Lansia Boleh Ikut Uji Klinis Vaksin Rekombinan Covid-19 Anhui, Cek Syaratnya

Oleh Huyogo Simbolon pada 18 Feb 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 18 Feb 2021, 18:00 WIB
Ilustrasi Vaksin Virus Corona COVID-19. (File foto: AFP / John Cairns)
Perbesar
Ilustrasi Vaksin Virus Corona COVID-19. (File foto: AFP / John Cairns)

Liputan6.com, Bandung - Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) telah membuka pendaftaran relawan uji klinis fase 3 untuk vaksin rekombinan Covid-19 yang dikembangkan perusahaan farmasi asal Tiongkok, Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical Co Ltd.

Sebanyak 4.000 subjek atau relawan berusia 18 tahun ke atas akan direkrut di Indonesia, 2.000 di antaranya di Kota Bandung. Bagi lansia yang berusia 60 tahun ke atas diperbolehkan mendaftar sebagai relawan.

"Tadinya kan batasan usia relawan (Sinovac) 59 tahun, sekarang ke masyarakat lansia sudah boleh. Di (uji klinis) Anhui untuk lansia sudah bisa ikut," kata peneliti utama uji klinis fase 3 vaksin rekombinan Covid-19 Anhui, Rodman Tarigan saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (18/2/2021).

Rodman menjelaskan, tim peneliti yang merangkap dokter penyakit dalam sudah disiapkan di rumah sakit yang ditunjuk sebagai penyelenggara uji klinis. Untuk Kota Bandung, lokasi penyuntikan uji klinis akan dipusatkan di 6 rumah sakit, antara lain RS Hasan Sadikin, RS Immanuel, RS Advent, RS Al-Ihsan, RS Unggul Karsa Medika, dan RSIA Limijati.

"Jadi nanti kalau ada lansia di atas 60 tahun, di masing-masing rumah sakit itu kami ada dokter tim peneliti di dalamnya. Nanti mereka akan menilai (skrining) seperti yang sudah berlangsung saat uji klinis fase 3 Sinovac," ujarnya.

Dalam proses skrining, relawan dari kalangan lansia akan dimintai keterangan dan dicek kondisi fisik. Syaratnya yaitu harus sehat, belum pernah terpapar Covid-19 itu, dan tidak pernah ikut vaksinasi atau relawan uji klinis vaksin Covid-19.

Selain itu, para dokter dari tim peneliti akan memeriksa tekanan darah dan penyakit yang dimiliki subjek. Nantinya, meski terdapat penyakit, tapi kriteria kesehatannya memenuhi syarat tetap bisa diikutsertakan uji klinis.

"Misal, punya hipertensi tapi terkontrol, punya asma tapi terkontrol. Nanti ditanyakan oleh tim dari dokter penyakit dalam," kata Rodman.

 

2 dari 4 halaman

Relawan Dapat Asuransi Kesehatan

ilustrasi vaksin
Perbesar
ilustrasi vaksin. Photo by Daniel Schludi on Unsplash

Rodman mengatakan, selama menjalani masa pengujian, relawan akan dilindungi oleh asuransi. Dalam pengujian ini pihaknya bekerjasama dengan PT Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967 (Bumida) sebagai pemberi asuransi.

"Asuransi tentu ada, dari Bumida. Asuransi rawat jalan dan rawat inap. Sama dengan yang uji klinis Sinovac, kita wajib mengasuransikan relawannya," katanya.

Menurut Rodman, sejauh ini antusias pendaftar cukup baik. Sebabnya, banyak pendaftar merasa yakin bahwa pandemi Covid-19 bisa dituntaskan melalui vaksin.

"Sudah beberapa yang daftar. Kami pelan-pelan dan juga kami berharap target sampai April ini tercapai," ujarnya.

Pelaksanaan uji klinis rencananya akan dilakukan mulai awal Maret 2021. Pendaftaran relawan sudah dibuka hingga 31 April mendatang.

Terkait pantangan dalam uji klinis, Rodman menegaskan hal itu tidak ada. Namun, selama mengikuti pengujian, para subjek tetap mengikuti anjuran yang diberikan pemerintah termasuk disiplin protokol kesehatan.

"Kita kan ikuti anjuran pemerintah, kalau kata pemerintah jangan keluar rumah kita ikut. Semua anjuran pemerintah pasti kita sampaikan kepada relawan termasuk protokol kesehatan 5M," katanya.

3 dari 4 halaman

Keampuhan Vaksin Anhui

20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Perlu diketahui, Anhui mengembangkan jenis vaksin rekombinan atau sub unit protein. Ini berbeda dengan jenis vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac.

Artinya, platform vaksin ini diambil dari spike glikoprotein atau bagian kecil virus yang akan memicu kekebalan tubuh saat disuntikan ke tubuh manusia. Ini berbeda dengan jenis vaksin Sinovac yang diambil dari virus yang dimatikan.

Secara teori, papar Rodman, vaksin rekombinan menimbulkan daya tahan tubuh lebih lama dibanding virus yang dimatikan. Sebagai contoh vaksin rekombinan Hepatitis B. Berdasarkan hasil penelitian, penyuntikan 3 kali vaksin tersebut akan memberikan kekebalan yang lebih lama.

"Secara teori, vaksin rekombinan bisa menimbulkan kekebalan lebih lama dan memberikan perlindungan lebih lama juga, mungkin bisa sampai 2 tahun. Namun, teori itu harus dibuktikan dengan uji klinis," ujar Rodman dalam keterangan resmi Unpad.

Vaksin rekombinan Covid-19 Anhui sendiri sudah menjalani uji klinis fase 1 dengan mengikutsertakan 50 subyek penelitian dan uji klinis fase 2 dengan 900 subyek penelitian. Hasil dari dua uji klinis ini diklaim aman dan memberikan kekebalan yang tinggi.

Untuk uji klinis fase 3, Unpad sudah dua kali dipercaya sebagai perguruan tinggi penguji klinis fase 3 untuk vaksin Covid-19.

Selain Indonesia, uji klinis fase III vaksin rekombinan Covid-19 Anhui sendiri akan dilakukan di negara Uzbekistan, Ekuador, Pakistan, dan Tiongkok.

Sementara di Indonesia sendiri uji klinis akan dibagi ke dalam dua wilayah, yaitu Jakarta dan Bandung. Kota Bandung sendiri akan mengikutsertakan sebanyak 2.000 relawan.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓