanjutinya di lapangan. Dashboard Lancang Kuning masih menjadi andalan karena sudah menekan karhutla tahun lalu.

"Iya, langsung tancap gas, kemudian berkoordinasi dan bersinergi dengan semua pihak dan lebih memaksimalkan lagi penggunaan aplikasi, dalam hal ini aplikasi Dashboard Lancang Kuning," kata Agung di Pekanbaru.

Agung menyebut Dashboard Lancang Kuning sudah menjadi Dashboard Lancang Kuning Nusantara karena efektif serta akurat mendeteksi titik api. Aplikasi ini digunakan berbagai Polda di Indonesia yang rawan karhutla.

"Aplikasi ini memudahkan kita dalam mengelola dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan sebagaimana arahan dan penekanan Presiden," sebut Agung.

Agung menjelaskan, Presiden Jokowi dalam arahannya menyebut pentingnya pemahaman dan kepedulian semua pihak dalam mengendalikan karhutla.

"Presiden memprioritaskan pencegahan dan tidak terlambat dalam menangani titik api," kata Agung.

 

2 dari 3 halaman

Manajemen Gambut

Presiden Jokowi, lanjut Agung, menyebut pentingnya manajemen pelaporan titik api yang terkoordinasi kepada semua pihak. Berikutnya memperbarui kondisi harian dengan memanfaatkan teknologi/dashboard.

Kemudian memantau titik panas ataupun titik api sampai ke petugas paling bawah, seperti melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan masyarakat peduli api untuk mencegah dan menangani karhutla.

"Karena penyebab utama karhutla adalah faktor manusia dengan motif ekonomi," kata Agung menjelaskan arahan Presiden.

Presiden dalam arahannya juga menyebut pentingnya menata ekosistem gambut. Caranya menjaga permukaan gambut tetap basah dan tidak mengering ketika musim kemarau.

Kapolda dan kepala daerah di lokasi karhutla diperintahkan Presiden agar tidak membiarkan api membesar. Petugas di lapangan harus cepat memadamkan api tanpa harus menunggu water bombing.

Presiden menyatakan penggunaan water bombing hanya bila api sudah besar dan tidak terkendali. Pasalnya mengoperasionalkan water bombing memerlukan biaya besar.

"Kemudian penegakan hukum pelaku karhutla dilakukan tanpa kompromi, arahan Presiden segera ditindaklanjuti," tegas Agung.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓